Postingan

Misi Rahasia Din Part 1

Gambar
Kantin menjadi pusat keramaian mahasiswa melepaskan penat usai mata kuliah berlangsung. Tempat itu tak pernah sepi pengunjung. Jadwal perkuliahan acak membawa untung bagi sebagian mahasiswa yang tak ingin kuliah maraton. Ada yang menjadwalkan jeda tiap mata kuliah. Nah, kantin menjadi ruang istirahat yang akrab. Din, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi duduk sendirian di pojok kantin, depan lapak Bakso Malang. Dia tak pernah terganggu dengan keriuhan mahasiswa lain yang tak bisa mengontrol volume perbincangan. Ia juga tak pernah canggung makan bakso sendirian. Toh, ada buku yang selalu ia bawa sebagai teman. Din bukan tak punya teman sama sekali, tapi lebih suka menyendiri. Ia bisa fokus menyerap mata kuliah yang selesai ia ikuti. Buku yang bolak-balik ia pinjam di perpustakaan lebih cepat diselesaikan. Ia bisa menghabiskan tiga buku dalam seminggu. Tak ada buku khusus yang digemarinya, namun penjaga perpus sudah hafal kebiasaannya. Sehingga sebelum ia mencari di rak buku, penjaga pe

Cinta Suci dari Mina

Gambar
Aku tertunduk diam. Suara pengkhutbah terdengar menggebu-gebu, lantang, kadang juga terdengar bergetar. Tampak sekali dia lihai memainkan kalimat demi kalimat sesuai emosi pesan yang ingin dia sampaikan. Sayangnya, aku tak dapat menyaksikan dia secara langsung, karena posisi ada di Serambi Masjid. Salat Jumat masih mematuhi protokol kesehatan, sehingga masjid yang biasa muat jamaah di dalam, serambi pun jadinya penuh. Ada juga yang sampai duduk di jalan raya. Petugas masjid sengaja menyiapkan portal supaya akses kendaraan depan masjid tertutup sementara. “Jamaah Salat Jumat yang dirahmati oleh Allah..” begitulah kalimat jeda yang sering dipakai oleh pengkhutbah untuk melanjutkan isi khutbah. “Allah telah gantikan Ismail dengan seekor hewan sebagai hadiah pada Ibrahim atas ketataannya pada perintah-Nya”. Ucapnya terdengar syahdu. Pengkhutbah berhasil menyeret imajinasiku untuk membayangkan peristiwa bersejarah dalam ajaran Islam itu. Aku sering mendengarnya setiap menjelang bulan Dzulhi

Teman Kamu

Gambar
Tak pernah membayangkan pada aku menyaksikan sebuah situasi yang luar biasa membuat gagap jagat raya. Situasi yang membuat semua orang dipaksa untuk berdiam diri di rumah, jaga jarak dengan lingkungan sosial. Pekerjaan yang melibatkan interaksi fisik pun dihentikan. Kedekatanku dengan kamera DSLR pun harus berhenti bergerak. Alat itu kini tergeletak di dalam lemari kaca. Sungguh, situasi yang sangat sulit dijalani. Kamera bukan lagi alat pendukung karirku. Kamera sudah menjadi bagian dari hari-hari yang penuh dengan karya dan kolega. Rasanya, dunia begitu mengasikkan ketika tanganku sudah menggenggam alat itu. Banyak sudut pandang kehidupan yang bisa ku tangkap dengan estetis melalui kamera milikku. Ku pikir, kamera menjadi jawaban atas banyak hal dalam hidup yang sulit terjelaskan oleh kata-kata. Namun hari ini, bulan ini, dan situasi sekarang ini, kameraku tak berdaya. Ia berdiam diri di tempatnya selama dua bulan lebih. Ku hanya bisa bermain-main atau memandanginya dengan pikiran-

Waalaikum Salam New Normal

Gambar
Wabah Covid-19 belum usai. Hanya saja kondisi darurat, karantina wilayah, dan slogan di rumah saja mulai mengendur. Keramaian kota mulai tampak. Aktivitas orang mulai seperti biasa. Sedangkan grafik pasien positif belum melandai. Pemerintah mulai menerapkan istilah New Normal. Biarlah Herd Humanity berlaku. New Normal mulai melangkahkah kaki menapaki dunia baru. Ia membawa nilai dan norma baru terkait kesehatan dan aktivitas manusia di bumi. Apa itu? Jaga jarak, gunakan masker, dan sedia cairan antiseptik. Sebelum masuk perkantoran atau transportasi publik wajib dicek suhu tubuh. Aktivitas orang boleh normal seperti biasa, namun gerak tetap terbatas. Tak ada lagi kebiasaan salaman atau cium pipi kanan kiri. Assalamualaikum wahai manusia.. begitulah kira-kira sapaan untuk manusia yang mulai aktivitas lagi di luar rumah untuk bekerja, sekolah, hingga ibadah. Ia telah siap membawa manusia pada peradaban yang tak terbayangkan sebelumnya. Bagaimana keluarga cer

Game Kafimir

Gambar
Gadget sudah menjadi teman sehari-hari anak generasi Z. Namun beberapa di antara mereka masih menyukai permainan yang dilakukan bukan di dunia virtual. Salah satu anak itu adalah Alfi. Gadis kecil berambut gelombang, kulit sawo matang, dengan suara sedikit nge-bass, ditambah tertawanya membuat teman sepermainan ikut tertawa. Uno!! Itulah teriakan Alfi mendapati permainannya segera berakhir. Tinggal satu kartu saja yang ia pegang. Serius sekali dia menyembunyikan angka dan warna kartu supaya tak diketahui lawan mainnya. Ia sekarang bermain Uno bersama Amir, Melinda, dan Imah. Hampir setiap hari mereka bermain. Hingga orangtua dan tetangga berkomentar. “Kalian ini apa gak bosan?” komemtar mereka. Alfi dengan suara nge-bass nya berseloroh. “Gak budhe...” intonasi suaranya dibuat meliuk-liuk. Kalian ada yang gemar bermain Uno? Bisa jadi kalian satu aliran dengan Alfi dan kawan-kawan. Mereka berempat adalah pelajar SD kelas 4 yang sedang belajar di rumah karena ada pandemi virus

Dalgona Dari Dinda

Gambar
Kabar baik. Dinda telah dinyatakan sehat dan selesai menjalani masa karantina di rumah sakit. Dua minggu lebih dia menjalani isolasi sebagai pasien Covid-19, dan kini dinyatakan sembuh. Namun, ia masih disarankan untuk tetap di rumah saja oleh dokter. "Aku kangen kamu, Gama" tulisnya di obrolan WA. Senang rasanya membaca kalimat itu. Ternyata gak cuma aku yang merindukan Dinda. Hanya saja, aku tak bisa menebak, rindu seperti apa yang dimaksud. Apakah rindu yang dia pikirkan sama seperti yang ku pikirkan? Entahlah.. "Lama banget ngetiknya. Kamu mau bales chat, apa bikin cerpen, keburu ngantuk nih" komentarnya mendapati aku tak juga membalas pesannya, sedangkan terlihat di aplikasi aku sedang proses mengetik. "Hahahaha" Aku akhirnya balas seperti itu. "Dih.. apaan itu. Dikangenin kok cuma ketawa" tulisanya sambil membubuhkan stiker 😏. Kesal dia kayaknya. "Dindaaa. Aku senang banget akhirnya kamu ngechat aku. Ku pikir kita gak akan bisa kayak

Pandemi Selimuti Janji Suci

Gambar
Aku belum pernah mendapat tatapan semacam itu dari bapak, sungguh kosong. Wajah ibuku juga sembab, aku tak tahu berapa kubik air mata yang keluar. Aku tak berani menanyakan apa yang terjadi, cukup WA grup yang menjelaskan semuanya. Aku akan menikah, tapi mereka tak terlihat bahagia. Sungguh, aku bukan anak durhaka. Keadaan memaksa kami menahan diri untuk pesta. Wabah virus Corona telah menyelimuti dunia, hingga ke negaraku Indonesia. Perdebatan di obrolan WA grup terjadi ketika salah satu orang mengirim foto undangan pernikahanku. Aku mengamati apa yang terjadi, intinya mereka mempertanyakan apakah pesta pernikahanku akan tetap berlangsung di tengah peraturan pemerintah yang melarang terjadinya kerumunan. Obrolan itu menjadi bancakan di kampungku. Mereka tampaknya lupa kalau aku juga masuk grup Karang Taruna itu. Tak lama setelah keramaian di grup itu, ponselku berdering. Ibuku melakukan panggilan. “Iya bu..” “Gimana nak.. kabarmu?” ucapnya dengan suara serak. Eh, apakah