Cari Blog Ini

Kamis, 24 Januari 2019

Genggaman Tanganmu

Banyak perempuan yang mengidamkan mendapat lelaki yang saleh, baik, perhatian, dan selalu mengajak pada kebaikan. Aku juga termasuk salah satunya, itulah kenapa aku menerima Afdan sebagai kekasihku. Selain apa yang ku sebutkan tadi, Afdan termasuk deretan lelaki yang memiliki wajah tampan. Yang terpenting dia tak mempermasalahku yang tidak memakai hijab. “aku tahu kok, menuju ke sana butuh proses,” ucapnya. Hal itu tentu saja membuatku semakin mantap menjalin hubungan serius dengannya. Tapi belakangan dia berubah, semakin dia mengikuti kajian-kajian agama dengan Ustad Youtube. Aku mulai merasakan ketidaknyamanan. Kenapa perasaan ini berubah?

****

“kalian sudah tiba di lokasi?” Redaktur ku mengirimkan pesan.

“belum Mas Tama, ini kami terjebak macet,” balasku.

“Inisiatif naik ojek dong, ini media lain live di sana,” timpalnya.

“Ya Allah mas, ini kalau gak hujan, pasti kita lakukan,” balasku kesal.

“Manja sekali wartawan jaman sekarang,” hardiknya.

Astaghfirullah, ini kalau bukan bos sudah aku maki-maki balik.

“Sudahlah Ana, jangan ditekuk begitu mukanya. Kayak gak kenal Mas Tama saja,” Billy kameraman mencoba menenangkanku. Dia bisa membaca isi chatku. Karena posisi duduknya di sampingku.

Tak hanya media televisi yang sudah live. Media online pun dari semalam sudah memberitakan laporan dari BMKG dan BNPB. Kalau kalian suka buka twitter, maka berita bencana Tsunami Banten sudah menjadi trending topic. Tak ada yang bisa membendung aliran informasi berupa gambar dan tulisan langsung dari warganet mengenai kabar terbaru. Seakan mereka tidak peduli bahwa di dalam mobil ini ada seorang perempuan menahan kesal karena telat liputan. Eh, tunggu!!. Bukan telat, tapi harusnya yang datang ini bukan aku, melainkan Septi. Tapi dia dialihkan untuk liputan ke Donggala. Aku biasanya liputan politik.

Satu jam kemudian, tibalah kami di lokasi bencana. Informasi yang disampaikan oleh BMKG kurang akurat. Ternyata dampak dari gelombang pasang yang kemudian diralat sebagai tsunami tersebut cukup parah menghancurkan penginapan di bibir pantai. Jangan tanya lagi apa nasib orang-orang di dalamnya, hanya kuasa Allah lah yang membuat mereka bisa menyelamatkannya. Seketika aku tertegun, melihat secara langsung untuk pertama kalinya bencana. Rasa kemanusiaanku tergugah ketika ada orang-orang berlarian.

“Ini ada apa Billy?” tanyaku penasaran.

“An, kita amankan diri dulu,” Billy teriak sambil menggenggam tanganku.

“Tsunami..... Tsunami....” begitulah teriakan mereka.

Astaghfirullah, apakah aku akan mati di sini? tiba-tiba aku menyesali keputusanku untuk bersedia mengambil alih tugas ini.

Ku lihat aparat pun tampak berlarian. Kabar ‘burung’ yang beredar ada tanda peringatan tsunami. Kami pun mencari jalan menjauh dari bibir pantai, padahal jalan utama di sepanjang pantai itu berdekatan dengan bibir pantai.

Cukup jauh kami berlari, ternyata informasi tersebut hanya hoaks. Betapa kesalnya aku, wartawan kena tipu. Sial

“Kamu gak Salat dulu An, kayaknya sudah waktunya,” aku menoleh ke Billy. Tak percaya dia mengingatkan hal itu. Kenapa dia peduli dengan salatku, kan dia tidak Salat.

“Hei, malah bengong. Itu ada Mushola. Apa perlu dianterin?” imbuhnya.

“Aku lapar..” malah itu yang keluar dari mulutku. Tapi kan ini tempat bencana, bagaimana bisa mendapatkan makanan, aku langsung sadar diri.

“Ada roti di mobil. Aku ambilkan ya,” tanpa perlu menunggu jawabanku. Dia berjalan menuju mobil yang terparkir cukup jauh. Kesan pertama ku kenal Billy langsung positif. Cowok yang baik, pikirku.

Duh, kenapa aku malah memikirkan dia. Ku lihat jam di tangan, memang waktu salat dzuhur sudah tiba. Sebaiknya aku memang salat dulu sambil menunggu dia balik.
Usai salat, Billy sudah menunggu di teras mushola. Dia menyalakan rokok, aku lalu menghampirinya. “Hai.. kamu perokok ternyata,” sapaku.

“Kenapa? Kamu gak suka ya,” sahutnya lalu mematikan rokoknya.

“Eh, kenapa harus dimatikan? Aku memang tak suka dengan cowok perokok, tapi tidak untuk membatasi hakmu,” ucapku. Dia tersenyum.

“Aku sudah ambil sesisir, kamu makanlah. Lumayan buat ganjal perut kan?” lagi-lagi ia menampilkan senyum manisnya.

Astagfirullah, ini untuk kedua kalinya aku menganguminya.

Di tengah aku mengunyah roti. Ada notifikasi pesan dari Afdan. “Jangan lupa salat, pekerjaan tidak akan menghantarkanmu ke Surga. Aku gak mau dengar ada alasan masih liputan ya,” tulisnya.
Aku tak meresponnya. Memangnya aku ini anak kecil yang harus diingatkan jangan lupa makan, tidurnya jangan malam-malam, salatnya dijaga. Dia itu lebih cerewet dari Umi. Dia selalu membuatku kesal.

“Mas Tama ngasih perintah lagi?” Billy mengalihkanku dari ponsel.

“Eh, enggak. Ini Afdan, pacarku,” jawabku cepat.

Dia hanya ber-ooh.

Segera aku menanyakan bagaimana liputan kita. Billy pun memberikan teknik yang biasa dia lakukan ketika meliput bencana. Setidaknya aku harus memahami bagaimana sudut pandang berita yang ingin ditampilkan. Mas Tama memang sudah memberikan gambaran detail. Tetapi aku butuh sense berita dari pelakunya langsung. Kami pun langsung menuju lokasi dan melakukan peliputan.

****

“Kasian mereka ya, Bill,” aku masih meratapi para korban yang tadi aku lihat secara langsung. Bagi kalian yang baru pertama kali melihat kejadian pedih itu pasti mengalami perasaan yang sama kayak aku.

“Kamu tidak menyesal kan, datang ke sini?” dia malah bertanya perasaanku.

“Enggaklah. Sudah kewajiban kan aku melakukannya,” jawabku.
Untuk kedua kalinya dia ber-ooh. “kenapa, kamu tidak setuju ya?” kulilku.

“Memangnya aku lagi nyebar kuisioner, harus ada setuju dan tidak setuju apa,” timpalnya.
Aku spontan tertawa. Dia bisa bercanda juga.

“Gitu dong, senyum,” ucapnya. Aku langsung mendadak kikuk. Ternyata dia memperhatikan tingkah lakuku.

“Semoga kerja bareng pertama ini gak meninggalkan kesan buruk ya,” ucapku. Dia menatapku senyum.

“Enggaklah, aku orangnya santai kok,” balasnya.
Ternyata balasannya tidak sesuai harapanku. Aku pikir dia akan bilang, aku senang kok bisa liputan bareng sama kamu. Ah, liar sekali ini pikiranku.

Selesai. Aku sampai di rumah jam 10 malam. Tak lupa salat isya sebelum tidur.

***

Hari berikutnya, aku melewati pekerjaan yang sama membosannya dari hari-hari sebelumnya. Aku ditemani Fauzan dalam meliput berita politik. Mendengarkan para pejabat itu berkomentar mengenai banyak hal malah membuatku malas. Mereka ngomongnya tidak tertuju pada sasaran. Malah terkadang mereka sengaja membuat jawaban yang berputar-putar.

Tak lama kemudian, Afdan mengirimkan sebuah link video ceramah agama yang berjudul “Hukum Perempuan Menutup Aurat”. Ini apalagi si Afdan, orang lagi kerja malah dikirimin ceramah agama.

“Apa maksudnya?” tanyaku

“Cuma mau mengingatkan kamu. Tak ada salahnya kan mengingatkan dalam kebaikan,” balasnya.

“TERIMA KASIH,” balasku.

“Nanti pulangnya aku jemput ya,” lanjutnya.

“Aku diminta standby sampai malam loh sama bos, yakin mau nunggu?” balasku.

“Buat kamu, apa sih yang enggak,” balasnya.

Aku bukannya senang, malah ingin muntah. Semenjak Afdan ikut kajian-kajian begitu, sikapnya semakin membuatku tidak nyaman. Dia sering sekali mengirimkan konten-konten ceramah yang sejatinya sudah aku pelajari sejak sekolah dasar. Abah dan Umi kan menyekolahkanku di sekolah berbasis agama.

“Kamu kenapa?” tiba-tiba Fauzan sudah di depanku.

“Eh, sudah siap buat live?” tanyaku.

“Gak jadi. Kamu memang gak baca grup WA?” tanyanya.

Baru juga tidak memantau grup, aku sudah ketinggalan informasi penting. Ternyata kami disuruh segera kembali ke kantor. Ada rapat penting.

Dua jam perjalanan, tibalah kami di kantor. Menaiki lift menuju lantai 5, tempat kami bertugas. Mas Tama sudah ada di ruang rapat bersama beberapa pimpinan lainnya.

Aku menuju toilet sebentar untuk buang air sekaligus merapikan rambutku dan wajah yang mulai berminyak. Sebelum masuk toilet aku berpapasan dengan Billy.

“Kamu dapat undangan rapat juga?” tanya Billy.

“Eh iya, Bil. Ngomong-ngomong rapat apaan sih?” tanyaku.

“Kita lihat saja nanti. Sana mukanya di wudhu in dulu, biar cerah,” ujarnya.

Dia lalu pergi tanpa menunggu responku lagi. Aku tak menyangka dia akan mengucapkan hal seperti itu. Bagaimana dia sampai memiliki pengetahuan bahwa wudhu bisa mencerahkan wajah?
Ah daripada aku memikirkan dia, sebaiknya memang aku harus segera merapikan diri.

Ketika aku masuk di ruang rapat, tinggal ada satu bangku. Artinya aku yang paling terakhir masuk. Sial, semua mata memandangku. Apakah aku lama ditunggu oleh mereka. Aku berbisik ke Fauzan yang ada di sebelahku.

“Tenang, kamu gak datang terlambat kok. Mereka memang belum mau memulai” jawaban Fauzan menenangkanku.

Mas Tama sudah bersiap untuk bicara. Tangannya diletakkan di atas meja. Ia membenarkan kacamata. Semua peserta rapat seakan terhipnotis untuk memperhatikan ke pimpinan rapat.

“Aku tak mau basa-basi ke kalian. Bambang, silakan disebar itu kertas yang kamu fotocopi tadi,” ucapnya.

Tak butuh waktu lama, Bambang sudah mengedarkan ke semua peserta rapat.

“Silakan dibaca!! rapat selesai,” balasnya.

Aku tercengang dengan hal yang sangat ganjil ini. Dia menyuruh kami semua datang ke kantor hanya untuk menyerahkan selembar kertas. Apa dia tidak memiliki ponsel yang canggih hanya untuk membagikan di masing-masing kontaknya atau kalau terlalu lama bisa langsung dibagikan di grup WA.

Setelah ku buka lembaran yang dibagikan. Aku tambah kesal ternyata aku dipindahkan ke Bidang Hukum dan HAM.

“Mas, kamu yakin nempatin aku di sini?” spontan aku berteriak. Mas Tama yang sudah hampir menutup pintu, ia tahan.

“Kalau mau resign, malam ini surat bisa langsung dikirimkan. Sebulan kemudian, kamu bebas dari pekerjaan ini, mudah kan?” ucapnya tanpa rasa bersalah.
Aku menunduk lesu. Semua mata menatapku tak suka. Mungkin batin mereka, berani sekali aku melawan keputusan Mas Tama. Liputan di politik saja aku sudah pusing, apalagi ini nanti berbicara pasal-pasal dan mengartikan putusan pengadilan.

Satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan. Fauzan pun pamit kepadaku dengan ekspresi datar. Dia pun mungkin tak suka dengan keputusan Mas Tama. Aku menyadarkan kepalaku ke kursi. Rasanya sudah tak sanggup dengan lingkungan kerja yang penuh tekanan seperti ini.

“Aku pikir kamu akan senang, ternyata kita satu tim,” Billy tiba-tiba sudah duduk di dekatku.
Mendengar begitu, aku langsung mengecek tabel yang bawah. Ternyata benar, Kameraman yang menjadi rekan kerjaku adalah Billy. Entah kenapa perasaanku jadi lega. Belum sempat aku menanggapi obrolannya. Telepon dari Afdan sudah berdering di ponselku.

“Kamu sudah selesai?”

“Iya, ini barusan selesai. Kamu di mana?”

“Maaf ya An, aku baru berangkat. Tadi gak enak diajak temanku ikut kajian sebentar. Ternyata…”

“Oke aku tunggu ya,” aku mengakhiri panggilannya sebelum dia selesai bicara. Aku sedang tak ingin membahas aktivitasnya yang rajin sekali ikut kajian-kajian itu.

“Kamu ngapain masih di sini?” tanyaku ketus ke Billy.

“Hei, aku pikir kamu butuh teman ngobrol. Minimal kasih nomor WA mu, kita kan akan satu tim,” ucapnya.

“Oh iya, aku hampir lupa ya, sekarang kita akan satu tim,” responku tak menjawab omongannya.

“Jadi, mau ke Café depan? Segelas es cokelat bisa jadi menenangkan pikiran kesal,” ia mencoba merayuku.

Aku mengiyakan. Ku cari tali rambutku di tas. Tampaknya aku sudah tak nyaman menggerai rambut lagi. Aku pikir lumayan untuk mengurangi kejenuhan menunggu Afdan datang.

Di Café, Billy yang sering banyak berbicara. Ia menceritakan pengalaman hidupnya berkarir. Ia sempat kerja di Bank, Marketing, dan terakhir sebagai Kameramen. Ini bukanlah pekerjaan yang diinginkan. Ia merasa terjebak dalam hobi yang memang sejak lama ia lakukan. Suka membuat video dokumenter ketika di SMA atau pun ketika di Kampus.

“Tapi kayaknya kamu enjoy begitu, Bil?” kulilku.

“Susah sih jelasinnya kalau kamu gak mendapatkan pengalaman sendiri,” Billy masih menyimpan rahasia.

Belum sempat aku megulik lebih banyak pertanyaan ternyata Afdan sudah tiba. Aku pamit ke Billy. Namun sebelum aku beranjak pergi. Billy mengatakan sesuatu.

“Kita akan tetap satu tim kan?” ucapnya.
Ternyata dia masih memikirkan omonganku soal rencana resign dari profesi ini. Memang niatan itu sudah mantap. Tapi entah kenapa aku jadi termotivasi mendengar jawaban Billy bahwa aku harus menemukan pengalaman yang membuatku kenapa Allah memberikan rezeki di Wartawan.

“Sampai jumpa besok,” balasku tak menjawab keingintahuannya.

****

Tak ada yang resign. Liputan demi liputan dilalui dengan suka duka yang tetap sama. Aku bahkan semakin tak ada waktu untuk bersama Afdan. Dia sering sekali melakukan video call ketika aku sedang liputan. Tentu aku tak enak sama Billy atau teman-teman yang lain.
Sehari bisa tiga kali pindah lokasi, usai liputan atas putusan pengadilan mengenai tindak pidana narkoba, aku mendapat bahwa ada operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh KPK terhadap Pejabat Tinggi di Kementerian Hukum dan HAM. Ternyata tidak ada jeranya setelah beberapa bulan yang lalu sudah sempat tangkap tangan.

Kasus Hukum ternyata bervariasi. Hingga akhirnya aku bisa mengambil kesimpulan bahwa pejabat tidak akan pernah puas digaji berapa pun selama mental mereka untuk tidak korupsi belum dihilangkan. Apalagi terkait pembunuhan, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan manusia, hingga pelanggaran HAM. Hingga suatu ketika ada seseorang yang menghampiriku.

“Mbak sudah lama kerja begini?” tanya seorang ibu berusia renta.

“Lumayan Bu, ada apa?” tanyaku penasaran.

“Enak ya mbak, bisa menolong orang banyak. Hanya dengan pintar berbicara dan sebuah kamera telah mencerahkan seluruh Indonesia atas informasi yang disebar. Membuat semua ibu lebih berhati-hati menjaga anaknya,” ucap ibu tersebut tampak polos.

Aku tertegun. Menolong orang banyak? Selama ini aku tidak pernah memikirkan sampai ke sana. Aku hanya bekerja dan mendapatkan gaji. Selama ini pekerjaan yang aku benci ternyata membuat manfaat bagi orang banyak. Ah, semua pekerjaan pun kan pasti bermanfaat bagi orang banyak.
Tukang sayur misalnya, dia menjual dagangan yang kemudian dimasak dan dinikmati oleh anggota keluarga di sebuah kompleks. Polisi menjaga lalulintas, dokter menyembuhkan orang sakit, dan guru telah berjasa mencerdaskan kehidupan bangsa. Lalu apa bedanya?

Pertanyaan itu belum bisa terjawab atas pernyataan ibu tersebut hingga sebuah momen aku memperhatikan Billy menghampiriku menunjukkan selembar kertas undangan yang menunjukkan bahwa liputan yang kami lakukan terkait kasus penculikan dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur.

“Ini apa?” tanyaku berlagak tak mengerti.

“Sorry, aku tidak mengatakan ini sebelumnya. Aku ragu bahwa ini akan diterima dan menang, ternyata keraguanku salah, kamu melakukan yang terbaik yang tak hanya untukmu atau untukku, melainkan semua emak-emak yang menyukai konten kita,” balasnya.
Aku masih sulit merespon. Apa maksud semua ini?

“Oh iya, aku hampir lupa. Waktu liputan tempo lalu, ada seorang ibu menitipkan ini untukmu. Aku belum membuka isinya,” balasnya.

“Makasih Bill,” jawabku.

“Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya.

“I’m Fine. Aku balik dulu ya,” ucapku berusaha menghindari tatapannya.

“An, kamu bisa cerita ke aku kalau butuh pendengar yang baik,” tak bisa ku hindari bahwa ia tahu aku ada masalah. Tanpa bisa ku tahan, aku menghampur ke pelukannya. Hingga tanpa sadar bahwa kita sedang di koridor kantor.

Sorry..Sorry… aku gak ber…” aku tak kuasa melanjutkan omonganku.

I’m Fine, An. Kamu terbebani ya dengan pekerjaan ini? Kali ini aku gak akan lagi menahanmu untuk bertahan dengan pekerjaan ini. Lupakan tentang penghargaan itu, lupakan agenda-agenda liputan kita, maaf kalau kamu jadi sering bertengkar dengan pacarmu gara-gara lebih banyak waktu denganku” dia berbicara tanpa bisa ku potong. Aku hanya menggelengkan kepala.

“Kamu mau aku cerita di sini, yakin?” ucapku mencoba memberi kode supaya kita Pindah tempat. Dia terkekeh.

Sikap Billy jauh berbeda dengan Afdan. Perhatian yang diberikan oleh Billy tidak membuatku jadi rendah diri atau merasa tersisihkan. Justru dia jarang memberikan kata-kata manis atau motivasi. Setiap perbuatannya lah yang membuatku nyaman berada di dekatnya. Misalnya, liputan tentang kasus pemerkosaan dan kekerasan anak yang akhirnya kita mendapat penghargaan dari asosiasi wartawan, dialah yang lebih banyak memberikan arahan dibandingkan Mas Tama yang hanya bisa ngomel-ngomel. Tak banyak bicara, dengan berbagai kode gerakan tangan, aku mengerti maksudnya. 

Astaghfirullah, aku sudah memujinya berlebihan. Ingat, An!! Ada dinding batas yang cukup tebal di antara kalian. Jangan sampai kamu jatuh cinta pada dia. Kamu sekarang hanya patah hati karena baru saja putus dengan Afdan.

“Jadi, kalian udahan?” kulik Billy ketika aku selesia menceritakan nasib hubunganku dengan Afdan.
“Aku bukan cewek baik-baik ya, Bil?” tanyaku tak berani menatapnya.

“Definisi baik-baik itu bagaimana ya? Jika baik-baik itu adalah membuat orang lain justru takut mendekat, takut bertanya, dan enggan menerima nasehatnya, maka itu baik-baik yang hanya untuk dirinya,” Billy mengatakan sesuatu yang membuatku malah sulit dipahami.

“Bingung ya?” tampaknya dia paham kebingunganku.

“Eh, bentar. Aku mau tanya,” tiba-tiba aku teringat akan sesuatu yang mengganjal selama ini. Dia lalu menatapku fokus.

“Apa kamu berhenti merokok?” tanyaku.

“Lagi berusaha,” jawabnya.

“Demi apa? Apa gara-gara satu tim kerja denganku?’ selesai mengucapkan itu baru ku sadari bahwa pertanyaan itu suatu kelancangan. Aku terlalu percaya diri untuknya.

“Bukanlah..’ jawabnya cepat.

Aku tak menyangka ternyata jawabannya bukan.

“Tapi, aku melakukannya lebih dari sekedar untuk bisa kerja bareng dengan dia, aku ingin menjadi seseorang yang penting buat dia,” pernyataannya itu cukup jelas ditelingaku.

Astagfirullah, apa yang harus ku lakukan sekarang. Apakah Billy tidak sadar bahwa ucapannya itu bisa membuatku semakin galau. Aku dan dia kan…

Belum selesai aku berjibaku dengan pikiran sendiri. Billy meneruskan kalimatnya.

“Sejujurnya An, aku sudah kenal kamu sejak lama. Kita kan satu angkatan masuk kerjanya. Cuma mungkin kamu tidak begitu menghafalku. Aku melihat sosok kamu yang beda dengan lainnya. Beberapa kali aku melihatmu menyempatkan ibadah di sela-sela kerjaan. Kabar dari teman-teman juga memiliki kesimpulan yang sama. Semenjak itulah aku ingin belajar Islam,” jelasnya. Kalimat ini membuat hatiku bergemuruh, merinding, ada semacam haru yang susah untuk dijelaskan.

“Maaf ya, aku yang meminta ke Mas Tama untuk mengatur supaya kita satu tim,” lanjutnya. Ini hal yang tidak aku duga. Ternyata Billy telah mempersiapkan semuanya.

“Sayangnya, aku belum berhasil membuatmu menyukai pekerjaan ini,” lanjutnya.

“Hei, siapa bilang?” sela ku.

“Kenapa kamu merasa gagal, jika dengan menjalani, kamu telah berhasil melakukannya. Gagal atau berhasil menjadi tidak penting ketika kamu mencintai pekerjaanmu. Karena cinta akan membuatmu mau berusaha lagi dan lagi”

Billy tampak sumringah mendengar kalimatku. Dia selayaknya telah berhasil membawaku ke dalam situasi yang sulit ku terima menjadi tetap ingin dijalani. Pekerjaan wartawan memang belum berhasil memikatku.  Berbeda dengan orang yang ada di depanku. Dia tampaknya berhasil membuatku memantapkan pilihan hidup.

Dia menggenggam tanganku. Ini genggaman yang nyata, bukan lagi frasa dari membimbingku.
“An, aku boleh tanya satu hal?” aku mengangguk.
“Apa alasanmu tidak mengenakan hijab?” tanyanya.

“Aku tidak ingin dinilai baik oleh manusia. Jika dengan aku rajin Salat, semua orang masih memujiku baik. Aku khawatir, dengan mengenakan hijab, bukan malah memperbaiki ketaatanku pada-Nya. Melainkan menimbulkan rasa ujub, aku lebih baik dari mereka yang tidak berhijab”

Billy semakin mempererat gengamannya. “Ini Ana yang ingin aku kenal selamanya. Islam yang kamu tampilkan bukan yang membuatku menjauh. Malah membuatku ingin mendekat dan mengenalnya lebih. Apakah kamu mengizinkan aku menjadi bagian dari hidupmu?” Billy berkata mantap. Baru malam ini dia bicara banyak. Alhamdulillah ya Allah, ternyata engkau memberiku kesempatan menjadi perantara hidayah-Mu.

“Sekarang aku tahu, bukan perasaanku yang berubah. Pilihanku tetap sama, mencintai lelaki yang saleh, baik, perhatian, dan membawa kita pada kebaikan. Hanya saja ada di diri orang yang berbeda”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar