Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Kamulah Yang Ku Tunggu

Gambar
Restu telah kami kantongi. kalau dihitung, butuh waktu satu tahun untuk meyakinkan kami. maka pernikahan bukan khayalan lagi. Berbagai persiapan pun kami lakukan dengan maksimal . renacanya, kami akan mengadakan dua pesta pernikahan. Pertama di Jakarta menggunakan pakaian   adat jawa. Kedua, di Manado dengan konsep Princess. Akad nikah akan dilakukan di Masjid Sunda Kelapa, supaya dekat dengan kediamanku. Biaya pernikahan menyesuaikan dengan tabungan kami berdua. Tak akan mewah, mungkin nanti resepsi pernikahan kami digelar di Grand Sahid. Itu pilihan paling realistis dari yang kami siapkan. beragam kebutuhan seserahan sudah kami siapk berdua, termasuk baju pengantin dan keluarga inti. Hanya saja, kehadiran Ariyo membuat persiapan pernikahan kami menjadi rumit, Billy, tak seperti yang ku kenal. **** Surat pengunduran diriku dari kantor berita telah disetujui Mas Tama. Ia tak menunjukkan ekspresi apa pun, datar. Boleh jadi, ia malah senang karena tak memiliki wartawan ya

Genggaman Tanganmu

Gambar
Banyak perempuan yang mengidamkan mendapat lelaki yang saleh, baik, perhatian, dan selalu mengajak pada kebaikan. Aku juga termasuk salah satunya, itulah kenapa aku menerima Afdan sebagai kekasihku. Selain apa yang ku sebutkan tadi, Afdan termasuk deretan lelaki yang memiliki wajah tampan. Satu hal penting yang menjadi entry poin t ku adalah  dia tak mempermasalahku yang tidak memakai hijab. “aku tahu kok, menuju ke sana butuh proses,” ucapnya. Hal itu tentu saja membuatku semakin mantap menjalin hubungan serius dengannya. Tapi belakangan dia berubah, semakin dia mengikuti kajian-kajian agama dengan Ustad Youtube. Aku mulai merasakan ketidaknyamanan. Kenapa perasaan ini berubah? **** “kalian sudah tiba di lokasi?” Redaktur ku mengirimkan pesan. “belum Mas Tama, ini kami terjebak macet,” balasku. “Inisiatif naik ojek dong, ini media lain live di sana,” timpalnya. “Ya Allah mas, ini kalau gak hujan, pasti kita lakukan,” balasku kesal. “Manja sekali wartawan