Cari Blog Ini

Kamis, 25 April 2019

Mau Dikatakan Apalagi?


MENANGIS, hanya itu cara yang bisa ku lakukan sekarang. semua ketakutanku, keraguanku, dan sikap pengecutku setahun yang lalu telah menghukum diriku hari ini. Tidak, aku tidak ingin menyalahkannnya. Hanya saja, apakah semudah itu?

Tidak mudah, Mala. Siapa bilang mudah? Itulah jawaban darinya.

Ia lalu menghubungiku melalui panggilan video. Dia sekarang tampak lebih gemuk dari waktu bersamaku. Aku berusaha untuk menatapnya, memberanikan diri. Ia lalu menjelaskan semuanya, tentang dirinya dan kondisinya sekarang. aku harus siap mendengarkannya. Tak lagi aku ingin menghindari.

****

Kamu tahu, apa pun bisa terjadi dalam setahun.

Desember 2017, aku telah siap untuk melamarmu. Kamu tahu soal itu. Bahkan aku sudah menyiapkan tiket kepulanganku ke Surabaya. Ibu dan Bapakku pun sudah menyiapkan segalanya, selayaknya adat istiadat yang berlaku di rumah. Pada waktu yang bersamaan, aku sebenarnya ragu apakah hal bahagia itu akan terjadi. Hanya aku yang tahu, bahwa dalam dua bulan sebelumnya, kamunikasi kita sudah tampak renggang.

****

Ia lalu senyum. Sebuah senyum getir yang dipaksakan. Ia sedang membawaku pada ingatannya setahun silam. Sesuatu yang tak pernah aku bayangkan.

****

Mala, ibu ku sudah cerita ke tetangga-tetangga kalau anaknya akan segera melepas masa lajang. Ia bahkan memesan kelapa untuk segera dibuatkan Wingko, makanan wajib untuk melamar. Ah, aku tidak bisa membayangkan kebahagiaan ibu waktu itu. Apalagi Bapak, ia berkali-kali menolak pisang di kebunnya dibeli sama penjual pisang. Ia telah menyiapkan pisang terbaik yang dimilikinya.
aku terharu, ternyata mereka sangat menyayangiku.

*****

Kali ini aku yang menyeka air mataku. Rasa bersalah mendalam ini semakin menyesakkan. Tapi aku tetap ingin mendengarkan ceritanya, sampai dia merasa lega untuk mengungkapkan.

****

Jadwal kepulanganku tiba. Berbekal baju batik yang sudah ku siapkan dengan harga di atas yang biasanya aku beli. Aku ingin semuanya istimewa, right?

Aku pun telah mengabarimu kalau aku di hari itu pulang ke rumah dan ku tegaskan juga siap untuk melamarmu. Aku tetap percaya diri bahwa kamu siap ku pinang.

Sampai di rumah, ibu bapak ku mempertanyakan tanggal berapa keluarga kamu siap menerima kedatangan keluargaku. Wow, aku harus tetap tampil bahagia di depan mereka, walaupun aku semakin sadar bahwa harapan itu tampaknya tipis sekali. Kamu tak kunjung membalas pesanku. Bahkan teleponku tak juga kamu tanggapi. Hingga kamu menuliskan pesan yang membuatku mengerti bahwa semua telah berakhir di Januari.

Aku kecewa? Iya.

Aku sedih? Iya.

Aku marah? Iya.

Tapi aku merasa lega. Ternyata inilah jawaban dari Tuhan atas segala doa-doa yang ku sampaikan ketika bangun tidur dan malam menjelang tidur. Pesanmu yang membuat beragam pertanyaan itu tak lagi aku pedulikan, karena aku percaya dengan kehendak-Nya. Sederhana saja, ternyata kamu bukan JODOHKU.

Bagaimana dengan ibu bapakku?

Mereka memang tidak sesiap aku, bahkan sempat memaksaku untuk menemuimu. Namun pada akhirnya mereka mengerti, ANAKNYA TIDAK BOLEH SEDIH.

Dua minggu kemudian aku putuskan untuk kembali ke Jakarta. Kembali menata kehidupan dari nol. Mencari pekerjaan yang lebih layak. Untungnya tak perlu waktu lama, pekerjaan itu datang menghampiriku. Aku diterima di perusahaan penyedia barang dan jasa. Cukup bonafit dari gaji yang aku terima. Pekerjaan membuatku tak begitu merasakan patah hati ditinggalkan. Aku mengenal rekan-rekan kerja yang kompak dan saling mendukung. Hingga aku lebih dekat dengan perempuan bernama Lina, keponakan dari Kepala Bagian Perencanaan.

Lina perempuan yang baik. Obrolan kami nyambung, bahkan pada hal yang cukup pribadi. Visi misi hidup kita hampir sama. Dengan seiringnya waktu, tibalah dia menyatakan ingin menjalin hubungan serius denganku. Hanya saja aku ragu, Lina bukan perempuan biasa. Kasta kami cukup jauh dari keluargaku. Sebagai lelaki, hal yang umum akan tidak percaya diri dengan perbedaan kelas sosial yang kami miliki. Aku sampaikan jujur tentang itu kepadanya, bahkan aku memikirkan perasaan ibu ku apabila memiliki menantu yang dari segala hal jauh lebih dari yang ibu bayangkan. Mala, kamu tahu apa yang dikatakan Lina kepadaku?

Bima, aku tahu akan sulit bagiku untuk mengerti kehidupan keluarga kalian. Merasakan tinggal di kampung tanpa pendingin ruangan, banyak nyamuk, dan akses internet terbatas. Bahkan mungkin aku akan kesulitan untuk menemukan Salon Kecantikan yang sesuai dengan kebutuhanku. Atau banyak hal yang akan berubah dari pakaianku, karena nilai kesopanan di kota dan desa itu berbeda. Hal yang sama dengan kamu, pasti akan kerepotan menyesuaikan dengan gaya hidup keluargaku. Mengendarai mobil mewah yang belum pernah kamu sentuh, obrolan tentang liburan ke luar negeri yang belum pernah kamu rasakan, bahkan barang-barang merek terkenal yang sulit kamu ucapkan.

“Kita Akan Sama-Sama Lelah Dengan Perbedaan, Tapi Sebuah Lelah Yang Melegakan. Karena Ketika Kita Berdua Menengok Ke Belakang, Ternyata Semua Mampu Kita Lalui Berdua. Perbedaan Yang Kita Miliki Akan Tergantikan Oleh Anak-Anak Kita Nanti Yang Berjuang Lebih Baik Dari Kita”

Kalimat itu mampu membuatku percaya diri dan meyakinkan keluargaku untuk tampil masuk ke dalam keluarga Lina. Dua minggu lagi pernikahan kami akan digelar, aku minta doamu semoga Tuhan memudahkan segalanya.

Satu hal yang harus kamu tahu, sampai detik ini perasaan cinta dan sayang ke kamu tetap sama, hanya saja waktu telah membuatnya tak lagi bersama. Pengakuanmu, penjelasanmu, bahkan kejujuranmu, tak lagi berarti sekarang. Seandainya aku pun masih sendiri, aku akan berfikir seribu kali untuk kita memulai dari awal, tidak semudah itu.
Terima kasih atas pengakuanku. Inilah jawabanku. Semoga ini menjadi pelajaran terbaik buatmu ke depan. Jodoh pun segera menghampiri.
Assalamualaikum…

****

Bima memutuskan panggilan videonya. Yah, semuanya selesai. Mau dikatakan apalagi?

google-site-verification: googleef1242ce5f40e799.html

Aku Harus Menjawab Apa?


Semua jawaban berkumpul di dalam pikiran. Saling bersautan ingin lebih dulu diutarakan. Sedangkan mulutku sukar untuk terbuka. Aku tidak tahu, hal mana yang membuat semua beban bisa dirinngankan apabila aku mampu menjawab. Padahal aku sudah mengantisipasi keadaan ini, sudah sangat ku siapkan. Tapi, hari ini aku masih saja kaget dan memikirkan.

****

Aku punya cerita, maukah kalian membacanya?

Bangun tidur, ku lihat ponselku. Ada pesan masuk di daftar pesan Whatsapp ku. Sebuah nomor yang tidak aku simpan berada di deretan paling atas. Ada tulisan pendek yang berbunyi:

Maafkan aku kalau baru bilang sekarang..

Segera aku buka isi pesan tersebut. Tampaknya dari seseorang yang aku kenali, dulu. Ternyata di atasnya cukup banyak tulisan yang dikirim beberapa kali.

Mas, apa kabarmu?

Setahun lebih ya, kita sudah tidak lagi berkomunikasi. Lebih tepatnya, aku yang memutuskan untuk tidak berbicara. Memilih pergi tanpa menjelaskan apa pun kepadamu. Aku sudah jahat ya?

Semalam aku Salat Tahajud, dan dalam tidurku terjadilah mimpi yang menurutku adalah sebuah petunjuk. Aku memimpikanmu, Mas. Aku melihat kamu di sebuah taman, ku pikir itu adalah Taman Gumul. Kondisinya sangat ramai, tapi aku melihat kamu duduk berdua dengan seorang perempuan. Aku melihat dia mengajakmu berbicara dengan bahasa yang tak ku mengerti. Hanya saja, aku tak melihat kamu menanggapi ucapan dia. Kamu malah menatapku dengan raut wajah tak bahagia. Berkali-kali aku mengerjapkan mata, memastikan bahwa pandanganku tidak salah. Hingga aku terbangun, wajahmu itu masih jelas teringat dalam pikiranku.

Usai Salat Subuh, dalam doaku, sekelebat tampak bayanganmu di depanku. Aku sungguh kaget, takut, dan kemudian aku menangis. Aku menyadari satu hal, aku salah sama kamu, Mas. entah kenapa mimpi itu menuntun keberanianku untuk sekarang menjelaskan sesuatu yang pernah aku tutupi dari kamu. Sekarang aku ingin mengatakannya.

Mas, setahun yang lalu aku pernah menjelaskan kepadamu bahwa ada masalah keluarga yang membuatku tak bisa melanjutkan hubungan kita kan?

Aku tidak berbohong soal itu, hanya saja masalah keluarga yang terjadi bukan seperti yang kamu bayangkan. Bukan pula soal keraguanku tentang masa depan kita, karena kamu menganggur. Sungguh, aku sama sekali tidak pernah meragukan hidup bersamamu. Tapi justru yang meragukan itu adalah Ayahku, Mas.

Usai aku berkunjung ke rumahmu, bertemu kedua orang tuamu, dan saudara-saudaramu, Ayahku bertanya seperti apa mereka. Maka aku ceritakanlah apa yang aku lihat dan rasakan. Entah kenapa aku merasa hal itu bukan kabar baik bagi Ayah. Ia lalu menggenggam tanganku, tangannya dingin.
Mala, Ayah senang kamu bertemu dengan lelaki yang baik. Ketika dia datang ke rumah ini, Ayah pun memiliki kesan yang baik juga. Tapi dengarkan satu hal ini, Nak!!

Keluarga kita memiliki latar belakang yang cukup jauh, baik status sosial maupun ekonomi. Keluarga kita sudah berpengalaman soal ini. IBUMU, Ayah sangat menyayanginya. Keluarga Ayah juga sangat menyayanginya. Namun siapa yang mengira bahwa IBUMU ternyata menyimpan beban yang cukup berat. Selama ini ternyata dia berusaha mengimbangi keluarga Ayah. Melakukan apa pun, bahkan untuk hal paling sederhana, soal berpakaian. IBUMU selalu takut, pakaian yang dipakai tidak berkelas, memalukan keluarga, hingga semua sikap IBUMU menjadi tidak apa adanya. IBUMU memang berhasil menunjukkannya, tapi pada akhirnya dia lelah. Penyakit Kanker itu akhirnya merenggut orang yang paling Ayah cintai. Hal itu yang tak ingin kamu mengalaminya, Nak.
Mendengar ucapan Ayah, aku sempat berfikir banyak, Mas. Aku bahkan berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu dan keluargamu bisa menerimaku apa adanya. Hanya saja, satu nasehat yang membuatku sepakat dengan perkataan Ayah.

“BAGI ORANG YAMG SALING MENCINTAI, IA BISA SALING MELINDUGI, MENENANGKAN, BAHKAN MENGUATKAN. TAPI TIDAK BISA MERUBAH SILSILAH”

****

Usai membaca pesan yang cukup panjang itu, aku masih belum tahu harus menanggapi apa. Bisakah kalian membantu menjawabnya?