Cari Blog Ini

Senin, 28 Januari 2019

Kamulah Yang Ku Tunggu

Restu telah kami kantongi. kalau dihitung, butuh waktu satu tahun untuk meyakinkan kami. maka pernikahan bukan khayalan lagi. Berbagai persiapan pun kami lakukan dengan maksimal. renacanya, kami akan mengadakan dua pesta pernikahan. Pertama di Jakarta menggunakan pakaian  adat jawa. Kedua, di Manado dengan konsep Princess. Akad nikah akan dilakukan di Masjid Sunda Kelapa, supaya dekat dengan kediamanku. Biaya pernikahan menyesuaikan dengan tabungan kami berdua. Tak akan mewah, mungkin nanti resepsi pernikahan kami digelar di Grand Sahid. Itu pilihan paling realistis dari yang kami siapkan. beragam kebutuhan seserahan sudah kami siapk berdua, termasuk baju pengantin dan keluarga inti. Hanya saja, kehadiran Ariyo membuat persiapan pernikahan kami menjadi rumit, Billy, tak seperti yang ku kenal.

****

Surat pengunduran diriku dari kantor berita telah disetujui Mas Tama. Ia tak menunjukkan ekspresi apa pun, datar. Boleh jadi, ia malah senang karena tak memiliki wartawan yang kerjaannya mengeluh terus. Billy juga mengundurkan diri. Kami sudah sepakat akan membuat project berdua. Persiapannya sudah cukup matang. Banyak rekanan yang siap membantu kami dalam mengkampanyekan ‘AYO BERBAGI’. Kami akan membuat sebuah video berdurasi pendek tentang testimoni dari berbagai kalangan mengenai manfaat berbagi. Langkah konkretnya kami akan menggalang dana untuk membantu masyarakat miskin dan pendidikan sekolah.

“An, besok selesai ketemu investor, kita langsung menuji butiknya Mbak Dian ya, kita sudah ditanyain terus loh kapan fittingnya,” pesan Billy ketika aku keluar dari Lobby Kantor Berita. Ku jawab Ok.

Selanjutnya, aku hari ini sudah ada janji dengan youtubers paling populer di kalangan anak-anak dengan konten squishy nya. Aku tertarik untuk mewancarainya mengenai ‘AYO BERBAGI’. Tak lama menunggu dia menjawab bersedia untuk ku temui. Hanya memang tak bisa sehari-dua hari langsung ketemu. Ini hari kesepuluh dari jadwal pertama aku menghubunginya.

Obrolanku dengan youtubers itu memakan waktu dua jam dan tidak terasa membosankan. Bahkan aku mulai merubah persepsiku, bahwa apa yang aku kenal di video dengan gayanya yang konyol dan terkesan alay, justru obrolan soal politik hingga kemanusiaan, tak bisa diremehkan pengetahuannya. Sebelum aku pamit pulang, aku menghubungi Billy untuk menjemputku.

“Oke, An. Ditunggu, ini di jalan, “ balasnya.

Sampai di rumah, Umi yang membukakan pintu. Billy dipersilakan masuk, ada Abah di dalam. Ini kesempatan Billy untuk belajar agama. Abah memberikan kutipan ayat mengenai tanggungjawab seorang suami. Aku mengulum senyum melihat tatapan Billy yang serius sekali mendengarkan kajian dari Abah. Ku biarkan mereka fokus. Sebaiknya aku meembantu Umi menyiapkan Kebab yang dibelikan Billy. Dia tahu sekali cara memanjakan Abah, dibawakannya makanan kesukaan. Awas saja ya kalau sudah menikah nanti kebiasaan itu tidak dilakukan. Haha

Keesokan harinya, kami jadi menyempatkan untuk fitting baju pernikahan kami. Mbak Dian memang detail memperhatikan aksen Jawa yang kental. Sedangkan untuk baju akad, dia memberikan sentuhan sangat ringan, sederhana, tapi elegan.

“Jangan tambah berat badan ya, An. Biasanya orang habis resign, suka nyemil,” Mbak Dian meledekku.

Dia pikir aku resign dari wartawan berniat leha-leha. Malah jadwal sebelum pernikahan sangat banyak sekali. Tampaknya Allah tahu kalau biaya pernikahan itu tidak murah. Billy bahkan tiga hari ke depan akan ada kontrak untuk pemotretan Iklan minuman.

“Aku malah khawatir dia sakit mbak, makannya gak teratur. Maunya makan kalau sama aku doang,” Billy malah curhat ke Mbak Dian tentang tabiatku akhir-akhir ini. Aku pura-pura tidak mendengarkan saja.

Memang benar, Billy memang tahu aku susah makan. Namun caranya menurutku romantis, tidak dengan berkali-kali chat, melainkan  tiba-tiba menjemputku, memaksaku mengakhiri kegiatan, lalu pergi makan. Kadang dia tak mau mengajakku bicara, langsung mengantarku balik lagi ke lokasi project. Lucu kalau dia sudah bertingkah seperti itu.

Sedang asik bercanda, ada sesosok lelaki bersama seorang perempuan berbaju tanpa lengan. Lamat ku perhatikan, ternyata aku mengenali lelaki tersebut.

ARIYO

Dia pun menatap kaget. Apa yang dia lakukan di sini?

Billy menyadari perubahan sikapku. Dia berbisik, “siapa An?”

“Wow, surprise nih. Ternyata kita satu butik. Aku pikir seorang Ana akan memilih Anne Avantie untuk gaun pernikahannya. Kalau hanya setara dengan aku, sayang dong dulu memutuskan aku. Cowok miskin yang tidak bisa mengajak liburan ke luar negeri. Lalu, tanggal berapa kamu booking gedungnya di Ritz Carlton?” Dia bicara tanpa basa-basi. Bahkan perempuan di sampingnya tampak tak mengerti.

“Kamu ini kenapa Ar, maksudmu butikku murahan?” mbak Dian yang panas duluan.

“Wah, sorry nih Mbak. Kayaknya aku sama Esti batal pesan baju di sini, nanti dibilang orang miskin,” Ariyo semakin memuakkan. Billy sudah bersiap untuk menghajar lelaki itu, tapi tangannya aku tahan.

“Kalau dilihat dari penampilan, calon suamimu kayaknya memang buka  orang kaya ya, An. Wajarlah, mana sanggup mengikuti selera Ana yang high class. Pesan cincin nya juga gak mungkin di Frank & Co. Ayo sayang, kita pergi dari sini. Level kita beda,” Ariyo semakin membusungkan dada.

Aku masih terkejut, penampilannya memang berubah drastis. Memang lebih bersih dibandingkan terakhir aku ketemu waktu SMA. Pekerjaan apa yang membuatnya tampak sukses? Bahkan untuk ukuran Mbak Dian, sebenarnya sudah tergolong butik mahal.

Aku dan Billy pun pamitan dengan Mbak Dian. Meminta maaf atas kejadian yang barusan terjadi. Namun tampaknya Billy bersikap berbeda. Di Mobil wajahnya tegang.

“Kamu ada apa, Bil?” tanyaku. Dia hanya menggeleng.

“Kamu jangan dengerin omongan Ariyo. Dasar orang kaya baru, kelakukannya ya norak begitu,” ucapku.

“An, apa benar kamu pernah memimpikan menikah di Ritz Carlton?” tanya Billy.

“Itu dulu sayang, sekarang ya  sudah, di mana pun kita nikah asal sama kamu, aku bahagia lah,”jawabku.

“Berapa sih An, harga sewa gedung di situ?” Billy masih membahas juga.

“Buat apa tahu, kita gak akan mampu. Sudah deh, jangan aneh-aneh,” aku malah kesal dengan sikapnya Billy.

“Kita gak usah makan dulu, langsung pulang saja. Aku capek,” pungkasku.
Billy tak menjawab lagi.

Di hari berikutnya, Billy semakin tidak banyak memberi kabar. Ketika aku chat pun balasnya singkat. Aku pikir memang kerjaannya sedang tidak bisa diganggu. Fine, aku harus menahan emosiku. Kata orang semakin dekat dengan hari pernikahan, ada saja masalah yang timbul.

Tiga hari berlalu. Sepulang dari project pemotretannya. Dia ke rumah dengan Kebab merek yang sama. Abah tampaknya tak antusias lagi, malah jangan-jangan sudah dianggap kewajiban Billy. Kami ngobrol santai. Abah memuji Billy yang sudah lancar membaca Al-quran. Di akhir obrolan, Billy bicara ke aku.

“Minggu lusa, kita foto prewedding ya,” ucapnya. Aku mengangguk. Ku antarkan dia sampai teras rumah. Ia pun segera mengemudikan mobilnya kembali ke rumah.

****

Hari minggu, aku dijemput Billy menuju lokasi pemotretan. Konsepnya sederhana, adegan-demi adegan menunjukkan aktivitas kerja kita. Dia biasa merekam dan aku menjadi reporter. Kita masih ingin bernostalgia kerja sama di tempat kerja yang lama. Di tengah perjalanan, aku merasakan hal yang ganjil.

“Bil, ini kamu gak nyasar?” tanyaku mengingat lokasinya tidak sejalan dengan apa yang direncanakan di awal.

“Kita pindah, konsepnya tetap sama kok,” jawabnya.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

“Lokasi yang kemarin kurang pas, An,” jawabnya.

Baiklah, aku tak akan memperdebatkannya. Bisa jadi memang Billy memiliki ide baru mengenai tempat.

Sampai di lokasi, aku pun berganti pakaian yang kita siapkan. Tidak ada gambar tentang gaun-gaun atau foto yang pada umumnya dibuat oleh calon mempelai. Hanya saja, aku sangat menyukai periasnya. Tampaknya dia sangat memahami warna kulit dan anatomi wajahku.

“Sudah selesai mbak,” ucap periasnya mengakhiri touch up nya di wajahku.
Selanjutnya aku menghampiri Billy yang lebih dulu sudah menunggu.

“Fotografernya belum datang ya, Bil? Tanyaku.

“Sebentar lagi, An. Kamu semakin cantik ya, gak salah aku ganti periasnya,” ucapnya.
Aku jadi berfikir, diganti?

“Memang rencananya bukan dia?” selidikku.

“Iya, memang harga berpengaruh ya,” jawabnya.
Aku mulai merasa ada yang aneh dengan Billy. Apa yang dia rencanakan sebenarnya? Aku membatin.

“Nah ini datang juga akhirnya,” Billy lalu menyambut kedatangan.. Eh tunggu. Aku kenal ini fotografer. Astaga, ini kan fotografer dari Axioo Photography. Setelah menyapa hangat pada fotografernya. Aku menarik tangan Billy. Ada hal yang harus dijelaskan.

“Ada apa, An?” dia berlagak polos.

“Kenapa kamu gak ngomong kalau fotografernya juga ganti, aku tahu. Kemarin waktu kita cari bareng, bukan pakai jasa mereka,” ucapku.

Sorry, An. Aku ingin ngasih kejutan ke kamu,” ucapnya.

“Bil. Thanks for surprised. But  I think, it’s so expensive, right?” protesku.

“An, aku ada uang. Aku bisa ngasih ini ke kamu,” ucapnya membuatku terkejut.

“Hei, kenapa arah pembicaraanmu soal uang. Kapan aku meremehkanmu soal uang?” kulikku.

“Aku akan berikan segalanya buat kamu, An. Ini proses sekali seumur hidup kan?” dia membela diri.

“Sumpah, aku gak paham kenapa kamu jadi begini,” pungkasku meninggalkannya dia.

Proses pemotretan pada akhirnya memang tetap terlaksana. Gila saja, sudah bayar mahal dibatalkan begtu saja. Bisa jadi semua persiapan yang dibatalkan oleh Billy pun uangnya tidak kembali. Aku berusaha menenangkan diri supaya proses ini tidak sampai gagal. Aku harus tetap melihatnya dari sisi positif, bahwa dia ingin memberikan yang terbaik untuk pernikahan kita.

Persiapan pernikahan semakin dekat. Tak banyak waktu lagi untuk menunda apa yang belum terselesaikan. Aku ingin memastikan bagaimana cincin pernikahan dan sewa gedungnya. Serta konsep resepsi nanti di Manado.

Dua minggu sebelum pernikahan. Billy mengajakku membeli cincin, untuk urusan ini memang tidak ada kesepakatan. Aku menyerahkan sepenuhnya ke Billy. Tetapi justru membuatku kaget. Dia mengajakku ke toko perhiasan Frank & Co.

“Bil. Kamu yakin ke sini. Hei, kamu pernah bilang kalau tabungan kita hanya 800 juta. Are you kidding me?” aku keberatan dengan pilihannya.

Bukannya aku tak pernah membeli perhiasan di toko ini. Tapi melihat kondisi keuangan dia, aku tak percaya kondisinya baik-baik saja.

“Kamu sudah sepakat kan. Apa pun cincin yang akan aku kasih kamu akan pakai,” ucapnya.
Yah, aku tak lagi protes. Harusnya memang aku senang, sama seperti perempuan lain yang langsung berbinar-binar mendapati pasangannya mampu membelikan barang mewah untuknya. Kalau bukan Billy, mungkin lain cerita. Ini Billy, calon suamiku yang ku kenal bagaimana sehari-hari. Bahkan pakaiannnya saja masih jarang yang keluaran brand ternama.

Kegelisahanku memuncak ketika Billy mengabarkan bahwa kita tidak jadi menyewa Hall di Grand Sahid. Di Ritz Carlton masih kosong, segera ia akan memesannya. Aku kali ini tak akan diam.

“Sekarang jelasin!! Kamu mendapatkan uang dari mana selama ini?” tanyaku.

“An, untuk sesuatu hal seumur hidup. Aku tak ingin mengecewakanmu. Aku sayang kamu, tak boleh seorang pun merendahkanmu. Aku ingin mewujudkan semua harapanmu. Aku ingin menjadi lelaki impianmu,” ucapan Billy membuatku tercengang.

Oke. Aku mulai menemukan akar masalahnya. Aku sangat kecewa dengan semua ini. kenapa dia justru tak mengenalku ketika kita akan bersama? Aku pergi meninggalkan dia.

“An…An…An..” dia berteriak memanggilku. Aku tak peduli.

Aku tak langsung pulang. Aku jadi teringat bagaimana dulu aku dan Billy memutuskan untuk bersama. Aku memesan taksi online menuju Café itu.

Aku merenungi semuanya. Aku memang dulu memimpikan pernikahan yang super mewah. Pernikahan seperti putri keraton atau royal wedding kerajaan Inggris. Aku tak menyangkal seandainya Billy bisa melakukan itu, pasti aku akan sangat bahagia. Tapi bukan dengan cara begini? Karena aku mengenal Billy bukan lelaki yang lahir dari keluarga kaya raya. Bahkan kalau aku memang masih berambisi dengan pernikahan mewah itu. Aku bisa menggunakan tabunganku. Tapi aku tetap menghargai dia sebagai lelaki. Aku telah memilihnya dengan segala kekurangan dan kelebihan. Menurutku itu sudah final.

Dalam keheninganku. Tiba-tiba Mas Tama menegurku.

“Hai, An. Sendirian saja?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Aku boleh duduk di sini?” tanyanya. Sekali lagi aku menunduk.

“Kamu lagi berantem dengan Billy?” Mas Tama langsung menebakku.

“Biasalah Mas, lagi persiapan pernikahan,” balasku.

“Gitu ya. Mas dulu ya sama. Ada saja hal tak terduga terjadi pra pernikahan. Apalagi nanti pas menikah. Dulu aku hampir cerai dengan Grace,” ceritanya.

Aku jadi tertarik mendengarkan. Kayaknya Mas Tama ingin aku mendengarkan kisah hidupnya. Ini kesempatan langka juga, mengingat selama ini aku hanya kena marah.

“Kenapa bisa hampir cerai?” tanyaku.

“Biasa An. Kejadiannya abis reuni SMA. Nah, dia kenal sama mantanku. Ternyata bagi dia lebih cantik dan bla..bla..bla.. lah. Aku sampai jengah mendengar ungkapan cemburunya. Hngga dua tahun pernikahan kami, aku mulai tak bisa menerima alasan kecemburuannya. Aku mulai lelah. Aku putuskan untuk mengakhiri rumah tangga kami. Eh ternyata malah dia hamil, gagal deh. Dan sampai sekarang pernikahan kami aman Sentosa. Kecemburuan dia dulu sudah mulai berkurang. Bisa jadi, dia lelah kali ya cemburuan terus. Laki nya ini kan memang mempesona,” ucapnya tanpa beban.

Aku bukannya sedih dengan ceritanya. Malah ingin ketawa mendengar pengakuannya bahwa ia mempesona. Menurutku perempuan mana yang sabar dekat dengan dia yang pedas omongannya.

So?” Mas Tama menatapku.

“Apa?” aku masih belum mengerti maksudnya.

“Kamu duduk sendirian di sini, bukan tanpa maksud kan?” ucapnya.

Aku tersenyum. Mas Tama ternyata menunggu ceritaku. Akhirnya ku ceritakanlah kronologis semuanya. Dia mengangguk paham.

“Kelemahan cowok ya itu, gengsinya gede kalau sudah disinggung soal uang,” responnya.

“Aku harus bagaimana ya Mas?” tanyaku minta pendapat.

“Hubungi saja dia sekarang. Suruh datang ke sini, aku pergi deh,” balasnya langsung bangkit.

Sebelum meninggalkan aku. Mas Tama menyemangatiku untuk kelancaran semuanya.

Aku paham dengan maksud Mas Tama. Dia ingin aku mengajak Billy mengenang awal kita bertemu dan menjalin komitmen. Untungnya dia mau.

Tak menunggu lama. Billy ada di depanku. Wajahnya tampak sendu.

“An. Aku belum bisa ya jadi yang terbaik buat kamu,” ucapnya lesu.

“Memangnya. Menurutmu, apa yang terbaik buatku?” tanyaku.

Dia tampak berfikir. Aku memang tak banyak keinginan, harusnya dia tahu bahwa keinginanku sekarang hanyalah hidup bersama dia. Bukan dengan harta-hartanya, mobilnya, rumahnya, dan semua fasilitas yang dia punya. Untuk apa? Kalau aku sendiri tidak bahagia dengan orangnya.

“Kamu kepikiran apa yang diucapkan oleh Ariyo? Salah besar kalau kamu mendengarkan semua omongannya. Hei, lihat aku, Bil. Ini aku Anna ada di depanmu. Sedang duduk berdua sama kamu, bukan Ariyo, Afdan, atau siapa pun itu masa laluku. You’re my everything, right now! Trust me, kamu percuma memberi segala kemewahanmu sekarang. Apa bedanya kamu dengan orang lain? Justru yang membuatmu spesial itu, kamu telah menerima aku, duniaku, dan semua hal yang aku miliki. Kita berjuang sama-sama menjalani ini. semua itulah yang tidak aku dapatkan dari orang-orang sebelumku,” jelasku sambil memegang tangannya.

“Karena kamu yang ku tunggu, maka milikmu tidak lebih penting dari hadirnya kamu itu sendiri”

Baru kali ini aku melihat Billy matanya berkaca-kaca. Entahlah apa yang barusan aku katakan. Dapat wangsit dari mana sampai ucapanku mampu membuatnya terharu. Tapi semua ucapan itu benar dari dalam hati. Pesta pernikahan sejatinya hanyalah apa yang tampak dari luar, yang dinikmati orang lain, dan menjadi ajang saling berbagi kebahagiaan. Tetapi hal yang terpenting sejatinya adalah aku bersama dia seumur hidup.

Billy lalu memelukku erat. Berkali-kali dia mengucapkan permohonan maaf. Dia menyadari telah melakukan kesalahan. Aku mengerti, walaupun perempuan di luar sana menghujatku dengan kalimat munafiq. Aku tidak peduli, aku telah beruntung mengenal Billy. Aku menunggu orang seperti dia sejak lama dan sekarang ada sedang memelukku. Alhamdulillah…

Kamis, 24 Januari 2019

Genggaman Tanganmu



Banyak perempuan yang mengidamkan mendapat lelaki yang saleh, baik, perhatian, dan selalu mengajak pada kebaikan. Aku juga termasuk salah satunya, itulah kenapa aku menerima Afdan sebagai kekasihku. Selain apa yang ku sebutkan tadi, Afdan termasuk deretan lelaki yang memiliki wajah tampan. Yang terpenting dia tak mempermasalahku yang tidak memakai hijab. “aku tahu kok, menuju ke sana butuh proses,” ucapnya. Hal itu tentu saja membuatku semakin mantap menjalin hubungan serius dengannya. Tapi belakangan dia berubah, semakin dia mengikuti kajian-kajian agama dengan Ustad Youtube. Aku mulai merasakan ketidaknyamanan. Kenapa perasaan ini berubah?

****

“kalian sudah tiba di lokasi?” Redaktur ku mengirimkan pesan.

“belum Mas Tama, ini kami terjebak macet,” balasku.

“Inisiatif naik ojek dong, ini media lain live di sana,” timpalnya.

“Ya Allah mas, ini kalau gak hujan, pasti kita lakukan,” balasku kesal.

“Manja sekali wartawan jaman sekarang,” hardiknya.

Astaghfirullah, ini kalau bukan bos sudah aku maki-maki balik.

“Sudahlah Ana, jangan ditekuk begitu mukanya. Kayak gak kenal Mas Tama saja,” Billy kameraman mencoba menenangkanku. Dia bisa membaca isi chatku. Karena posisi duduknya di sampingku.

Tak hanya media televisi yang sudah live. Media online pun dari semalam sudah memberitakan laporan dari BMKG dan BNPB. Kalau kalian suka buka twitter, maka berita bencana Tsunami Banten sudah menjadi trending topic. Tak ada yang bisa membendung aliran informasi berupa gambar dan tulisan langsung dari warganet mengenai kabar terbaru. Seakan mereka tidak peduli bahwa di dalam mobil ini ada seorang perempuan menahan kesal karena telat liputan. Eh, tunggu!!. Bukan telat, tapi harusnya yang datang ini bukan aku, melainkan Septi. Tapi dia dialihkan untuk liputan ke Donggala. Aku biasanya liputan politik.

Satu jam kemudian, tibalah kami di lokasi bencana. Informasi yang disampaikan oleh BMKG kurang akurat. Ternyata dampak dari gelombang pasang yang kemudian diralat sebagai tsunami tersebut cukup parah menghancurkan penginapan di bibir pantai. Jangan tanya lagi apa nasib orang-orang di dalamnya, hanya kuasa Allah lah yang membuat mereka bisa menyelamatkannya. Seketika aku tertegun, melihat secara langsung untuk pertama kalinya bencana. Rasa kemanusiaanku tergugah ketika ada orang-orang berlarian.

“Ini ada apa Billy?” tanyaku penasaran.

“An, kita amankan diri dulu,” Billy teriak sambil menggenggam tanganku.

“Tsunami..... Tsunami....” begitulah teriakan mereka.

Astaghfirullah, apakah aku akan mati di sini? tiba-tiba aku menyesali keputusanku untuk bersedia mengambil alih tugas ini.

Ku lihat aparat pun tampak berlarian. Kabar ‘burung’ yang beredar ada tanda peringatan tsunami. Kami pun mencari jalan menjauh dari bibir pantai, padahal jalan utama di sepanjang pantai itu berdekatan dengan bibir pantai.

Cukup jauh kami berlari, ternyata informasi tersebut hanya hoaks. Betapa kesalnya aku, wartawan kena tipu. Sial

“Kamu gak Salat dulu An, kayaknya sudah waktunya,” aku menoleh ke Billy. Tak percaya dia mengingatkan hal itu. Kenapa dia peduli dengan salatku, kan dia tidak Salat.

“Hei, malah bengong. Itu ada Mushola. Apa perlu dianterin?” imbuhnya.

“Aku lapar..” malah itu yang keluar dari mulutku. Tapi kan ini tempat bencana, bagaimana bisa mendapatkan makanan, aku langsung sadar diri.

“Ada roti di mobil. Aku ambilkan ya,” tanpa perlu menunggu jawabanku. Dia berjalan menuju mobil yang terparkir cukup jauh. Kesan pertama ku kenal Billy langsung positif. Cowok yang baik, pikirku.

Duh, kenapa aku malah memikirkan dia. Ku lihat jam di tangan, memang waktu salat dzuhur sudah tiba. Sebaiknya aku memang salat dulu sambil menunggu dia balik.
Usai salat, Billy sudah menunggu di teras mushola. Dia menyalakan rokok, aku lalu menghampirinya. “Hai.. kamu perokok ternyata,” sapaku.

“Kenapa? Kamu gak suka ya,” sahutnya lalu mematikan rokoknya.

“Eh, kenapa harus dimatikan? Aku memang tak suka dengan cowok perokok, tapi tidak untuk membatasi hakmu,” ucapku. Dia tersenyum.

“Aku sudah ambil sesisir, kamu makanlah. Lumayan buat ganjal perut kan?” lagi-lagi ia menampilkan senyum manisnya.

Astagfirullah, ini untuk kedua kalinya aku menganguminya.

Di tengah aku mengunyah roti. Ada notifikasi pesan dari Afdan. “Jangan lupa salat, pekerjaan tidak akan menghantarkanmu ke Surga. Aku gak mau dengar ada alasan masih liputan ya,” tulisnya.
Aku tak meresponnya. Memangnya aku ini anak kecil yang harus diingatkan jangan lupa makan, tidurnya jangan malam-malam, salatnya dijaga. Dia itu lebih cerewet dari Umi. Dia selalu membuatku kesal.

“Mas Tama ngasih perintah lagi?” Billy mengalihkanku dari ponsel.

“Eh, enggak. Ini Afdan, pacarku,” jawabku cepat.

Dia hanya ber-ooh.

Segera aku menanyakan bagaimana liputan kita. Billy pun memberikan teknik yang biasa dia lakukan ketika meliput bencana. Setidaknya aku harus memahami bagaimana sudut pandang berita yang ingin ditampilkan. Mas Tama memang sudah memberikan gambaran detail. Tetapi aku butuh sense berita dari pelakunya langsung. Kami pun langsung menuju lokasi dan melakukan peliputan.

****

“Kasian mereka ya, Bill,” aku masih meratapi para korban yang tadi aku lihat secara langsung. Bagi kalian yang baru pertama kali melihat kejadian pedih itu pasti mengalami perasaan yang sama kayak aku.

“Kamu tidak menyesal kan, datang ke sini?” dia malah bertanya perasaanku.

“Enggaklah. Sudah kewajiban kan aku melakukannya,” jawabku.
Untuk kedua kalinya dia ber-ooh. “kenapa, kamu tidak setuju ya?” kulilku.

“Memangnya aku lagi nyebar kuisioner, harus ada setuju dan tidak setuju apa,” timpalnya.
Aku spontan tertawa. Dia bisa bercanda juga.

“Gitu dong, senyum,” ucapnya. Aku langsung mendadak kikuk. Ternyata dia memperhatikan tingkah lakuku.

“Semoga kerja bareng pertama ini gak meninggalkan kesan buruk ya,” ucapku. Dia menatapku senyum.

“Enggaklah, aku orangnya santai kok,” balasnya.
Ternyata balasannya tidak sesuai harapanku. Aku pikir dia akan bilang, aku senang kok bisa liputan bareng sama kamu. Ah, liar sekali ini pikiranku.

Selesai. Aku sampai di rumah jam 10 malam. Tak lupa salat isya sebelum tidur.

***

Hari berikutnya, aku melewati pekerjaan yang sama membosannya dari hari-hari sebelumnya. Aku ditemani Fauzan dalam meliput berita politik. Mendengarkan para pejabat itu berkomentar mengenai banyak hal malah membuatku malas. Mereka ngomongnya tidak tertuju pada sasaran. Malah terkadang mereka sengaja membuat jawaban yang berputar-putar.

Tak lama kemudian, Afdan mengirimkan sebuah link video ceramah agama yang berjudul “Hukum Perempuan Menutup Aurat”. Ini apalagi si Afdan, orang lagi kerja malah dikirimin ceramah agama.

“Apa maksudnya?” tanyaku

“Cuma mau mengingatkan kamu. Tak ada salahnya kan mengingatkan dalam kebaikan,” balasnya.

“TERIMA KASIH,” balasku.

“Nanti pulangnya aku jemput ya,” lanjutnya.

“Aku diminta standby sampai malam loh sama bos, yakin mau nunggu?” balasku.

“Buat kamu, apa sih yang enggak,” balasnya.

Aku bukannya senang, malah ingin muntah. Semenjak Afdan ikut kajian-kajian begitu, sikapnya semakin membuatku tidak nyaman. Dia sering sekali mengirimkan konten-konten ceramah yang sejatinya sudah aku pelajari sejak sekolah dasar. Abah dan Umi kan menyekolahkanku di sekolah berbasis agama.

“Kamu kenapa?” tiba-tiba Fauzan sudah di depanku.

“Eh, sudah siap buat live?” tanyaku.

“Gak jadi. Kamu memang gak baca grup WA?” tanyanya.

Baru juga tidak memantau grup, aku sudah ketinggalan informasi penting. Ternyata kami disuruh segera kembali ke kantor. Ada rapat penting.

Dua jam perjalanan, tibalah kami di kantor. Menaiki lift menuju lantai 5, tempat kami bertugas. Mas Tama sudah ada di ruang rapat bersama beberapa pimpinan lainnya.

Aku menuju toilet sebentar untuk buang air sekaligus merapikan rambutku dan wajah yang mulai berminyak. Sebelum masuk toilet aku berpapasan dengan Billy.

“Kamu dapat undangan rapat juga?” tanya Billy.

“Eh iya, Bil. Ngomong-ngomong rapat apaan sih?” tanyaku.

“Kita lihat saja nanti. Sana mukanya di wudhu in dulu, biar cerah,” ujarnya.

Dia lalu pergi tanpa menunggu responku lagi. Aku tak menyangka dia akan mengucapkan hal seperti itu. Bagaimana dia sampai memiliki pengetahuan bahwa wudhu bisa mencerahkan wajah?
Ah daripada aku memikirkan dia, sebaiknya memang aku harus segera merapikan diri.

Ketika aku masuk di ruang rapat, tinggal ada satu bangku. Artinya aku yang paling terakhir masuk. Sial, semua mata memandangku. Apakah aku lama ditunggu oleh mereka. Aku berbisik ke Fauzan yang ada di sebelahku.

“Tenang, kamu gak datang terlambat kok. Mereka memang belum mau memulai” jawaban Fauzan menenangkanku.

Mas Tama sudah bersiap untuk bicara. Tangannya diletakkan di atas meja. Ia membenarkan kacamata. Semua peserta rapat seakan terhipnotis untuk memperhatikan ke pimpinan rapat.

“Aku tak mau basa-basi ke kalian. Bambang, silakan disebar itu kertas yang kamu fotocopi tadi,” ucapnya.

Tak butuh waktu lama, Bambang sudah mengedarkan ke semua peserta rapat.

“Silakan dibaca!! rapat selesai,” balasnya.

Aku tercengang dengan hal yang sangat ganjil ini. Dia menyuruh kami semua datang ke kantor hanya untuk menyerahkan selembar kertas. Apa dia tidak memiliki ponsel yang canggih hanya untuk membagikan di masing-masing kontaknya atau kalau terlalu lama bisa langsung dibagikan di grup WA.

Setelah ku buka lembaran yang dibagikan. Aku tambah kesal ternyata aku dipindahkan ke Bidang Hukum dan HAM.

“Mas, kamu yakin nempatin aku di sini?” spontan aku berteriak. Mas Tama yang sudah hampir menutup pintu, ia tahan.

“Kalau mau resign, malam ini surat bisa langsung dikirimkan. Sebulan kemudian, kamu bebas dari pekerjaan ini, mudah kan?” ucapnya tanpa rasa bersalah.
Aku menunduk lesu. Semua mata menatapku tak suka. Mungkin batin mereka, berani sekali aku melawan keputusan Mas Tama. Liputan di politik saja aku sudah pusing, apalagi ini nanti berbicara pasal-pasal dan mengartikan putusan pengadilan.

Satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan. Fauzan pun pamit kepadaku dengan ekspresi datar. Dia pun mungkin tak suka dengan keputusan Mas Tama. Aku menyadarkan kepalaku ke kursi. Rasanya sudah tak sanggup dengan lingkungan kerja yang penuh tekanan seperti ini.

“Aku pikir kamu akan senang, ternyata kita satu tim,” Billy tiba-tiba sudah duduk di dekatku.
Mendengar begitu, aku langsung mengecek tabel yang bawah. Ternyata benar, Kameraman yang menjadi rekan kerjaku adalah Billy. Entah kenapa perasaanku jadi lega. Belum sempat aku menanggapi obrolannya. Telepon dari Afdan sudah berdering di ponselku.

“Kamu sudah selesai?”

“Iya, ini barusan selesai. Kamu di mana?”

“Maaf ya An, aku baru berangkat. Tadi gak enak diajak temanku ikut kajian sebentar. Ternyata…”

“Oke aku tunggu ya,” aku mengakhiri panggilannya sebelum dia selesai bicara. Aku sedang tak ingin membahas aktivitasnya yang rajin sekali ikut kajian-kajian itu.

“Kamu ngapain masih di sini?” tanyaku ketus ke Billy.

“Hei, aku pikir kamu butuh teman ngobrol. Minimal kasih nomor WA mu, kita kan akan satu tim,” ucapnya.

“Oh iya, aku hampir lupa ya, sekarang kita akan satu tim,” responku tak menjawab omongannya.

“Jadi, mau ke Café depan? Segelas es cokelat bisa jadi menenangkan pikiran kesal,” ia mencoba merayuku.

Aku mengiyakan. Ku cari tali rambutku di tas. Tampaknya aku sudah tak nyaman menggerai rambut lagi. Aku pikir lumayan untuk mengurangi kejenuhan menunggu Afdan datang.

Di Café, Billy yang sering banyak berbicara. Ia menceritakan pengalaman hidupnya berkarir. Ia sempat kerja di Bank, Marketing, dan terakhir sebagai Kameramen. Ini bukanlah pekerjaan yang diinginkan. Ia merasa terjebak dalam hobi yang memang sejak lama ia lakukan. Suka membuat video dokumenter ketika di SMA atau pun ketika di Kampus.

“Tapi kayaknya kamu enjoy begitu, Bil?” kulilku.

“Susah sih jelasinnya kalau kamu gak mendapatkan pengalaman sendiri,” Billy masih menyimpan rahasia.

Belum sempat aku megulik lebih banyak pertanyaan ternyata Afdan sudah tiba. Aku pamit ke Billy. Namun sebelum aku beranjak pergi. Billy mengatakan sesuatu.

“Kita akan tetap satu tim kan?” ucapnya.
Ternyata dia masih memikirkan omonganku soal rencana resign dari profesi ini. Memang niatan itu sudah mantap. Tapi entah kenapa aku jadi termotivasi mendengar jawaban Billy bahwa aku harus menemukan pengalaman yang membuatku kenapa Allah memberikan rezeki di Wartawan.

“Sampai jumpa besok,” balasku tak menjawab keingintahuannya.

****

Tak ada yang resign. Liputan demi liputan dilalui dengan suka duka yang tetap sama. Aku bahkan semakin tak ada waktu untuk bersama Afdan. Dia sering sekali melakukan video call ketika aku sedang liputan. Tentu aku tak enak sama Billy atau teman-teman yang lain.
Sehari bisa tiga kali pindah lokasi, usai liputan atas putusan pengadilan mengenai tindak pidana narkoba, aku mendapat bahwa ada operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh KPK terhadap Pejabat Tinggi di Kementerian Hukum dan HAM. Ternyata tidak ada jeranya setelah beberapa bulan yang lalu sudah sempat tangkap tangan.

Kasus Hukum ternyata bervariasi. Hingga akhirnya aku bisa mengambil kesimpulan bahwa pejabat tidak akan pernah puas digaji berapa pun selama mental mereka untuk tidak korupsi belum dihilangkan. Apalagi terkait pembunuhan, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan manusia, hingga pelanggaran HAM. Hingga suatu ketika ada seseorang yang menghampiriku.

“Mbak sudah lama kerja begini?” tanya seorang ibu berusia renta.

“Lumayan Bu, ada apa?” tanyaku penasaran.

“Enak ya mbak, bisa menolong orang banyak. Hanya dengan pintar berbicara dan sebuah kamera telah mencerahkan seluruh Indonesia atas informasi yang disebar. Membuat semua ibu lebih berhati-hati menjaga anaknya,” ucap ibu tersebut tampak polos.

Aku tertegun. Menolong orang banyak? Selama ini aku tidak pernah memikirkan sampai ke sana. Aku hanya bekerja dan mendapatkan gaji. Selama ini pekerjaan yang aku benci ternyata membuat manfaat bagi orang banyak. Ah, semua pekerjaan pun kan pasti bermanfaat bagi orang banyak.
Tukang sayur misalnya, dia menjual dagangan yang kemudian dimasak dan dinikmati oleh anggota keluarga di sebuah kompleks. Polisi menjaga lalulintas, dokter menyembuhkan orang sakit, dan guru telah berjasa mencerdaskan kehidupan bangsa. Lalu apa bedanya?

Pertanyaan itu belum bisa terjawab atas pernyataan ibu tersebut hingga sebuah momen aku memperhatikan Billy menghampiriku menunjukkan selembar kertas undangan yang menunjukkan bahwa liputan yang kami lakukan terkait kasus penculikan dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur.

“Ini apa?” tanyaku berlagak tak mengerti.

“Sorry, aku tidak mengatakan ini sebelumnya. Aku ragu bahwa ini akan diterima dan menang, ternyata keraguanku salah, kamu melakukan yang terbaik yang tak hanya untukmu atau untukku, melainkan semua emak-emak yang menyukai konten kita,” balasnya.
Aku masih sulit merespon. Apa maksud semua ini?

“Oh iya, aku hampir lupa. Waktu liputan tempo lalu, ada seorang ibu menitipkan ini untukmu. Aku belum membuka isinya,” balasnya.

“Makasih Bill,” jawabku.

“Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya.

“I’m Fine. Aku balik dulu ya,” ucapku berusaha menghindari tatapannya.

“An, kamu bisa cerita ke aku kalau butuh pendengar yang baik,” tak bisa ku hindari bahwa ia tahu aku ada masalah. Tanpa bisa ku tahan, aku menghampur ke pelukannya. Hingga tanpa sadar bahwa kita sedang di koridor kantor.

Sorry..Sorry… aku gak ber…” aku tak kuasa melanjutkan omonganku.

I’m Fine, An. Kamu terbebani ya dengan pekerjaan ini? Kali ini aku gak akan lagi menahanmu untuk bertahan dengan pekerjaan ini. Lupakan tentang penghargaan itu, lupakan agenda-agenda liputan kita, maaf kalau kamu jadi sering bertengkar dengan pacarmu gara-gara lebih banyak waktu denganku” dia berbicara tanpa bisa ku potong. Aku hanya menggelengkan kepala.

“Kamu mau aku cerita di sini, yakin?” ucapku mencoba memberi kode supaya kita Pindah tempat. Dia terkekeh.

Sikap Billy jauh berbeda dengan Afdan. Perhatian yang diberikan oleh Billy tidak membuatku jadi rendah diri atau merasa tersisihkan. Justru dia jarang memberikan kata-kata manis atau motivasi. Setiap perbuatannya lah yang membuatku nyaman berada di dekatnya. Misalnya, liputan tentang kasus pemerkosaan dan kekerasan anak yang akhirnya kita mendapat penghargaan dari asosiasi wartawan, dialah yang lebih banyak memberikan arahan dibandingkan Mas Tama yang hanya bisa ngomel-ngomel. Tak banyak bicara, dengan berbagai kode gerakan tangan, aku mengerti maksudnya. 

Astaghfirullah, aku sudah memujinya berlebihan. Ingat, An!! Ada dinding batas yang cukup tebal di antara kalian. Jangan sampai kamu jatuh cinta pada dia. Kamu sekarang hanya patah hati karena baru saja putus dengan Afdan.

“Jadi, kalian udahan?” kulik Billy ketika aku selesia menceritakan nasib hubunganku dengan Afdan.
“Aku bukan cewek baik-baik ya, Bil?” tanyaku tak berani menatapnya.

“Definisi baik-baik itu bagaimana ya? Jika baik-baik itu adalah membuat orang lain justru takut mendekat, takut bertanya, dan enggan menerima nasehatnya, maka itu baik-baik yang hanya untuk dirinya,” Billy mengatakan sesuatu yang membuatku malah sulit dipahami.

“Bingung ya?” tampaknya dia paham kebingunganku.

“Eh, bentar. Aku mau tanya,” tiba-tiba aku teringat akan sesuatu yang mengganjal selama ini. Dia lalu menatapku fokus.

“Apa kamu berhenti merokok?” tanyaku.

“Lagi berusaha,” jawabnya.

“Demi apa? Apa gara-gara satu tim kerja denganku?’ selesai mengucapkan itu baru ku sadari bahwa pertanyaan itu suatu kelancangan. Aku terlalu percaya diri untuknya.

“Bukanlah..’ jawabnya cepat.

Aku tak menyangka ternyata jawabannya bukan.

“Tapi, aku melakukannya lebih dari sekedar untuk bisa kerja bareng dengan dia, aku ingin menjadi seseorang yang penting buat dia,” pernyataannya itu cukup jelas ditelingaku.

Astagfirullah, apa yang harus ku lakukan sekarang. Apakah Billy tidak sadar bahwa ucapannya itu bisa membuatku semakin galau. Aku dan dia kan…

Belum selesai aku berjibaku dengan pikiran sendiri. Billy meneruskan kalimatnya.

“Sejujurnya An, aku sudah kenal kamu sejak lama. Kita kan satu angkatan masuk kerjanya. Cuma mungkin kamu tidak begitu menghafalku. Aku melihat sosok kamu yang beda dengan lainnya. Beberapa kali aku melihatmu menyempatkan ibadah di sela-sela kerjaan. Kabar dari teman-teman juga memiliki kesimpulan yang sama. Semenjak itulah aku ingin belajar Islam,” jelasnya. Kalimat ini membuat hatiku bergemuruh, merinding, ada semacam haru yang susah untuk dijelaskan.

“Maaf ya, aku yang meminta ke Mas Tama untuk mengatur supaya kita satu tim,” lanjutnya. Ini hal yang tidak aku duga. Ternyata Billy telah mempersiapkan semuanya.

“Sayangnya, aku belum berhasil membuatmu menyukai pekerjaan ini,” lanjutnya.

“Hei, siapa bilang?” sela ku.

“Kenapa kamu merasa gagal, jika dengan menjalani, kamu telah berhasil melakukannya. Gagal atau berhasil menjadi tidak penting ketika kamu mencintai pekerjaanmu. Karena cinta akan membuatmu mau berusaha lagi dan lagi”

Billy tampak sumringah mendengar kalimatku. Dia selayaknya telah berhasil membawaku ke dalam situasi yang sulit ku terima menjadi tetap ingin dijalani. Pekerjaan wartawan memang belum berhasil memikatku.  Berbeda dengan orang yang ada di depanku. Dia tampaknya berhasil membuatku memantapkan pilihan hidup.

Dia menggenggam tanganku. Ini genggaman yang nyata, bukan lagi frasa dari membimbingku.
“An, aku boleh tanya satu hal?” aku mengangguk.
“Apa alasanmu tidak mengenakan hijab?” tanyanya.

“Aku tidak ingin dinilai baik oleh manusia. Jika dengan aku rajin Salat, semua orang masih memujiku baik. Aku khawatir, dengan mengenakan hijab, bukan malah memperbaiki ketaatanku pada-Nya. Melainkan menimbulkan rasa ujub, aku lebih baik dari mereka yang tidak berhijab”

Billy semakin mempererat gengamannya. “Ini Ana yang ingin aku kenal selamanya. Islam yang kamu tampilkan bukan yang membuatku menjauh. Malah membuatku ingin mendekat dan mengenalnya lebih. Apakah kamu mengizinkan aku menjadi bagian dari hidupmu?” Billy berkata mantap. Baru malam ini dia bicara banyak. Alhamdulillah ya Allah, ternyata engkau memberiku kesempatan menjadi perantara hidayah-Mu.

“Sekarang aku tahu, bukan perasaanku yang berubah. Pilihanku tetap sama, mencintai lelaki yang saleh, baik, perhatian, dan membawa kita pada kebaikan. Hanya saja ada di diri orang yang berbeda”