Postingan

Cinta Yang Menyakitkan (Part 5)

Gambar
Mendung menggantung di langit-langit Makam. Suasana duka masih menyelimuti keluarga Lala. Tanah kuburan baru saja menutupi jasat kembang desa itu. Bunga kamboja ikut berguguran mengirim rasa empati yang mendalam atas terpisahnya dua insan yang saling mencintai itu. Burung Gagak tak berniat lagi untuk bersiul, kehadirannya sudah cukup bukti bahwa duka kehilangan itu sangat nyata. Kepergian Lala diantarkan oleh orang sekampung. Menurut tradisi di kampung tersebut juga ditanamkan pohon pisang pada tanah makam. Hal itu dilakukan mengingat gadis tersebut belum menikah. Tak seperti biasanya, pemakaman Lala menjadi sangat istimewa dengan bumbu kisah cinta yang memilukan. Banyak pemuda desa yang mengagumi dan berniat untuk menjadi pendampingnya. Bahkan tunangannya merelakan diri pulang dari Malaysia demi ingin melihat jasad terakhir orang yang seharusnya ia nikahi nanti. Bapaknya pingsan berkali-kali di pemakamam, ketika sadar ia pun tak bergeming sama sekali. Prosesi mengadzankan jenazah pu

Cinta Yang Menyakitkan (Part 4)

Gambar
Selama dua belas jam lebih perjalanan ditempuh Amir hingga tiba di Stasiun Babat, Jawa Timur. Bersamaan dengan penumpang lainnya, ia berdesakan keluar gerbong kereta. Karena tidak butuh waktu lama untuk kereta berhenti dan kembali melanjutkan perjalanan. Ada seorang perempuan tua terlihat hati-hati menuruni tangga gerbong yang jaraknya cukup tinggi dari lantai peron. Bagi penumpang dengan barang bawaan yang melebihi kesanggupannya menggunakan jasa panggul di stasiun. Mereka sigap dengan pekerjaannya, kebiasaan setiap hari membuat beban itu terasa ringan. Hamparan hijau langsung menyapa di antara sambungan rel kereta yang memanjang. Lampu peron masih menyala tanda pagi belum sepenuhnya menyapa. Petugas berseragam biru tua mengurai senyum dengan badan tetap tegak berdiri di posisi masing-masing. Penumpang yang tadi berjubel keluar teratur menuju arah pintu keluar. Usai melewati pos pintu keluar stasiun, Amir sudah disambut kakak ipar yang menjemputnya, Awi namanya. Lelaki yang bersedia

Cinta Yang Menyakitkan (Part 3)

Gambar
Ujian Semester ganjil telah usai. Artinya jadwal libur panjang semester mulai berlangsung. Sudah menjadi hal yang rutin bagi Amir untuk pulang kampung. Namun libur kali ini suasananya berbeda. Ia tak hanya pulang untuk melepas rindu kepada kedua orangtuanya. Ia akan menyelesaikan persoalan hati yang belum usai. Sekarang, Amir terlihat memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas ransel. Sesuai tiket kereta yang sudah dipesan jauh hari sebelumnya, Amir dijadwalkan pulang pada 25 Januari 2010 pukul 15:45 wib. Tak ada barang khusus yang disiapkan, kecuali pakaian ganti. Namun belum selesai, suara pintu diketuk. “Mir, masakannya sudah siap. Makan dulu gih,” suara Santi dari luar kamar. “Iya, Kak.” Jawab Amir. Melangkah menuruni tangga, Amir kaget karena secara mendadak lemparan bola karet mengenai perutnya. Ia langsung menyadari terjadinya kehebohan di lantai bawah oleh aktivitas kedua ponakannya yang sedang bermain. Ia lalu bergegas membantu kakaknya menghidangkan makanan. “Tolong bantu

Cinta Yang Menyakitkan (Part 2)

Gambar
Perjalanan selama satu jam dari kampus ke rumah ternyata tidak menghilangkan pikiran Amir. Sambil ia memakirkan motor SupraX miliknya, ia masih bergelut dengan prasangka-prasangka. Rumah terlihat sepi, Ia segera mencari kunci rumah yang sudah biasa diletakkan di lokasi tersembunyi yang diketahuinya. Tampaknya sang kakak sedang pergi sekeluarga. Ketika ia hendak melepas sepatu, tetangga sebelah menyapa. “Sudah pulang kuliah mas?” Ujar Mbak Pri, nama perempuan itu. Ia sedang menenteng barang belanjaan dari swalayan. “Iya ini. pada keluar ya?” Ujar Amir basa-basi siapa tahu Mbak Pri mengetahui kepergian kakaknya. “Iya, barusan banget. Sudah pegang kunci kan?” timpal Mbak Pri. Amir mengangguk sambil menunjukkan kunci di tangannya. Meselat ke ruang lantai dua, Amir memasuki kamar tidurnya untuk berganti pakaian. Selanjutnya, ia menuju ke dapur untuk mengambil minuman dingin di kulkas. Jus Melon kesukaannya langsung masuk tenggorokannya. Tak lama setelah ia beristirahat, ponsel yang dig

Cinta Yang Menyakitkan (Part 1)

Gambar
Musim hujan memang dilematis, ketika petani butuh siraman air untuk sawah dan kebun mereka, maka penduduk perkotaan lebih mencintai awan gelap tanpa hujan. salah satunya, Amir seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas swasta Jakarta, ia terlihat gusar di beranda rumahnya. Pasalnya, dia harus pergi ke kampus untuk mengikuti ujian sementer ganjil perdananya. Ia yang malamnya sudah belajar kisi-kisi yang diberikan dosen Pengantar Ilmu Politik, telah yakin bisa merampungkan soal yang diujikan. Namun kendala menyapanya ketika pagi penuh genangan air di depan rumahnya. Pandangan mata tak terlepas bergantian antara jam tangan dan langit. Amir semakin tidak sabar menanti hujan reda ketika waktu sudah menunjukkan pukul 07:00 WIB. Sedangkan ujian dilaksanakan pukul 09:00 WIB. Butuh waktu 1,5 jam untuk sampai di kampus apabila kondisi tidak hujan. Nah ketika hujan, bisa saja butuh waktu lebih lama, apalagi ketika ada jalanan yang memiliki genangan cukup tinggi. Jas hujan yang terbungkus r

Perjuangan Cinta Menyok (Part 3)

Gambar
Menyok memikirkan banyak hal akhir-akhir ini. Sikap Lindri yang masih tak bisa ditebaknya, sekaligus mengenai rencana Gethuk yang akan lanjut kuliah. Ia mengingat hari di mana kakak dari suaminya datang berkunjung ke rumah. Kedatangannya berkenaan dengan rencana mengajak Gethuk untuk kuliah di sana. Entah kenapa, perasaan yang harusnya bahagia menjadi sulit dijelaskan. Sambil menunggu singkong rebusnya matang, pikirannya terus menerawang tentang masa depan keluarganya. “Berapa lama lagi matang emak?” Gethuk mengagetkannya. “Sampai kaget begitu emak. Lagi ngelamunin apa toh?” Gethuk menangkap gestur emaknya yang tampak tak fokus. “Jam berapa ya kira-kira pakdemu datang?” Menyok malah menyinggung tentang kedatangan Kakak Iparnya, yaitu Pur. “Masih dua jam lagi emak. Belum masak ya?” timpal Gethuk. “Nanti belikan saja rawon di warung dekat kator lurah ya nak,” ucap Menyok. Gethuk mengangguk. Menyok kemudian dikagetkan dengan sikap Gethuk yang mendadak memeluknya. “Gethuk pasti kange

Perjuangan Cinta Menyok (Part 2)

Gambar
Rasa penasaran Lindri terhadap bagaimana kasih sayang Menyok atas dirinya masih belum menuai titik terang. Namun tampaknya hal itu tidak lama lagi. Ada momen yang membuat Lindri menyadari satu hal, yaitu wajah berbinar emaknya ketika akan menghadiri pengambilan rapor kakaknya, Gethuk. Betul saja, cukup beralasan kenapa Menyok sangat berbahagia, karena Gethuk dinyatakan lulus dengan hasil UN terbaik se-Jawa Timur. Berbeda dengan Lindri yang bahkan sepuluh besar di kelas saja tidak. Semua warga kampung ikut berpesta dengan kelulusan Gethuk. Sampi pak Kepala Desa menyambangi rumah kami dengan memberikan hadiah ke Gethuk. Tela, tetangga rumah Lindri pun tak ketinggalan untuk komentar. “Wah, Emak Menyok bangga sekali pasti ya, punya anak pinter begitu.” Menyok mengangguk senang mendapat pujian tersebut. Ia tak sadar akan sosok yang sedang terluka batinnya. “Iya, Gethuk kan dari dulu gak pernah bergeser rankingnya di kelas, selalu juara,” timpal Mbak Ruju. Hal itu menambah luka yang sema