Postingan

Game Kafimir

Gambar
Gadget sudah menjadi teman sehari-hari anak generasi Z. Namun beberapa di antara mereka masih menyukai permainan yang dilakukan bukan di dunia virtual. Salah satu anak itu adalah Alfi. Gadis kecil berambut gelombang, kulit sawo matang, dengan suara sedikit nge-bass, ditambah tertawanya membuat teman sepermainan ikut tertawa.
Uno!!
Itulah teriakan Alfi mendapati permainannya segera berakhir. Tinggal satu kartu saja yang ia pegang. Serius sekali dia menyembunyikan angka dan warna kartu supaya tak diketahui lawan mainnya. Ia sekarang bermain Uno bersama Amir, Melinda, dan Imah. Hampir setiap hari mereka bermain. Hingga orangtua dan tetangga berkomentar.
“Kalian ini apa gak bosan?” komemtar mereka.
Alfi dengan suara nge-bass nya berseloroh. “Gak budhe...” intonasi suaranya dibuat meliuk-liuk.
Kalian ada yang gemar bermain Uno? Bisa jadi kalian satu aliran dengan Alfi dan kawan-kawan.
Mereka berempat adalah pelajar SD kelas 4 yang sedang belajar di rumah karena ada pandemi virus Korona atau diken…

Dalgona Dari Dinda

Gambar
Kabar baik. Dinda telah dinyatakan sehat dan selesai menjalani masa karantina di rumah sakit. Dua minggu lebih dia menjalani isolasi sebagai pasien Covid-19, dan kini dinyatakan sembuh. Namun, ia masih disarankan untuk tetap di rumah saja oleh dokter.
"Aku kangen kamu, Gama" tulisnya di obrolan WA.
Senang rasanya membaca kalimat itu. Ternyata gak cuma aku yang merindukan Dinda. Hanya saja, aku tak bisa menebak, rindu seperti apa yang dimaksud. Apakah rindu yang dia pikirkan sama seperti yang ku pikirkan? Entahlah..
"Lama banget ngetiknya. Kamu mau bales chat, apa bikin cerpen, keburu ngantuk nih" komentarnya mendapati aku tak juga membalas pesannya, sedangkan terlihat di aplikasi aku sedang proses mengetik.
"Hahahaha" Aku akhirnya balas seperti itu.
"Dih.. apaan itu. Dikangenin kok cuma ketawa" tulisanya sambil membubuhkan stiker 😏. Kesal dia kayaknya.
"Dindaaa. Aku senang banget akhirnya kamu ngechat aku. Ku pikir kita gak akan bisa kayak gini …

Pandemi Selimuti Janji Suci

Gambar
Aku belum pernah mendapat tatapan semacam itu
dari bapak, sungguh kosong. Wajah ibuku juga sembab, aku tak tahu berapa kubik air mata yang keluar. Aku tak berani menanyakan apa yang terjadi, cukup WA grup yang menjelaskan semuanya. Aku akan menikah, tapi mereka tak terlihat bahagia. Sungguh, aku bukan anak durhaka. Keadaan memaksa kami menahan diri untuk pesta. Wabah virus Corona telah menyelimuti dunia, hingga ke negaraku Indonesia.

Perdebatan di obrolan WA grup terjadi ketika salah satu orang mengirim foto undangan pernikahanku. Aku mengamati apa yang terjadi, intinya mereka mempertanyakan apakah pesta pernikahanku akan tetap berlangsung di tengah peraturan pemerintah yang melarang terjadinya kerumunan. Obrolan itu menjadi bancakan di kampungku. Mereka tampaknya lupa kalau aku juga masuk grup Karang Taruna itu.
Tak lama setelah keramaian di grup itu, ponselku berdering. Ibuku melakukan panggilan.

“Iya bu..”

“Gimana nak.. kabarmu?” ucapnya dengan suara serak. Eh, apakah beliau abis …

Corona Merubah Kita

Gambar
Aku tak terbiasa sendirian. Hampir setiap hari tidak ada jadwal kosong untuk ketemu kamu. Ada saja hal yang membuat kita bisa bertemu; mengerjakan tugas kuliah, acara intra kampus, atau sekadar diskusi tentang buku baru, film baru, hingga berita popular untuk kita perbincangkan tanpa bosan. Dinda, namamu yang mudah diingat dan disebutkan. Aku ingat bau parfummu, baju kesukaanmu, bahkan hafal apa saja yang membuatmu nyaman dan kesal.
Sajak malam yang sering aku kirimkan melalui aplikasi LINE, kamu jawab dengan satu kata; Gombal. Tapi itu cukup membuatku bahagia. Karena setelahnya pasti kamu kirimkan stiker love. Aku ingat, satu kali kamu pernah mencoba melakukan hal yang sama, membuatkanku sajak, sama sekali gak memenuhi kaedah yang benar, tapi karena darimu aku suka. Bahkan aku screenshoot dan ku tampilkan di beranda LINE ku. Esoknya kamu datang pagi-pagi menggedor kamar kosku, menghukum ulahku dan meminta ditraktir nonton film Teman Tapi Nikah 2. Tak bisa ku tolak, aku senang apa pun …

Peluang Bersama

Gambar
Aku mengambil keputusan besar. Bagi lelaki dewasa, membawa seorang perempuan datang ke rumah bukanlah hal main-main. Pasti ada pertanyaan serius, siapa dia? Tidak mungkin dengan bercanda aku bilang ke keluarga; coba saja kenalan sendiri. Lalu aku berjalan cuek menuju kamar. Ah dimana akhlaknya? Begitulah mungkin komentar Erick Tohir, sang Menteri BUMN periode sekarang.
Mengenalkan Nabila, kekasihku ke keluarga harus dengan pertimbangan yang matang. Tidak boleh dengan ambisi atau egoisme semata. Aku tidak ingin menjadikannya perempuan yang dicap jelek oleh keluarga. Apalagi dia akan bersanding dengan ibuku, sebagai perempuan yang penting untuk aku perjuangkan dan bahagiakan. Namun, seperti keluarga lain yang ketat aturan soal bibit bebet dan bobot, maka Nabila harus masuk kriteria yang keluargaku inginkan, supaya kami berdua pun menjalani hari-hari dengan tentram.
Rencanaku membawa Nabila sudah ku kabarkan ke keluarga, bahkan semua kakakku menjadwalkan tanggal khusus untuk bisa menjadi s…

Jilbab Tidak Wajib!

Gambar
Anna, aku mencintaimu. Kalimat itu menjadi penanda hubungan kita berjalan hingga hari ini. genap satu tahun aku bersamanya. Melewati suka dan duka dengan komitmen yang sama, yakni berusaha saling menjaga hubungan sakral kita. Menerima apa yang tampak dan tidak tampak. Memahami sifat dan karakter yang sering memicu perkara. Rasanya sedang menjalani adegan drama korea.
“Billy, minta tolong dong, buka pintunya. Ada tamu kayaknya,” Anna teriak memanggilku yang sedang rebahan di pinggir kolam.
“Kamu sibuk apa? Aku lagi gak pakai baju nih,” jawabku.
“Kan buatin kamu sarapan. Ayolah sayang!” nada suaranya lebih manis.
“Baiklah, aku jalan,” ucapku sepakat.
Sebelum beranjak, aku mengenakan kaos lebih dulu. Ketika pintu ku buka, ternyata yang datang adalah Mamaku. Dia menampilkan senyum terbaiknya. Tampaknya dia senang membuatku kaget.
“Mama sendirian?” selidikku sambil mengamati sekitar.
“Ya enggak dong. Masak tega orang tua dibiarin sendirian,” aku dibuat kaget oleh Mama mertuaku.
“Mama bole…