Postingan

Perjuangan Cinta Menyok (Part 1)

Gambar
Cinta itu ekspresif. Banyak cara seseorang mengekspresikan rasa cintanya, salah satunya adalah Menyok. Perempuan yang tinggal di desa terpencil di pulau Jawa tersebut memiliki tradisi yang unik. Menurut cerita yang dia tuturkan ke anaknya, orang tua Menyok memiliki nama yang berasal dari buah-buahan. Menyok adalah bahasa Jawa untuk Singkong. Ibunya Menyok memiliki nama Juwet atau popular di sebut Jamblang. Alasannya cukup sederhana, ketika sedang dalam kandungan, orangtuanya nyidam Jamblang. Nah, ketika Menyok lahir, bertepatan dengan panen raya singkong di desa tersebut. Bahkan kabarnya, hasil panen raya milik orangtua Menyok terbilang panen yang paling melimpah sepanjang hidup mereka. Jadilah nama itu melekat sebagai tanda syukur dan mengingat momentum tersebut. Ternyata tradisi itu tidak ditinggalkan oleh Menyok. Ia memiliki dua anak, pertama laki-laki, dan kedua perempuan. Anak laki-lakinya diberi nama Gethuk. Anak perempuannya diberi nama Lindri. Alasannya terbilang sederhana, i

Pelatihan Jurnalis Muda

Gambar
Pandemi covid-19 belum usai di tahun 2021. Pemerintah masih gencar mengingatkan masyarakat untuk menjaga protokol kesehatan. Bahkan, diminggu kedua bulan Januari dilakukan PSBB Pulau Jawa-Bali. Tentu hal tersebut menjadi penanda bahwa pandemi ini masih akan berlangsung lama. Kabar baiknya, vaksinasi sudah mulai berjalan. Siaran media televisi begitu dramatis mengabarkan ke masyarakat dengan siaran langsung siapa saja yang mendapat giliran vaksin gelombang pertama. Presiden Jokowi adalah orang pertama dan diikuti pejabat publik lainnya, bahkan ada selebritis ternama yaitu Raffi Ahmad. Giliran vaksinasi untuk masyarakat umum kemungkinan dilakukan bulan April 2021. Nah, tentu selama menunggu giliran tersebut, dipastikan ruang gerak semua orang masih terbatasi dengan protokol kesehatan. Bahkan kabarnya, setelah divaksin, hidup sehat tetap menjadi prioritas yang tidak boleh meninggalkan penggunaan masker, cuci tangan, dan jaga jarak. Maka bisa dipastikan peradaban baru memang sedang berla

Misi Rahasia Din Part 5

Gambar
Masuk UKM Teater menjadi pilihanku. Dunia yang sudah aku impikan sejak SMA, hanya saja di sekolahku tak ada kegiatan ekstra tersebut. Kalau mengikuti kegiatan di luar sekolah seperti kelompok seni di Taman Ismail Marzuki, tentu biasanya lebih mahal. Makanya dulu aku biasa membuat drama sendiri di kamar. Eh tidak juga, kegiatan 17 Agustus, aku turut berpartisipasi membuat opera bersama teman-teman Karang Taruna. Lita, panggil saja aku Lit. Kalian yang sudah baca cerita sebelumnya, pasti tahu bahwa aku temannya Lisa. Kami memang tak terpisahkan. Hampir semua perkuliahan kami sekelas. Hanya saja ketika kami memutuskan masuk UKM yang berbeda, mulailah susah menyempatkan waktu untuk jalan berdua. “Ini kita belum pada punya cowok loh Lit.” Begitulah Lisa menyindirku dengan waktu yang mulai menyita kebersamaan kita. “Tenang kok, aku gak bakal lupa sama teman sebaik kamu.” Ucapku memberikan dia jaminan. “Janji ya?” ucapnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya. “Ih, kayak bocah pakai b

Misi Rahasia Din Part 4

Gambar
“Hai Din..” Cukup itu kalimat pembuka untuk mengawali cerita dengan Din. Dia tak mau dipanggil Kak, Bang, atau embel-embel lainnya, juga mas. Aku tertarik untuk cerita masalahku pada dia karena sudah terkenal bahwa dia teman curhat yang baik di kampus. Namaku Lisa. Semua masalahku bermula ketika melihat selebaran pendaftaran UKM ditempel di berbagai sudut papan pengumuman area kampus. Ada setidaknya 6 UKM di kampusku yaitu, Musik, Futsal, Basket, Teater, Fotografi dan Jurnalistik, Pecinta Alam. Menurut kabar yang terdengar, UKM Musik menjadi yang paling populer. Aku bisa mengenal kampusku sekarang juga karena mengenal band kampus yang berada di bawah naungan UKM Musik. Ku lihat antusiasme mahasiswa tertuju pada UKM tersebut, menjadi terkenal tampaknya impian semua orang. “Eh kamu mau ikut UKM apa Lis?” Tanya Lita temanku. “Aku mau nerusin hobiku pas di SMA Lit.” Jawabku. “Gak bosan kamu ya?” Lita mengonfirmasi. “Sudah jadi nyawa aku.” Jawabku hiperbola. Lita mengacungkan jempo

Misi Rahasia Din Part 3

Gambar
Kantin menjadi pilihan yang tepat untuk mengisi waktu luang sebelum lanjut ke mata kuliah kedua. Tapi Din biasanya mengunjungi perpustakaan lebih dulu untuk meminjam buku. "Ka, temenin ya." Pinta Din padaku. Tentu aku tak akan menolaknya. Dia sudah banyak membantu. Apalagi setiap pembagian kelompok, namaku selalu nempel di bawahnya. Pernah sekali aku tidak masuk kelas karena sakit, Din mengirimkan pesan bahwa namaku dicatat masuk kelompok mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi. Bisa dibilang itu kabar baik, karena aku tak perlu kesulitan mengerjakan tugas. Biasanya kebagian membuat layout presentasi. Ngomong soal ke Perpustakaan, Din malah berbelok arah menuju Kantin. "Lah, katanya ke perpus?" Aku heran dengan perubahan rute kita. "Bentar. Mau pesan Bakso Malang dulu, biar gak kehabisan." Jawabnya dengan langkah cepat menuju pojok kantin, tempat lapak Bakso Malang berjualan. Nah ini, salah satu menu kesukaan Din yang gak pernah bosan dia beli. Kadang

Misi Rahasia Din Part 2

Gambar
Bagaimana aku pertama mengenal Din? Beginilah mulanya.. **** "Sial..." Aku merutuki diriku sendiri yang telat datang orientasi mahasiswa baru. Sehingga aku berada di barisan paling belakang. Panitia tampak kesal sekali mendapati banyak yang datang terlambat, termasuk aku. Mereka galak sekali, apalagi ke mahasiswa. Seenaknya saja menendang kaki. Beda sekali perlakukan ke mahasiswi. Santun kayak ketilang polisi lalu lintas. "Nama kamu siapa?" Salah satu panitia menepuk pundakku. "Eka Saputra, Kak." Jawabku. "Jurusan apa?" Tanyanya lagi. "Ilmu komunikasi" jawabku mulai ada perasaan curiga. Jangan-jangan.. "Lalu gelang birunya mana?" Ucapnya membuatku menyadari sesuatu. Melihat aku yang kebingungan, kakak panitia seakan dapat angin surga buat menghukumku. "Ini punyamu. Maaf tadi belum aku kasih." Tiba-tiba cowok berkulit kecoklatan mendekatiku. Wajarnya datar saja ketika memberikan gelang itu. "Kamu tem

Misi Rahasia Din Part 1

Gambar
Kantin menjadi pusat keramaian mahasiswa melepaskan penat usai mata kuliah berlangsung. Tempat itu tak pernah sepi pengunjung. Jadwal perkuliahan acak membawa untung bagi sebagian mahasiswa yang tak ingin kuliah maraton. Ada yang menjadwalkan jeda tiap mata kuliah. Nah, kantin menjadi ruang istirahat yang akrab. Din, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi duduk sendirian di pojok kantin, depan lapak Bakso Malang. Dia tak pernah terganggu dengan keriuhan mahasiswa lain yang tak bisa mengontrol volume perbincangan. Ia juga tak pernah canggung makan bakso sendirian. Toh, ada buku yang selalu ia bawa sebagai teman. Din bukan tak punya teman sama sekali, tapi lebih suka menyendiri. Ia bisa fokus menyerap mata kuliah yang selesai ia ikuti. Buku yang bolak-balik ia pinjam di perpustakaan lebih cepat diselesaikan. Ia bisa menghabiskan tiga buku dalam seminggu. Tak ada buku khusus yang digemarinya, namun penjaga perpus sudah hafal kebiasaannya. Sehingga sebelum ia mencari di rak buku, penjaga pe