Cari Blog Ini

Kamis, 12 Desember 2019

Serpihan Rasa


Serpihan rasa lima tahun silam masih membekas. Ingatanku tak bisa ku bendung ketika Mas Bayu menemaniku main futsal. Mengantarkanku pergi pertandingan dan bahkan ketika ia merawatku di rumah sakit. Aku masih menyayanginya seperti lima tahun silam. Aku masih melihatnya sebagai sosok kakak yang tak ingin jauh. Di tengah suara doa-doa yang tak ku mengerti artinya, aku melihat Mas Bayu sangat serius. Raut wajahnya tak bisa menyembunyikan bahwa ia sangat kehilangan seseorang. Aku duduk bersila di sampingnya berusaha ingin menghibur, tapi bingung dengan cara apa. Karena sekarang tak hanya Mas Bayu yang harus aku bantu hatinya untuk pulih, melainkan sosok kecil yang sekarang duduk di pangkuanku. Ucapan doa-doa yang semakin mendayu membuat semua orang larut dalam kesakralan. Beberapa di antaranya mencicipi makanan yang sudah dihidangkan. Aku mengingat kembali pertemuan awal kami di Bandara Djuanda tempo hari.

****

Tubuhku terpaku menatap seseorang yang mengagetkanku. Aku mengenalnya. Wajahnya sangat nyata. Kulitnya lebih bersih dari yang aku kenal. Tampak terawat dan badannya lebih berisi. Gaya rambutnya tak berubah. Ingin sekali aku menghambur ke pelukannya. Tapi…

“Ayah.. ayo puyang…” ucapnya belum sempurna. Ia berhasil membuyarkan fokusku menatap Mas Bayu.

Mas Bayu pun berjongkok. Berusaha menenangkan anak kecil itu. Dia lalu menggendongnya.

“Lihat!! Ada Om Calvin, ayo kenalan,” ucap Mas Bayu sambil mengarahkan tangan anak itu mendekat ke arahku.

Aku segera menguasai keadaan. Ku pasang wajah ramah pada anak itu walau dalam perasaan bingung.

“Kenalin Om. Aku Bahran..” Mas Bayu yang mewakilkan. Sedangkan anak itu hanya menatapku bingung. Wajahnya tak begitu mirip dengan Mas Bayu. Aku jadi penasaran siapa anak itu. Ku berikan pandangan bertanya pada Mas Bayu. Dia pun paham maksudku.

“Dia anakku Calv,” ucap Mas Bayu jelas. Belum selesai aku dikagetkan dengan keberadaan Mas Bayu di pintu kedatangan pesawat, kini aku mendengar pengakuan bahwa dia sudah punya anak.

“Oma tadi tak sengaja bertemu dengannya,” Oma menghampiriku dengan langkah yang dibantu Mas Parjo.

“Eh Oma, maaf aku sampai lupa menyambut,” ucapku menyadari bahwa tak hanya Mas Bayu yang ada di depanku. Oma justru orang yang seharusnya aku sapa lebih dulu. Dia memberikan respon tak masalah. Oma pasti tahu tentang jalan cerita kami. Tampaknya aku harus bersyukur pada Oma karena dia memberiku kado Natal yang indah hari ini. mendapat usulan dari Oma bahwa kami perlu mencari tempat yang lebih nyaman untuk berbincang, maka ku putuskan untuk segera keluar Bandara. Mas Bayu setuju ikut mobilnya Oma. Mas Parjo sudah hafal tempat pilihan Oma, yaitu  Pondok Tempo Doeloe. Aku ikut saja kalau Oma memang selera dengan tempat makan itu.

Tak butuh waktu lama, kami sampai tujuan. Tampaknya kami beruntung karena kondisinya tidak terlalu ramai seperti biasanya. Oma yang memilihkan menu. Ku lihat Bahran cukup tenang dan tidak banyak tingkah. Aku tidak perlu khawatir untuk bisa lebih lama bersama Mas Bayu.

“Om Calv.. cama Mbah Malia,” Bahran nyeletuk yang tak ku pahami.

“Iya. Om Calvin dan Oma sama kayak Bude Maria. Mereka nanti merayakan Natal,” Mas Bayu memberikan penjelasan ke Bahran.

Belum sempat aku menanyakan maksudnya. Mas Bayu menjelaskan bahwa Bahran melihat kalung Salib yang ku kenakan mirip dengan yang dipakai oleh neneknya dari saudara sang ibu. Aku pun jadi paham apa yang dimaksud Bahran. Anak kecil itu sudah paham perbedaan di antara kita. Ternyata Mas Bayu tak berubah. Pasti Bahran sudah mendapatkan pendidikan tentang perbedaan sejak dini. Sampai hal yang tak terpikirkan bagi anak lainnya, ia menyadari bahwa antara dia dan aku dan dia ada perbedaan. Aku jadi ingin menggendongnya.

“Mau ikut om Calvin gak? Sini…” ayo arahkan tanganku ke Bahran.

Anak itu melihat Mas Bayu. Tampaknya dia butuh persetujuan dari papanya. Mas Bayu mengisaratkan setuju. Dengan ekspresi malu-malu, Bahran mau juga aku gendong. Berhubung makanan yang kami pesan belum diantar, maka ku ajak Bahran keluar sebentar.

Ada banyak omongan Bahran yang aku tak bisa timpali. Apalagi dia menggunakan bahasa Jawa. Bahran juga tampaknya tak betah digendong, ia minta turun. Aku jadinya kejar-kejaran ketika dia mulai aktif berlarian. Bahran pun terlihat sengaja mengajakku main-main. Tawanya membuatku ikut bahagia di tengah perkenalan kami yang singkat.

Tak lama Mas Bayu menghampiri kami. Bahran malah menghambur ke arahku menyadari papanya mendekat.

“Kenapa senyum-senyum mas?” Ku lihat Mas Bayu menertawaiku.

“Ah enggak. Ku perhatikan kamu sudah cocok punya anak,” ucapnya.

“Sudah tua banget ya berarti,” timpalku.

Tampak sekali kecanggungan antara aku dan Mas Bayu. Dia lalu mengatakan bahwa makanan sudah siap, makanya dia datang memanggilku.

Usai makan, barulah ada kesempatan aku ngobrol banyak hal dengan Mas Bayu.
Cerita lima tahun silam dimulai. Mas Bayu tampak mengingat apa saja yang sudah terjadi lima tahun silam.

****

2 Februari 2015

Usai putus dengan Tania, ku rubah segala perspektif hidupku. Tak ada lagi prioritas yang harus aku kejar mati-matian, selain apa yang dibilang ibuku. Maka ketika kabar bahwa ia sudah memiliki calon istri untukku dan meminta pulang ke Surabaya, tak ada pertimbangan apa pun. Aku segera memesan tiket pulang.

Benar saja, ketika aku dijemput di Bandara Djuanda, ibu didampingi oleh seorang perempuan yang ku taksir namanya Lailatuf Mufida. Tak jauh berbeda dengan foto yang dikirimkan ke aku. Kesan pertama, dia anak yang penyayang sama ibu. Sikapnya kepadaku juga sopan dan terpenting, dia bisa mencairkan suasana pada perkenalan pertama kami. Aku yakin dia bisa menghidupkan hubungan kita kalau ditakdirkan menikah.

14 Juli 2015

“Nak. Ibu senang akhirnya kamu cocok sama dia. Tenang saja, Fida anaknya bisa kamu ajak ke Jakarta kalau memang kamu tetap ingin balik ke sana.” Ucap ibuku dengan mata berbinar.
“Bu, sekarang bagi Bayu tak ada lagi hal yang lebih penting dari restumu. Bayu ingin menemanimu di sini ya, bolehkan?” tanyaku. Ibu tak menjawab. Ia lalu memelukku erat. Jadilah tangis haru antara kami hingga Mbak Ulfa mengabarkan bahwa keluarga besar calon besan sudah datang. Pertunanganku dengan Fida, panggilannya, akan segera dilangsungkan. Sebulan kemudian tanggal pernikahan bisa digelar.

Cerita Mas Bayu berhenti ketika ponselnya berbunyi. Dia meminta izin untuk tersambung dengan orang yang menghubunginya. Bahran dititipkan ke aku. Dia senang sekali menatapku. Membuatku jadi gemas untuk menyubit pipinya.

Lima menit berlalu Mas Bayu kembali. Dia meminta maaf harus pulang lebih dulu, karena ada urusan mendesak yang harus diselesaikan di rumah. Sempat aku usulkan untuk kami antar, tapi tampaknya Mas Bayu tak mau merepotkan. Aku sadar bahwa kita belum sempat tukar nomor telepon. Aku inisiatif memintanya. Untungnya Mas Bayu tidak keberatan.

“Semoga bisa ketemu lagi ya Mas,” perkataanku sedikit memohon. Mas Bayu hanya menganguk.

Oma memegang pundakku. Dia berusaha membuatku tenang. Iya, aku harus lebih tenang menghadapi ini. Setidaknya aku sudah ketemu lagi dengan orang yang selama ini aku rindukan. Oma lalu mengajakku segera pulang. Pastinya aku butuh istirahat segera walau perjalanan Jakarta-Surabaya tak begitu melelahkan.

“Oma yakin, semua ini berkat kasih-Nya. Maka percayalah Vin, Tuhan sudah mengatur ini semua,” ucapan Oma tak salah. Aku segera memeluknya. Dalam hati aku bersyukur sama Tuhan, melalui perjalanan ini dipertemukan dengan Mas Bayu.

Malamnya aku mengirimkan pesan ke Mas Bayu. Sekadar mengabarkan nomorku padanya. Lalu dibalasnya dengan sebuah pesan:

“Calv, kalau besok pagi tidak ada kegiatan, kita ketemu di sini ya,” tulisanya sambil mengirimkan alamat pertemuan kami. Segera aku menyetujuinya walau menjadi bertanya-tanya kenapa memilih tempat yang sejatinya kurang pas untuk ngobrol.

Pagi usai sarapan, aku pamit ke Oma untuk bertemu Mas Bayu. Niatnya Oma pun ingin ikut, tapi ketika aku kasih tahu alamatnya, Oma mengurungkan diri.

“Salam saja ya ke Bayu,” ucap Oma. Aku mengangguk dan pamit dengan mencium tangannya.

Sampai di lokasi, aku menebar pandangan, hingga menemukan sosok yang berpakaian putih dengan peci hitam dan sarung berwarna hijau. Ku mengenalinya dan segera menghampiri sosok tersebut.

“Hai Bahran…” Aku menyapa anak kecil yang bersamanya. Dia sudah tidak malu-malu ketika pertama ketemu. Bahkan dia berani menggodaku dengan menendangkan kakinya ke arahku.

Mas Bayu lalu mengajakku masuk ke dalam lokasi. Berjalan cukup panjang melewati banyak kuburan, hingga berhenti ke sebuah nisan bertuliskan;

“Lailatul Mufida”

Nama itu…. Tenggorokanku tercekat. Mas Bayu dan Bahran fokus membaca doa-doa. Aku tak ingin menganggunya. Berhubung cukup lama mereka berdoa, aku memutuskan duduk juga sejajar dengan mereka. Ku lihat Bahran jadi fokus memperhatikan aku. Tampaknya anak ini ingin mengenalku lebih. Aku mengusap rambutnya yang sama ikal dengan papanya. tak lama kemudian, Mas Bayu mengakhiri doanya. Lalu ia mengusap batu nisan dan berkata padaku. “Fida meninggal ketika dia melahirkan Bahran,” jelasnya.

Oke, sekarang aku mengerti. Mas Bayu mengajakku ke sini ingin menunjukkan ia telah kehilangan orang yang penting dalam hidupnya. Tanpa banyak bicara, aku mengerti perasaannya. Setelah hubungannya dengan Kak Tania berakhir, dia juga mengalami kehilangan yang lebih besar dari itu. Sekarang dia harus membesarkan Bahran sendirian. Tak kuasa air mataku menetes.

“Ayah.. Om Vin nanis ntu..” Bahran menyadari mengalirnya air mataku di pipi.

“Eh enggak. Om Calvin kelilipan kok,” ucapku mengelak. Aku pun langsung memeluknya.

Bahran mungkin sudah terbiasa dengan cerita meninggalnya sang mama. Dia juga mungkin masih sulit memahami apa yang terjadi padanya.

“Fida sangat menyayangiku. Begitu dalam rasa sayangnya, hingga dia tak pernah menanyakan bahwa ada seorang perempuan bernama Tania yang pernah hadir dalam hidupku. Ternyata dia cukup pandai menyembunyikan semuanya, bahkan rasa cemburunya. Ia lebih memilih melakukan sesuatu yang membuatku menyadari bahwa dia ingin seperti Tania. Rok bunga-bunga, potongan rambut sebahu, dan bahkan riasan wajahnya yang tipis. Tapi bodohnya aku tak pernah mengungkapkan itu padanya. Calv, seandainya dia masih hidup, ingin ku katakan padanya. Sayang, istriku, terima kasih sudah melahirkan Bahran. Aku menyayangimu sebagai Fida, bukan orang lain. Aku tak pernah ingin kamu menjadi siapa pun,” jelas Mas Bayu.

Aku mendengarkan dengan seksama semua kalimat itu. Ternyata tak hanya keluargaku saja yang tak pernah bisa lepas dari bayang-bayang Mas Bayu. Keluarga Mas Bayu pun menyimpan cerita itu. Serpihan rasa yang tak mudah untuk diungkapkan. Sebuah rasa sayang yang tersembunyi dan tak terkatakan hingga semua tak lagi penting diungkapkan selain doa.

“Nanti malam datang ya acara 1000 harinya Fida,” ucap Mas Bayu.

Aku mengangguk. Aku memegang kalung salibku dan berdoa untuk almarhum Kak Fida sebelum akhirnya kami meninggalkan pusaranya. Aku mengusapkan tanganku ke batu nisan sambil bergumang. “Kak, aku akan menjaga Mas Bayu seperti dia pernah menjagaku. Terima kasih sudah hadir dalam hidupnya. Bolehkah kamu juga aku anggap kakak?” batinku menutup pertemuan pagi ini bersama Mas Bayu.

Ada selalu balas budi untuk sebuah kebaikan. Jika tidak langsung dijawab Tuhan, hanya soal waktu bahwa kasih sayang yang pernah dibagikan ke orang lain akan terbalas. Entah terbalas dari orang yang kita kasihi atau melalui kasih sayang orang lain pada kita. Aku percaya itu ketika melihat Mas Bayu yang mendapatkan kasih sayang tulus dari istrinya yang tiada, sama seperti apa yang dulu Mas Bayu berikan pada kakakku, aku, dan keluarga.

Puji Tuhan…



Minggu, 08 Desember 2019

Berdua Tanpa Jeda


Bulir peluh mulai mengalir merusak bedak di wajah. Walau aku sudah menepikan motorku di bawah pohon Asem, tampaknya siang ini terlalu bersemangat membagikan sinar ultranya. Sedangkan Wiwin, Harusnya kami sudah berangkat setengah jam yang lalu, mengingat kegiatan pembukaan acara di Bumi Perkemahan Ngandasan Patakan semakin mendekati waktu yang diagendakan.

Ku putuskan untuk mengirimkan pesan ke Wiwin. “Hei, Beb! Sudah di mana?” pesan terkirim langsung centang biru. Tak berapa lama orangnya sudah ada di depan mata. Tanpa ada rasa bersalah, dia menyapaku riang.

“Ayo, cepat!! Nanti kita telat..” ucapnya mendesakku segera menyalakan motor. Aku cukup menggelengkan kepala atas tingkahnya itu. Bukankah dia yang membuat perjalanan kita terlambat, batinku. Kami sepakat untuk boncengan saja, sedangkan motornya dititipkan di rumah mertuaku yang tak jauh dari lokasi tempatku menunggu.

Terik matahari tak menyurutkan semangat kami untuk menuju lokasi dengan rute yang berliku. Di tengah perjalanan, Wiwin yang sebelumnya memang aku minta untuk membonceng mulai ragu dengan rute yang ku arahkan.

“Kamu yakin jalannya ini? Kok serem ya kanan-kiri hutan begini?” ucapnya.
“Bener kok,” jawabku sambil mengecek aplikasi peta online.

Wiwin malah berhenti. Dia pun mengeluarkan ponselnya dan menyalakan kamera.

“Kamu mau apa?” tanyaku penasaran.

“Lihat Beb. Pemandangan ini kalau difoto dan diupload di Instagram bagus loh. Berasa musim gugur di luar negeri,” ucapnya mendramatisir suasana.

Aku menyadari bahwa sejak 200 meter perjalanan kami memasuki hutan, ada banyak sekali daun Jati memenuhi jalanan. Sedangkan kanan kiri tampak pohon yang tinggal rantingnya yang eksotis. Sebuah panorama yang mengagumkan. Aku mengucap subhanallah…

Belum lama aku menganggumi pemandangan, tiba-tiba ada ular yang berjalan di depan kami. Wiwin yang lebih dulu melihat, segera kembali ke motor. Kurang ajarnya, dia hampir mau meninggalkan aku.

“Eh tunggu…” aku berhasil mengejar motornya. Wiwin malah menertawakanku. Aku tak hentinya memukul pundaknya. Hal itu membuat motor yang dikendarainya jadi oleng.

Selama perjalanan Wiwin sesekali mengindarkan pandangannya dari terpaan daun yang berjatuhan. Selain itu, pikiran kami pun mulai kalut karena jalan yang kami lalui seperti sengaja dikhususkan buat kami. Wiwin yang memegang kendali kendaraan dengan sigap menaikkan volume kecepatan. 10 menit kemudian aku mulai melihat pemukiman warga. Perasaanku jadi tenang, apalagi bertemu dengan bapak yang sedang mengayuh sepeda ontelnya dengan tumpukan rumput di boncengan.
Plug… tiba-tiba ada yang jatuh mengenai kepalaku.

“Ya Allah, sial banget aku Win.” Ku usap kerudung yang ku pakai ternyata kotoran burung.

Wiwin sama sekali tak berempati. Dia kembali menertawaiku. Ku ambil botol minum yang ada di tas untuk membersihkan tangan.

“Mbak Emmy…” seorang pengendara motor mendekati kami.

“Hei, kamu bawa apa itu?” tanyaku basa-basi. Padahal jelas yang ditentengnya adalah nasi kotak.

“Ayo bareng!” ucapnya. Tapi aku menyuruhnya duluan saja. Toh perjalanan kami tidak lama lagi sampai.

Benar saja, ada banyak bendera yang menghiasi kanan kiri jalan. Namun sebelum tiba, kami menyempatkan untuk berbelok ke Masjid untuk Salat Dzuhur.

Ku lihat Wiwin tampak kelelahan. Wajahnya putihnya menjadi kemerahan.
“Kamu ngapain ngelihat aku?” ucapnya sadar sedang aku perhatikan.

“Makasih ya, wes nemenin aku,” ucapku merasa terharu mengingat perjalanan kami cukup melelahkan. Dia hanya mengulas senyum.

Usai Salat Dzuhur, kami melanjutkan lagi perjalanan. Sialnya, motor yang kami kendarai mendadak bocor ban ketika kami melewati pemakaman keramat. Kabar yang berkembang dari warga sekitar, makam tersebut adalah kuburan sesepuh desa. Kuburan tersebut terkenal angker. Ada juga pemandian atau dikenal dengan sebutan Sendang yang berfungsi sebagai sumber air minum dan juga pemandian warga.

Wiwin tampak gelisah. Aku pun tiba-tiba merinding. Berkali-kali aku mengucap istighfar mengingat suasana jadi menegangkan. Padahal lokasi kegiatan tinggal beberapa meter lagi. Suasananya pun terasa jadi hening. tiba-tiba..

Pruaaaaak…..

“Astaghfirullah….astaghfirullah….” Wiwin spontan mengucap istighfar.

Ternyata suara tersebut adalah ranting pohon jati yang patah dari pohonnya karena rapuh. Sialnya situasinya berbarengan dengan kami yang sejak tadi tegang oleh rasa takut.

“Sini Win, aku gentian yang bawa motornya,” ucapku melihat dia tampak lelah.

“Sudah kamu yang dorong saja lah, tuh anak-anak juga sudah kelihatan wujudnya,” balasnya.

Melihat kami yang mendorong motor,  Nisa, Diki, Ubed saling bersahutan memanggil kami dan menghampiri untuk menyambut kami. Tingkah mereka sangat kekanak-kanakan. Terutama Nisa yang tampak begitu senang dengan kedatangan kami yang disambutnya dengan pelukan hangat. Fika, selaku komandan korp pelajar putri datang belakangan. Dia menyapa kami ramah.

“Kenapa motornya? Digangguin Mbak Kunti ya?” Diki usil bertanya.

Husssshh… Nisa memotong candaan Diki, ia lalu menghampiriku.

“Bagaimana siap tinggal di sini dua malam?” dia pun ikutan jahil.

“Aman kan tapi?” Wiwin yang menimpalinya dengan serius.

“Sejauh ini sih belum pernah ada kejadian kesurupan atau apa ya, gak tahu kalau kakak pembinannya cantik-cantik kayak kalian,” kali ini Ubed yang nimbrung. kompak kami semua bersorak mencibir gombalan Ubed. Suasana pun menjadi sangat cair.

Aku dan Wiwin saling berpandangan. Mereka tidak tahu saja bahwa perjalanan ke lokasi ini sudah menantang adrenalin kami. Aku pasrahkan saja sama Allah atas semua hal yang terjadi. Harapannya tidak ada satu kejadian pun yang menganggu proses berjalannya kegiatan perkemahan kader-kader IPNU-IPPNU yang berlangsung di Kecamatan Sambeng, batinku.

Aku melihat antusias peserta yang begitu banyak menjadi yakin bahwa kegiatan ini akan berlangsung dengan meriah dan sukses. Beberapa peserta yang mengenali kami saling berebut menyambut tangan untuk salaman. Panitia lalu memberi waktu kami untuk beristirahat ke tenda yang disiapkan. Ternyata acara pembukaan mundur satu jam lagi. Aku dan Wiwin saling pandang lagi; KEBIASAAN.

Aku dan Wiwin bersiap untuk masuk ke tenda yang ukurannya tak lebih besar dari peserta lainnya. Ku lihat juga sudah banyak tumpukan tas ransel yang tak tertata rapi. Ketika kepala mulai menunduk untuk masuk tenda, terdengar teriakan keras dari arah yang tak jauh dari kami.

“Tolong….. toloooong.. ada yang kesurupan” begitulah ku dengar salah seorang yang teriak.

Wiwin langsung ku lihat pucat pasi. Aku pun yang tadi sudah berharap tidak ada kejadian apa pun, menjadi termangu. Bagaimana nasib kami setelah ini?

Minggu, 01 Desember 2019

Waktu Bersamamu



Aku berjalan penuh semangat menuju ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta Terminal III. Aku akan melakukan penerbangan ke Surabaya, menjemput Oma yang ingin merayakan Natal di Jakarta. Ku lihat ornamen natal sudah mulai menghiasi sudut-sudut Bandara. Pemandangan ini memang sudah biasa aku lihat di ruang-ruang publik. Aku bersyukur tinggal di Indonesia, karena walaupun agama yang aku anut adalah minoritas, tetapi mendapatkan sikap baik dari negara dan masyarakat lainnya. Jujur, masih banyak kasus diskriminasi di daerah lain terkait susahnya mendirikan Gereja. Aku pikir itu hanya masalah waktu, kita semua pada akhirnya akan saling dewasa menyikapi perbedaan.

Mengingat masalah sikap dewasa terhadap perbedaan, aku jadi teringat seseorang. Dia pernah menjadi bagian penting dalam hidupku, keluargaku, dan khususnya bagi Kak Tania. Sudah lama aku tak mendengar kabar tentangnya. Oh, aku salah. Bahkan dia tak pernah mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Kalau diingat, sangat menyakitkan.

Mas Bayu, kamu apa kabar? Tanpa kuasa aku bergumang sendiri di ruang tunggu bandara.

Ku lirik jam tanganku, waktu boarding masih 10 menit lagi. Ku putuskan untuk mengabari Oma kalau sebentar lagi aku akan terbang ke Surabaya. Aku juga membalas pesan Mama yang menanyakan apakah aku sudah boarding. Pada waktu yang bersamaan, Kak Tania mengabarkan bahwa ia bersiap menuju Melbourne Airport menuju Jakarta. Kakakku itu sudah 2 tahun tak pulang waktu natal. Dan tahun ini ingin merayakan natal bersama keluarga. Ia dapat cuti panjang.

Informasi boarding pesawat sudah diumumkan. Aku sekarang ikut antrian masuk bersama penumpang lainnya. Ku ambil koran yang ditata di rak pintu masuk pesawat. Headline berita hari ini adalah kegiatan Reuni 212 yang digelar di Monumen Nasional. Aku tertarik membaca berbagai pandangan tokoh mengenai kegiatan tersebut. Kalau masih ada Mas Bayu, maka aku bisa meminta tanggapannya mengenai kegiatan tersebut. Ah, kenapa pikiranku kembali teringat mas Bayu.

Nomor kursi yang ku duduki telah siap ditempati. Aku sengaja memilih tempat duduk dekat jendela, supaya bebas memandang luasnya angkasa. Di waktu yang bersamaan peringatan penerbangan dibunyikan, ingatanku kembali ke peristiwa lima tahun silam.

*****

22 Maret 2014

“Calv.. kamu tega ya. Bayu itu baru balik dari Bandung loh!” Kak Tania menatapku tajam.

Mama dan Papa pun menatapku kesal. Semua orang tak ada yang mendukungku. Benarkah aku kekanak-kanakan? Ku lirik Mas Bayu yang duduk di sofa. Dia memang tampak kelelahan. Aku jadi menyesali sesuatu.

“Mas Bayu kayaknya kelelahan ya?” aku berucap ragu.

Dia membuka matanya. Raut wajahnya dibuat penuh semangat. Aku tahu dia lelah, tapi…

“Kakakmu itu hanya khawtair sama aku Calv. Tenang saja, aku masih siap kok nganter kamu ke mana saja,” ucapnya meyakinkan.

“Yakin?” aku senang mendengar jawabannya.

“Ayok buruan. Tuh Mama sama Papa sudah siap makan kamu..” godanya usil yang membuat kami sekeluarga tertawa.

Semangatnya tinggi, tapi badannya rapuh. Bagaimana pun usahanya buat aku senang, nganterin aku Futsal, beli sepatu, dan makan es krim, Besoknya aku jadi sasaran kemarahan Kak Tania karena Mas Bayu sakit.

17 Agustus 2014

Mataku terbuka. Tubuhku susah digerakkan. Rasanya sakit semua. Tampaknya aku sudah lama sekali pingsan. Tak ada satu pun orang yang lihat. Ketika aku menggerakkan tangan, aku menyentuh kepala seseorang. Ketika aku berusaha bangun untuk melihat siapa sosok itu, ternyata Mas Bayu.
Ku lihat tidurnya sangat nyenyak, tapi aku kasian dia tidur duduk di kursi dan bertumpuan di tempat tidurku. Untuk membangunkannya, ku usap rambutnya yang ikal pelan-pelan. Sejak kapan Mas Bayu ada di sini? Batinku dengan perasaan bahagia sekaligus tidak enak hati telah merepotkan.
Lama ku usap, dia tak kunjung sadar. Hingga aku tak sengaja menyentuk telinganya. Dia terhenyak kaget. Kepalanya langsung tegak.

“Eh, kamu sudah siuman Calv?” Ucap Mas Bayu sambil merapikan rambutnya.

“Sejak kapan mas?” tanyaku.

Belum sempat terjawab, pintu ruangan terbuka. Muncul Kak Tania dan Mama membawa makanan.
“Wah, doamu terkabul ya Bay.” Mama berkomentar.

Aku menatap Mas Bayu meminta penjelasan. Namun malah Kak Tania yang jawab.

“Bayu itu sudah tiga hari di sini, nunggu kamu. Dia gak mau disuruh pulang, katanya sebelum lihat kamu siuman, dia gak bakal pergi. Kasian tuh demi kamu dia bolos kuliah kan,” ucapnya.

Mendengar jawaban Kak Tania, aku jadi merasa bersalah.

“Jangan dengerin ucapan kakakmu Calv. Itu berlebihan. Tenang kok, bolosnya gak sebanyak itu. Hanya sehari, karena dua harinya memang gak ada dosen,” jelas Mas Bayu.

Selalu begitu. Mas Bayu tak mau aku kepikiran. Tapi ucapan Kak Tania menjadi bukti bahwa aku semakin takut kehilangan dia. Bagaimana pun aku sadar, Mas Bayu berbeda dengan keluarga kami.

25 Desember 2014

Aku sedih. Kata Kak Tania, Mas Bayu tidak bisa datang ke rumah untuk merayakan natal bersama keluarga kami. Dia memilih pulang kampung ke Surabaya. Berkali-kali Mama dan Papa mengetuk pintu kamar, aku tak bergeming. Aku malas keluar kamar kalau tak ada Mas Bayu. Namun ketukan pintu terus menerus berbunyi, tak ada lagi suara Mama atau Kak Tania. Ku diamkan saja ketukannya semakin keras. Akhirnya aku kesal juga dengan ketukan itu.

“Sudahlah Ma. Biarin aku….” Suaraku tercekat.

Ternyata di depan mataku bukan Mama atau Kak Tania, melainkan Mas Bayu. Aku segera memeluknya. Tangisku pecah.

Tega sekali keluargaku memberi kejutan ini. Mas Bayu malah ikutan mengejek.
Ia lalu mengeluarkan sebuah benda dari sakunya. Ternyata sebuah gantungan kunci berbentuk logo kampus UGM.

“Janji sama Mas Bayu. Pada Natal ini, kamu bilang ke Tuhan bahwa nanti lulus SMA, akan masuk UGM. Ayoo!!” ucapnya.

Aku semakin tak kuasa menahan tangisku. Ucapan Mas Bayu telah memotivasiku untuk bisa diterima di kampus ternama itu. Aku semakin mengeratkan pelukanku di badannya. Namun tak lama terdengar suara Adzan. Aku menatapnya paham.

“Salatnya di kamarku saja ya mas. Ada sajadahnya kok,” ucapku dibalas anggukan.

Desember itu ternyata menjadi momen terakhirku mendapatkan perhatiannya.

11 Januari 2015

Usai melaksanakan ibadah minggu, Kak Tania pergi berdua dengan Mas Bayu. Aku ingin ikut bareng mereka, tapi kali ini Mama dan Papa sangat tegas melarangku. Entahlah sepertinya sudah ada firasat bahwa aku tak akan bertemu dengannya lagi.

Ternyata benar saja, Kak Tania pulang sendiri. Ku lihat wajahnya abis nangis. Mama dan Papa segera menghampirinya.

Duaaaar…. Bagaikan disambar petir. Hatiku benar-benar hancur mendengar bahwa Kak Tania dan Mas Bayu memutuskan untuk berpisah. Bukan karena mereka sudah tak saling sayang. Melainkan perbedaan keyakinan di antara mereka yang membuat hubungan itu tak ada masa depan. Lalu untuk apa mereka memutuskan bersatu selama ini kalau hanya untuk pergi?

Pasca mendengar kabar itu, hari-hariku buruk. Nilai semesterku merosot hingga Mama ku khawatir aku tidak lulus sekolah.

*****

Waktu berlalu lima tahun penuh perjuangan. Lamunanku tersadarkan ketika pramugari menawarkan makanan dan minuman untukku.

Usai makan, aku kembali mengingat semuanya. Ternyata Mas Bayu memang sangat berarti buatku. Dia layak untuk tetap diingat dan dikenang walau tanpa kabar lagi. Seandainya dia ada di depanku sekarang, maka inilah yang akan ku katakan:

Entahlah Mas, semenjak kamu pergi tanpa pamitan, semua kebiasaan yang melibatkanmu tak lagi aku lakukan. Enggak mudah mas, menghapus begitu saja apa yang sudah pernah kita lewati, perhatian yang kamu berikan, dan canda tawa yang kerap kamu tampilkan, masih terasa segar di ingatan. Apakah kamu berfikiran yang sama Mas?

Mbak Tania, tanggal 23 Desember nanti tunangan, dia juga memenuhi janjinya untuk menikah bersama orang yang rajin ibadah, dia aktif di Gereja Bagaimana denganmu mas? Apakah kamu sendiri sudah menikah? Atau jangan-jangan malah kamu sudah punya anak, yang aku bayangkan, anakmu akan segokil kamu Mas.

Lima tahun ternyata tidak merubah semuanya Mas. Aku, Mama, Papa, bahkan Kak Tania sendiri, aku menyaksikan masih suka salah menyebut calon suaminya dengan namamu. Untung saja Mas Andi tidak pernah mempermasalahkan tabiat itu, dia sangat menyayangi Kak Tania. Sama seperti kamu dulu hadir untuk membuat keluarga ini serasa hidup mas.

Kamu tahu Mas, sajadah yang sengaja Mama belikan untukmu supaya tidak kesulitan ketika ingin Salat, masih tersimpan di lemariku. Bahkan sesekali barang itu aku peluk ketika merindukanmu, Mas. Melihat barang itu, bahkan aku sering melihat gerakan yang tak pernah aku mengerti, tapi aku melihat ketaatanmu pada-Nya, Mas.

Mas, sebelum kamu hadir di keluarga kami, aku takut berteman dengan orang-orang yang seiman denganmu. Bahkan beberapa kali aku mengalami tindakan yang tidak patut hanya karena aku seorang Kristen. Lalu kamu hadir merubah segalanya, Mas. Islam tampil dengan Kasih, sama seperti apa yang diajarkan Tuhan Yesus pada kami. Hal yang tak pernah aku lupakan, setiap minggu kamu datang mengedor pintu kamarku, tak segan membopongku ke kamar mandi, supaya tidak telat untuk ibadah Minggu.

Kamu masih ingat, Mas?

Mama, Papa, dan Kak Tania memarahiku gara-gara memintamu mengantarkanku beli sepatu Futsal di Mall Taman Anggrek. Padahal waktu itu baru saja kamu pulang dari Bandung. Aku merengek tidak peduli, dan kamu berhasil meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. Namun ketika kamu tertidur di mobil, baru aku sadar bahwa kamu sangat kelelahan, Mas. Demi aku, kamu melakukan semuanya.

Kamu tahu Mas, Kak Tania sering cemburu sama adiknya ini gara-gara kamu lebih perhatian ke aku dibandingkan ke dia. Bahkan intensitas pertemuanmu denganku bisa dibilang lebih banyak. Aku tak bisa menghitung, berapa kali kamu menjemputku sekolah di SMAK 1 BPK Penabur. Terkadang, kamu menjemput aku lebih dulu sebelum ke arah Semanggi menjemput Kak Tania selesai kuliah.

Tapi kenapa kamu pergi meninggalkan aku, Mas?

Kak Tania bilang, kamu tidak sanggup melihat wajah sedihku ketika berpamitan. Mas, kamu pikir dengan kamu pergi tanpa bisa aku ngasih tahu kamu betapa berartinya kamu buatku, aku akan bahagia?

Kamu salah, Mas. Setelah lima tahun, aku baru bisa menuliskan betapa aku sangat kehilangan kamu. Butuh waktu dan hati yang lapang untuk bilang, aku kangen kamu. Selebihnya, rasa kecewa, marah, dan benci masih menggunung atas kepergianmu. Kamu telah mengingkari janjimu untuk selalu menjagaku.

Kenapa kamu hadir hanya untuk meninggalkanku, Mas? Kenapa?

Sejak awal kamu kenal Kak Tania dan masuk ke dalam keluarga kami, seharusnya aku sudah menjaga diri untuk tidak tenggelam dalam perasaan senyaman ini denganmu, Mas. Seharusnya aku tidak boleh terlalu berharap bahwa kamu akan menjadi Kakak Iparku. Kamu dan Kak Tania, tidak seperti pasangan pada umumnya. Tapi, aku seperti ada harapan ketika kamu mau belajar tentang agama kami, Kak Tania belajar tentang agamamu. Ada sebuah asa bahwa kelak kalian akan berada di altar suci pernikahan yang entah dengan cara kami atau dengan caramu, sungguh aku menghormati keputusan hidup kalian, bahkan Mama dan Papa pun sepakat akan hal itu.

Siapa yang mengira bahwa ternyata keputusan terakhir justru membuat kalian benar-benar tak akan pernah bersatu dalam ikatan pernikahan. Kak Tania pun kini akan segera menikah dan itu semakin memudarkan harapanku bahwa cinta kalian akan bersatu kembali.

Mas, di mana pun kamu berada. Semoga Tuhan selalu memberkatimu. Dalam doa yang Khitmad ini, aku berharap ada mukjizat yang membuatmu membaca tulisan ini. Besar harapan Kado Natalku tahun ini adalah kamu datang ke Yogya. Kenapa ke Yogya? Seperti yang pernah aku sampaikan ke kamu, Mas. Aku berhasil masuk UGM, atas usahaku membujuk Mama dan Papa supaya mengizinkanku kuliah di tempat itu. Kalau kamu masih ingat jurusan apa yang aku inginkan, Puji Tuhan aku diterima.

Sekarang, yang terpenting bukan lagi kamu bersatu sama Kak Tania. Toh dia akhirnya bisa memilih lelaki yang sebenarnya sesuai harapanmu, Pemuda Gereja. Keluarga kami, khususnya aku berharap kamu bisa berdamai dengan masa lalu mu, Mas. Menerima kami yang pernah menjadi bagian dari hidupmu, lalu kamu menyapa kami dengan hati yang damai. Sama seperti kami yang sudah damai menerimamu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keluarga ini.

Aku percaya, kamu masih menjalankan ajaran agama yang inklusif. Kamu masih Mas-ku yang menghargai perbedaan, menjaga kerukunan umat beragama, dan menebarkan pesan kemanusiaan. Kamu tidak sendirian Mas, banyak di luar sana yang sependapat denganmu.

Aku tunggu di Yogya ya, Mas. Salam Kangen Dari Adikmu. Calvin..

Informasi pesawat segera landing telah menyelesaikan lamunanku. Ku tutup koran yang tadi sempat ku baca. Aku membesarkan hati untuk keluar pesawat. Aku tak boleh larut dengan masa lalu. Oma katanya ikut menjemputku di Bandara Djuanda.

Sampai di pintu keluar, aku terpaku berjarak satu meter dengan orang yang ku kenali. Tidak hanya ada Mas Parjo, supirnya Oma. Ah dia….

Mas Bayu……?

Rabu, 20 November 2019

Hikmah Jalan Sendiri


Aku baru saja turun dari gerbong kereta api. Ini perjalanan pertamaku sendirian ke Tegal menggunakan kereta api. Ternyata tidak semenakutkan apa yang ku bayangkan. Bahkan pelayanan di kereta api tidak kalah dari pesawat terbang.

Di pintu keluar, pandanganku memutar ke kiri dan kanan, mencari orang yang dijanjikan Desi untuk menjemputku. Tak lama ada seorang lelaki muda menghampiriku.

“Mbak Dewi ya?” ucapnya.

Aku mengangguk. Ternyata dia Rohman, masih sepupunya Desi. Batinku, tampan juga.
Rohman orangnya sangat asik. Perjalanan yang aku akan tempuh setengah jam tampaknya tak akan terasa. Hampir sempat aku menaruh hati padanya, ternyata dia sudah punya istri. Astgahfirullah.. bagaimana bisa aku naksir suami orang.

Benar saja, Rohman bercerita banyak hal tentang lika liku mendapatkan istrinya yang merupakan anak dari Kiai kampung yang sangat dihormati di tempatnya. Istilah Rohman, menyebut istrinya adalah “Neng” panggilan untuk anak kiyai. Apabila mengingat indahnya perjuangan mencintai dan mendapatkan cinta seorang “Neng”, tentu sangat membanggakan. Ternyata ketika menikah, Rohman menemukan banyak hal yang tak seindah itu. Status sosial yang berbeda jauh, membuat Rohman dan keluarga banyak mendapat pandangan sinis dari orang lain. sempat Rohman frustasi dengan kondisi itu. Tapi bagi Rohman, ia telah memilih jalan ini, berpisah bukan pilihan yang baik walau diizinkan Tuhan.

“Gak ada yang sempurna mbak di dunia ini, gak bakal ketemu apabila terus-terusan menuruti kenyamanan, makanya orang-orang kota mudah sekali cerai,” ucap Rohman menohok.

“Lalu apa dong kalau bukan nyari kenyamanan?” kulikku tertarik membahasnya.

“Kembalikan itu pada Allah mbak, kan Dia yang mengatur semua hal, termasuk tuh, Bajing (Tupai) yang makan mangga,” ucapnya sambil menunjuk ke luar.

Seketika aku mengingat hal yang sudah ku alami beberapa hari yang lalu.

****

Ku ikat rambutku yang sejak tadi menganggu pandangan. Aku berjalan cepat mengejar keterlambatan memenuhi janji dengan seseorang. Rasanya berat sekali aku menemuinya, tapi aku harus lakukan. Bahkan kata-kata yang sudah ku siapkan tadi sebelum berangkat, kini rasanya kosong. Padahal langkah tak mungkin berjalan mundur. Dan akhirnya jarak antara aku dan dia semakin jelas terlihat. Dia menatapku dengan senyuman yang tampak dipaksakan.

Usai memesan segelas Manggo Passion Fruit, aku menghampirinya. Aku tak mampu lagi basa-basi.

“Daf.. kamu tahu tujuan perkenalan kita?” tanyaku.

“Minum dulu lah..” dia berusaha menghindari pertanyaanku.

“Daffin, kamu gak bisa begini terus. Aku capek!” keluhku.

Daffin lalu membenarkan kacamatanya. Ia menunduk lama dan menahan nafas dalam. Setelah itu dia baru berani menatapku.

“Dew… aku ingin serius sama kamu” ucapnya.

“Serius seperti apa?” tanyaku.

“Ya, aku ingin menikahimu. Aku kan pernah bilang Feburari tahun depan ingin menikah,” ucapnya.

“I see. Terus apa yang sudah kamu siapkan untuk pernikahanmu?” kulikku.

“Aku gak tahu apa yang perlu disiapkan. Memangnya pernikahan itu harus menyiapkan apa?” ucapnya tanpa berdosa.

Astaga, dalam hati aku terperangah. Detik itu juga aku meyakinkan diri bahwa dia bukan pilihan yang tepat.

“Kamu cari tahu dulu apa itu pernikahan, baru hubungi aku lagi. Eh, Sorry. Untuk beberapa hari mungkin aku akan sulit dihubungi. Assalamualaikum…” ucapku tanpa menunggu balasannya. Ku bawa minuman yang belum sempat aku minum.

Keluar dari tempat yang mendebarkan, perasaanku lega. Aku tak lagi berat melangkah. Rasanya tak ada lagi rantai yang mengikat kakiku. Aku cepat sekali sampai di MRT Senayan. Ku buka ponselku mengirimkan pesan ke seseorang.

“Jaka.. kamu sudah pulang kerja?” pesan terkirim.

“Ini lagi persiapan. Ada apa Dew?” balasnya.

Please! Aku pengen ketemu, bisa ya?” pesan terkirim.

Jaka pun mengabulkan permintaanku. Tampaknya Cuma Jaka yang mengerti kondisiku. Lama aku tak menghubunginya lagi, berbagai kesibukan di antara kami membuat waktu luang semakin susah. Atau jangan-jangan selama ini aku yang terlalu sibuk dengan petualangan mencari pasangan.

Menunggu setengah jam, Jaka akhirnya sampai. Dia yang memutuskan lokasi di daerah Menteng. Ada sebuah kedai kopi yang menurutnya nyaman untuk ngobrol. Dan benar saja, aku merasa lebih tenang dibandingkan tadi.

“Agak putihan ya kamu sekarang?” godaku.

“Wah skincare nya cocok ya say...” ucapnya dibuat semanis mungkin.

Aku spontan tertawa riang. Celetukan Jaka ini yang terkadang membuatku lupa kalau banyak beban hidup yang menggelayut dalam kepala.

“Kamu sadar gak Jak?” ku masih ingin menggodanya.

“Sadar kok. Kamu setelah tiga bulan gak hubungi aku, dan hubungi lagi pasti mau curhat kan?” tebaknya yang menohok. Aku jadi terbawa perasaan.

“Hei. Serius banget. Bercanda Dew. I see, terkadang kita butuh waktu jeda untuk kemudian kita mengerti rasanya kangen. “ ucapnya mengerlingkan mata.

“Maksud lo……” aku menjitak kepalanya.

Begitulah menu pembuka pertemuan kita kembali. Benar saja, tujuanku menemui Jaka adalah ingin menceritakan kegundahan hati tentang perjalanan asmara yang selalu kandas. Kenapa aku bilang selalu? Untuk orang yang aku ceritakan ke Jaka saja, sudah lebih dari 10 orang dan itu dalam periode 1 tahun. Buat kalian para perempuan cantik yang selalu dicap pilih-pilih, katakan pada cowok, memang untuk urusan bersama seseorang seumur hidup itu tidak bisa main-main. Kan kita akan melewati banyak hal seumur hidup bersama dia kan?

Baiklah, kembali ke meja obrolanku dengan Jaka. Aku telah menceritakan kembali siapa sosok Daffin. Jaka pun tampaknya mulai memenukan ide untukku.

“Dew. Banyak hal yang kadang kita tidak mengerti apa yang sudah Tuhan rencanakan, termasuk pertemuanmu dengan Daffin. Apalagi itu sepupumu sendiri yang mengenalkan. Harusnya dia sudah tahu dong resiko mengenalkan sosok lelaki yang religius. Artinya, berhenti minta kenalan-kenalan dari siapa pun, termasuk aku.” Ucapnya.

“Pastinya lah Jak. Bukannya jadi pacar aku, malah kamu embat.” Komentarku.

“Heh, mulut gak sekolah tuh. Ngomong asal saja,” sela Jaka sambil melemparkan gulungan tisu ke wajahku. Untung saja aku masih bisa mengelak.

I have opinion ini ya, kalau mau dengar ya syukur,” Jaka mulai serius.
“Cepat katakan!!” ucapku tak sabar.

“Kamu masih punya jatah cuti berapa hari, coba deh dibuat untuk solo trip. Terkadang, perjalanan lah yang mampu membuka semua hal, mengenal diri lebih baik, dan melihat sesuatu lebih jernih. Akan ada momen dalam perjalanan itu kamu akan menarik mundur semua hal yang sudah kamu lakukan, termasuk kenapa selama ini selalu gagal menjalin hubungan. Ya selain itu, siapa tahu di jalan ada yang ngajak kenalan kan bonus,” usul Jaka.

****

“Mbak Dewi… ayo turun sudah sampai,” ucap Rohman menyadarkan lamunanku.

Aku menatapnya dengan perasaan terima kasih. Baru saja aku melakukan perjalanan sudah dapat pelajaran penting. Belum lagi kalau aku melihat cerita teman kuliahku, Desi. Dia memutuskan tinggal di Tegal demi ikut suaminya yang berbisnis telur asin. Padahal di kampus dia sering mendapat kesempatan keluar negeri untuk konferensi. Aku yakin ada banyak hal yang belum ia ceritakan tentang pilihan tersebut. Jaka benar, melakukan solo trip akan leluasa membuat pikiran kita terbuka dengan sendirinya tanpa diminta.

Desi menggendong anaknya menyapaku. Aku dibuat tertegun, kecantikannya yang dulu seketika sirna dari pandanganku. Dia memang memutuskan tidak aktif di media sosial. Bagaimana dia bisa hidup dengan sedemikian sederhana?

Aku pun segera menyadari, kenyamanan adalah bahasa semu yang tak akan mampu dikejar. Kita bisa bilang siang hari itu cerah, tapi orang lain bisa mengatakan senja amat mempesona, dan malam begitu gemerlap. Definisinya tak pernah mutlak, melainkan penerimaan hatilah yang membuat definisi itu ada.

Kalau kata Sandra Dewi dalam wawancaranya dengan Melaney Ricardo menyebut: It’s Okey to be not perfect.