Cari Blog Ini

Selasa, 20 Agustus 2019

Bersamamu Ku Sadari


Ponselku sepi. Tak ada chat dari siapa pun. Rasanya aneh ketika setiap hari selalu saja ada pesan yang terkadang mengganggu dari orang yang sama, tiba-tiba hilang. Awalnya aku baik-baik saja karena memang di kantor lagi banyak kerjaan. Tapi sampai jam makan siang, tidak ada notifkasi dari nama yang ku tunggu. Aku pikir semua akan segera membaik seperti biasanya. Ini sudah hari kedua, tetap sepi.

Ku geser layar ponselku untuk melihat Instagramku. Barang kali ada notifikasi yang tidak terbaca di sana, hasilnya sama. Pindah ke Facebook, tetap tak ada messanger yang masuk. Malah yang ada telepon dari nomor yang tidak ku kenal. Tapi aku bisa menebak, pasti mau menawarkan kartu kredit. Frustasi sendiri jadinya.

“Muka kamu kusut begitu, Ris? Berantem lagi sama Citra?” tiba-tiba Nayah duduk di depanku sambil membawa semangkok mie ayam. Dia tampaknya sudah bersiap menjadi psikolog handal. Kerudungnya dirapikan, gaya duduknya dibuat elegan mungkin.

Aku tak menjawab pertanyaannya. Masih malas untuk menceritakan apa yang terjadi.

“Masalah yang sama? Ayolah, siapa tahu aku bisa membantumu” Nayah tak menyerah. Aku yang kini menyerah, ku ceritakan juga padanya.

“Bukan, ini lebih serius dan bergengsi,” ucapku memulai obrolan.

Nayah hampir tersendak mendengar ucapanku. Mungkin terdengar lucu piliham kata yang ku pakai. Dia lalu menatapku seperti ingin menegaskan apa hal serius yang terjadi sehingga untuk hal ini aku menganggap sebagai masalah yang tidak bisa dianggap remeh.

“Kalau aku boleh tahu, ono opo?” Nayah terlihat serius ingin tahu. Posisi duduknya berubah. Tangannya ditumpukan ke dagu, wajahnya lebih dekat ke arahku.

“Bisa dipelankan itu suara?” aku mengingatkan bahwa kita sedang di kantin.

Nayah mengatupkan tangannya ke bibir. Pertanda dia menyadari keteledorannya.

Aku mulai bercerita padanya.

Malam itu, tepatnya tiga hari sebelumnya. Aku mengajak Citra makan malam seperti biasa, aku tak mempersiapkan sesuatu yang spesial, karena inginnya menjadi kejutan. Tempatnya saja yang memang kami belum pernah datangi. Suasana hati Citra baik-baik saja. Dia cerewet seperti biasa, asyik cerita tentang kerjaan di kantor, teman-temannya yang mengajaknya liburan di akhir pekan, dan Mama nya yang rajin membuat kue. Hingga adiknya yang merengek minta dibelikan sepatu futsal.

“Ku bilang padanya, minggu depan setelah aku gajian. Dia gak sabar, padahal kan niatku ingin beli yang bagus sekalian. Jadinya ya, aku belikan yang harganya ratusan ribu,” ucapnya. Aku mengangguk setuju.

“Kalau begitu, aku nanti beli juga buat dia ya. Biar ada gantinya,” usulku.

“Eh gak usah Ris, mending buat kebutuhan yang lain saja. Kamu kan juga harus nabung,” timpalnya. 
Aku mengiyakan saja, namun tetap aku pikirkan untuk membelikan sepatu buat Dio, adiknya Citra.
Ketika Citra sudah tidak lagi bicara. Maka giliranku yang mengungkapkan niat baikku untuk melamarnya. Aku mulai dengan membicarakan hubungan kita selama ini, suka duka, dan banyak hal yang sudah kita rencanakan. Tampaknya Citra mulai menangkap arah pembicaraan kami.

“Kamu tumben ngomong ginian, ada apa?” tanyanya dengan raut wajah yang sulit ku tebak. Namun aku sudah bertekad untuk melamarnya. Aku sudah yakin, semua kesabaran Citra menghadapi sikapku yang dianggapnya suka tebar pesona, telah teruji. Walaupun kadang aku sering kesal sendiri mendapati sikap cemburuannya yang merepotkan. Aku menyadari bahwa semua hal yang ada dalam Citra, baik atau buruknya siap aku terima. Sama seperti dia menerima hal-hal buruk yang ada dalam diriku.

“Hei, kamu ini ya kebiasaan, di tanya malah diam. Lanjut makan deh, itu makananmu masih banyak,” ucap Citra. Tapi aku malah dilanda gugup yang kuat. Ternyata tidak mudah juga untuk mengatakan hal yang penting ya.

“Faris Ibnu Rasyid, kamu dengerin aku gak sih? Aneh deh,” Citra mulai kesal karena aku tak kunjung mengatakan apa pun.

“Cit, kamu mau gak nikah sama aku?” semudah itu kalimat penting akhirnya terucap. Tak ada lebih dari 5 detik. Tapi rasanya sulit ditebak dan tidak bisa lagi ditarik ulang. Rasa gugupku masih menggebu. Walaupun aku memiliki keyakinan bahwa ini hanya formalitas saja, Citra pasti setuju dan sudah menunggu lama kalimat itu. Tapi tunggu dulu, apa yang terjadi?

Citra membeku. Tidak tampak raut wajah kaget yang mengarah pada rasa bahagia, haru, atau apa pun yang menunjukkan bahwa kalimat yang aku ucapkan adalah penantian panjang. Ia lalu menundukkan pandangannya. Aku tak bisa melihat lagi wajahnya yang tegang tadi. Perlahan tangannya mengambil ponsel yang terletak di meja. Ia lalu mengalungkan tali tas di pundaknya. Terakhir dia berdiri.

“Ris, sorry ya!” ucapnya.

Lalu dia melenggang pergi. Aku duduk bengong dengan apa yang terjadi. Aku bahkan tak berdaya untuk mengejarnya. Ini di luar dugaan. Apa yang dipikirkan selama ini dengan hubungan kita?

“Ris, kamuy akin?” Naya berkomentar

“Kok kamu jadi ngeselin? Kan dia berhak untuk menolak atau menerima,” aku tersulut emosi.
“Maksudku, selama ini kan yang aku tahu, Citra itu sayang banget sama kamu. Bahkan terkesan posesif kan, ini kok ketika kamu berniat baik untuk serius terhadap hubungan kalian malah ditolak, why?” Nayah berapi-api.

Nayah ini benar-benar ya. Kalau aku tahu masalahnya apa, tidak mungkin aku sefrustasi ini. Percuma aku ceritakan masalahku padanya.

“Sudahlah, aku balik kerja!” sungutku.

“Ris. Aku tahu…” ucapan Nayah membuatku tidak jadi bangkit. Aku kembali duduk.

 “Tahu apa?” tanyaku.

“Kasih aku kesempatan ngomong ke dia dulu ya, oke?” tawarnya.

“Baiklah. Thanks ya sudah mau bantu,” ucapku.

Nayah mengangguk. Dia meyakinkan aku bahwa semua pasti ada jalan keluarnya.

Tiga hari menunggu, Nayah menghubungiku. Dia memintaku untuk datang ke kedai kopi miliknya di daerah Tebet Jakarta Selatan. Ku janjikan setelah Maghrib, soalnya aku masih harus antar jemput ibuku yang rutin mengikuti pengajian.

Tiba waktunya aku datang ke tempat yang diminta. Aku melihat ada Citra di dalam. Aku sebenarnya kecewa sama dia, karena setelah peristiwa itu dia sama sekali tak menjelaskan apa pun. Bahkan chatku tak pernah dibalasnya. Namun aku harus lebih bijak menghadapi masalah ini. Boleh jadi sekaranglah waktunya aku mendengarkan alasannya.

Nayah menghampiriku lebih dulu. Ia membisikkan sesuatu yang intinya aku harus siap menerima apa pun penjelasannya. Aku tidak boleh marah atau kecewa apabila hasilnya tidak baik. Aku mengangguk.

Ku hampiri Citra yang sudah duduk menunggu. Dia terlihat sangat canggung. Aku tak mengenal Citra yang biasanya riang, penuh senyum, dan mampu membuat siapa pun yang dekat ikut merasakan kebahagiaannya.

“Cit, kamu baik-baik saja kan?” aku mulai buka obrolan.

“Alhamdulillah Ris, baik. Hanya saja, ada hal yang mengangguku akhir-akhir ini,” ucapnya. Menganggu katanya, apakah lamaranku adalah hal yang mengganggu buatnya? Astaga, kenapa ini terasa sangat menyakitkan ya.

“Sorry ya Cit, kalau ternyata apa yang aku katakan tempo hari salah,” ucapku mencoba fokus pada masalah yang ingin aku pecahkan.

“Gak salah kok Ris, apa selama ini aku salah ngejar-ngejar kamu. Cemburu ke siapa pun cewek yang dekat sama kamu? Apakah aku salah selama ini melarangmu ini itu, menuntutmu untuk memprioritaskan hubungan kita? Kalau itu memang sebuah kesalahan, aku pun minta maaf ya, Ris,” ucapnya.

“Maksudnya ini apa, Cit? Aku masih bingung,” timpalku.

Arah pembicaraan kami sulit ditebak. Citra malah mengungkit apa yang selama ini terjadi dalam hubungan kita.

“Ris, tiga tahun kita menjalani semua ini. Aku tak bisa menghitung berapa kali kamu mutusin aku, hampir setiap ada masalah, kamu selalu mengucapkan kalimat itu. Dan tiba-tiba kamu mengajakku menikah? Oke harusnya aku bahagia, kamu lah orang yang aku idam-idamkan, aku perjuangkan, bahkan tak jarang aku mendapat cibiran dari cewek lain yang menganggapku sampah karena gak mau putus dari kamu,” emosi Citra meluap. Seketika menyadarkanku atas apa yang selama ini sudah ku lakukan terhadapnya. Apakah aku sudah sejahat itu padanya?

“Jadi, ini hukuman buat aku?” tanyaku.

“Ris, tak ada yang menghukum kamu. Ini masalahku, entah kenapa justru aku tidak yakin ketika orang yang selama ini aku sayangi melamarku. Aku justru sekarang yang ragu bahwa kita bisa bersama. Aku juga tidak bermaksud membalaskan dendamku hingga seminggu ini tidak menjawab panggilanmu. Aku hanya butuh memikirkan banyak hal, tiga tahun bukan waktu yang main-main kan untuk mengingat semua hal. Dan pada sebuah kesimpulan, kita akan selalu menghadapi masalah yang sama, dan kamu tak pernah akan berjuang,” jelasnya.

“Cit, aku minta maaf kalau selama ini aku sudah mengecewakanmu. Justru selama tiga tahun kita menjalani semua suka dan dukanya itu lah yang membuatku akhirnya meyakini bahwa kamu bisa menjadi pasanganku seumur hidup dengan segala kekurangan dan kelebihan kita masing-masing. Aku yakin sama kamu, yakin bisa hidup bareng sama kamu Cit,” bujukku.

“Tapi aku gak yakin kamu bisa, Ris. Ini bukan lagi waktunya aku mencintaimu berkali-kali dan patah hati berkali-kali. Ini waktunya aku menyadari bahwa kita berhak mencintai dan dicintai oleh satu orang seumur hidup. Dan maaf Ris, aku tidak melihat itu di kamu,” pungkas Citra.

Ia meninggalkanku sendirian. Tidak ada adegan dia menengok ke belakang menyesali apa yang dia ucapkan. Citra benar-benar pergi dengan penjelasan yang sangat menampar kebanggaanku sebagai cowok yang dipuja-puja banyak cewek. Lalu apa diriku sekarang?

Cit, jatuh cinta berkali-kali dan patah hati berkali-kali pasti melelahkan buatmu. Tapi ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya itu benar adanya, sungguh menyakitkan. Tapi aku menghormati keputusanmu. Terima kasih sudah sabar selama 3 tahun menjadi bagian dari penggalan kisah hati, yang bisa membuatku patah juga.




Selasa, 06 Agustus 2019

Alan Dalam Perselingkuhan Rasa


Langkah hidup tak mudah ditebak, walaupun langkah kaki terus mengikuti peta dengan teknologi tercanggih. Aku tak pernah membayangkan bahwa hari ini, di depan ratusan orang akan berbicara tentang prestasi. Sebuah capaian karir yang mungkin saja menjadi impian semua oramg di depanku. Gemuruh tepuk tangan menggema di penjuru ruangan tertutup. Semua mata memandangku, menungguku untuk mengucapkan sepatah kata. Aku sempat gugup, tapi aku mampu mengendalikannya. Hari yang penting ini, aku tidak boleh melakukan kesalahan. Di hadapan ratusan orang yang hadir, aku menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih pada semua pihak yang terlibat dalam mengembangan karir hingga mendapat penghargaan sebagai wartawan sosial politik terfavorit. Aku bahagia, senang, dan haru atas semua yang terjadi. Hingga aku membeku ketika menyadari sesuatu. Di antara semua yang bertepuk tangan, aku melihat seseorang yang aku kenal. Ku kedipkan mataku, memastikan bahwa aku tidak berhalusinasi. Astaghfirullah, itu benar dia. Mata kami bertemu, dia melempar senyum. Perasaanku jadi tidak menentu, lunglai.

Aku sudah bisa move on. Itulah kalimat yang pernah ku tegaskan berkali-kali ketika Dira, Anya, Leo, dan Dambi mulai membahas soal Alan. Aku sudah ikhlas, bahkan tak ingat lagi hal apa yang membuatku tertarik pada lelaki yang tak pandai mengungkapkan perasaannya itu. Tak ada juga barang yang harus aku bakar, kubur, atau ku kembalikan ke pemiliknya, karena memang dia tak pernah memberiku apa-apa selain harapan. Ah apa? Oh tidak, baginya akulah yang terlalu percaya diri bahwa perempuan yang hampir melewati ambang batas ‘gadis’ ini layak dicintainya. Aku yang salah, bukan sikapnya. Bisa jadi itulah alasan kenapa ia tak pernah perlu untuk sekadar say goodbye ke aku ketika ia memutuskan pindah ke Bali. Hanya saja kenapa aku dipertemukan kembali dengannya?

Aku turun dari podium dibantu oleh panitia. Langkahku jadi tidak semenarik tadi ketika menaiki tangga menuju podium. Beberapa orang yang mengenaliku memberikan ucapan selamat, merangkul, salaman, ada juga yagn cipika cipiki. Aku masih sanggup melayaninya. Hingga kemudian satu per satu di antara mereka kembali ke tempat duduk. Giliran semua sudah tak ada yang memberikanku ucapan, datanglah orang yang aku kenali tadi. Langkahnya semakin dekat ke arahku.

“Hai,  selamat ya! Kita ketemu lagi di sini ya ternyata,” ucapnya singkat dan kemudian melenggang pergi.

Lalu? Aku menggerutu sendiri dengan ucapan selamat datangnya itu. Memangnya kenapa kalau kita ketemu, di sini, di forum penghargaan wartawan Sosial Politik, apakah ada yang istimewa? Aku jujur gugup ketika dia menghampiriku. Seseorang yang tak pernah ku bayangkan akan ku kenal kembali, bahkan kalau boleh meminta ke Tuhan, enyahkan saja dia dari hidupku. Tapi sepertinya Tuhan memiliki pendapat lain. Dan aku merasa gagal telah membuatnya seakan tak pernah hadir dalam hidupku lagi. Usai acara, sekembalinya aku ke kamar hotel, aku segera menghubungi Dira.

Are you okey, Ni?” ucapnya curiga dengan pupil mataku yang berair dalam panggilan video yang kita lakukan.

“Dira, apakah kamu pernah sebenci ini dengan hidupmu?” tangisku pecah. Aku selalu tak bisa menutupi apa pun dari sahabatku ini. Aku sangat cengeng.

Why? Tell me, please!!” ucapnya menatapku simpati.

“Aku sudah gagal move on, Dir. Apakah kamu tidak melihatnya? Aku sudah melewati hari-hari dengan sibuk bekerja, membuat karya, dan menghabiskan waktu dengan kamu, Anya, Leo, dan Dambi. Aku bisa melewatinya hingga sekarang aku di Bali sekarang kan? Tapi ketika aku melihatnya kembali, rasanya semua benteng pertahanan diriku lumpuh, dia tetap membuatku kagum,” ucapku dengan isakan tangis. Dira tampaknya memahami arah obrolan kami.

Wait, aku sambungkan ke Leo ya. I guess, dia harusnya tahu sesuatu,” ucapan Dira membuatku berfikir sejenak.

Gambar Leo segera tersambung dalam bingkai panggilan video kami. Dia tampaknya baru selesai mandi.

What happened, beb? Sebentar ya, aku pakai kaos!” sosok Leo menjauhi kamera.

Tak butuh waktu lama, dia tergabung kembali pada obrolan kami. Ternyata kehadiran Alan di forum yang aku hadiri atas pengetahuan Leo. Aku baru sadar bahwa Leo merupakan tim panitia yang terlibat dalam forum ini, sehingga semua peserta yang hadir sudah diketahuinya lebih dulu.

“Le, kamu….” Sebelum Dira melanjutnya kalimatnya. Leo sudah menyela.

“Aku rasa ini bukan masalah besar kan, Ni? Kamu sendiri yang bilang bahwa dia bukan orang yang penting lagi dalam hidupmu, right?” Leo benar-benar keterlaluan. Tapi harusnya apa yang diucapkan itu benar. Alan siapa aku?

“Astaga, laki memang gak punya perasaan ya,” Dira malah yang bertengkar dengan Leo.

“Dira sayang, jujur ya aku juga kaget waktu membaca daftar nama yang hadir dalam forum itu. Kenapa aku tidak mengabarkan ini ke Ani. I think, Now is her time untuk membuktikan bahwa move on itu memang segampang melempar tisu bekas ke tong sampah,” jelas Leo.

“Leo, bagi seorang cewek tidak semudah itu. Kamu itu ya….” Dira menyela.

Aku merenungkan apa yang diucapkan Leo. Dia ada benarnya juga. Kenapa tadi aku harus gugup di depan dia. Apa alasan aku juga menangis ke Dira. Aku segera ikut berkomentar.

“Dir, apa yang diucapkan Leo gak salah kok. I see, Leo benar. Cuma dalam prakteknya ternyata memang gak gampang ya Le,” aku mengangkat tubuhku. Ku lihat Leo mengangguk. Dira yang masih tidak sepakat.

Wait, malam ini aku bakal terbang ke Bali bareng Dambi. I’ll service you all in. so, don’t be sad. Hug…hug…hug..” Leo berlagak memelukku dalam panggilan video.

“Eits… bukan muhrim ya. Ani ini cewek salehah. Not like your fangirls, see?” Dira yang bersungut melihat tingkah Leo. Aku tertawa, melihat mereka malah bertengkar sendiri.

Aku senang memiliki teman seperti mereka. Selama ini mereka yang sudah mengisi hari-hariku di sela pekerjaan yang padat. Kami memang jarang ketemu langsung, tapi hampir setiap malam kami selalu meluangkan untuk melakukan panggilan video. Hal itu cukup membuat kami semakin tidak terpisahkan. Tak lama, mataku terasa ngantuk, ku putuskan untuk istirahat.

Esoknya, Salat Subuhku jadi tidak tenang ketika suara bel terus bersautan. Usai mengucap salam, aku langsung membuka pintu. Ternyata Leo dan Dambi cengengesan di depan pintu.

“Ganggu ya, sorry!!” ucapnya dibuat-buat ketika melihatku masih mengenakan mukenah.

“Kalian ini gak punya manner ya, ini kan masih pagi,” omelanku hanya ditanggapi dengan garukan kepala oleh mereka.

“Ni, for the last night. I apologize banget ya, bukan maksud aku untuk…” sebelum ia melanjutkan ucapannya.

“…untuk membuatku mewek kan? Dengan demikian kan kamu puas dengan mengatakan, hey ternyata Ani lemah sekali. Bagaimana mungkin dia tegas sekali dulu bilang sudah move on,” sindirku. Ternyata ditanggapi serius oleh Leo, dia menampilkan raut wajah menyesal.

“I’m cruel, right?” ucapnya dengna nada rendah.

“Hei, jangan tegang begitulah. Aku gak seriusan marah. Lagian kamu dalam hal ini gak ada salahnya. Ini masalah aku. Well, jam berapa kalian datang?” aku coba mengalihkan pembicaraan.
Leo dan Dambi langsung terlihat ceria. Mereka lalu menceritakan perjalanannya.

“Kita belum sempat istirahat. Si Leo benar-benar khawatir sama kamu, makanya abis kita naruh barang di kamar, langsung kemari. Cium deh badan kita, masih bau kan?” ucap Dambi.

“Ikh… jorok kalian!!” aku menghindar.

Aku sedikit lega dengan kehadiran mereka. Setidaknya pertemuanku sebelumnya dengan Alan sedikit teralihkan. Aku tidak pernah bisa marah sama mereka, apalagi Leo. Terkadang aku berfikir, andai saja Leo satu keyakinan denganku, tak ragu untuk memintanya menjadi imamku. Tapi pikiran itu lekas ku buang jauh-jauh, ada banyak hal dalam diri Leo yang walaupun kita seiman, tidak mudah untuk disesuaikan dengan pribadiku, ada batas yang membuat status “teman” lebih cocok.

Tak lama Dira menghubungiku, dia juga ternyata penasaran dengan kehadiran Leo dan Dambi. Tak ayal, kamarku jadi sarang buat mereka semua nge-gibah Alan dan aku. Kan kurang ajar ya punya teman-teman seperti mereka. Ah, tapi aku sangat menyukai pertemanan ini. Bagiku, ada batas yang tipis memang mengenai supaya semakin akrab dan bullying. Semua tergantung bagaimana kita menyikapi sesuatu. Nah, ini juga yang harus aku terapkan memandang Alan sekarang. Aku tidak boleh terjebak pada nostalgia masa lalu yang justru menjerembab. Aku harus bangkit dan memberinya ruang untuk menjadi apa yang dia mau, tanpa aku berharap lebih.

Apakah ini artinya aku sudah move on? Rasanya tidak perlu lagi ada pertanyaan itu, toh perasaan suka bukan sebuah kesalahan dan memalukan kan? Bahkan ada sisi yang memang harus ku biarkan rasa kagumku ke Alan tetap ada, namun aku juga harus memiliki prioritas lain dalam mencari calon imam yang bisa menemani hidupku sampai tutup usia.

Beb, kamu pasti bisa!!!

Itulah kalimat sederhana yang ku dapatkan dari Dira, Anya, Leo, dan Dambi dalam menyemangati hidupku. Terima kasih untuk semuanya.

cerita ini merupakan sekuel dari kisah "Emperan Sabang: Cinta dan Harapan" bisa diakses di https://www.penakasih.wordpress.com

Senin, 05 Agustus 2019

Anna, I Love You!


Langkah awal melepas status lajang baru saja aku lewati. Jangan kalian tanya bagaimana perasaanku, ada rasa terharu, senang, gugup, dan bercampur perasaan yang sulit dijelaskan kecuali kalian berada di posisiku. Menikah dengan orang yang sangat aku yakini bisa bersama seumur hidup, dalam susah senang, untung malang, dan berbagai kesanggupan menghadapi masalah kehidupan telah membawa perasaan ini pada titik tertinggi kebahagiaan.

Pesta pernikahanku tak berbeda dengan kebanyakan orang. Kebetulan, Anna adalah perempuan berdarah jawa, maka konsep pernikahan kami menggunakan adat jawa lengkap dengan acara siraman. Tamu undangan yang datang juga dari berbagai kalangan, tidak terkecuali tampak anak-anak yang merengek ke Mama nya minta es cream yang masih disiapkan. tangisan bayi juga sesekali terdengar di telingaku. semua riak kecil itu tak menutupi kebahagiaanku telah menikahi Anna. aku yakin mereka yang hadir pun menyambut senang pesta kami.
keistimewaan dalam pernikahan ini adalah penampilan Mama. Beliau yang biasa mengenakan karai momo (pakaian khas Minahasa), sekarang mengenakan kebaya adat Jawa, lengkap dengan rias paes. Aku sempat tak mengenalinya, kalau saja ia tak menatapku senyum, sebuah senyuman khas yang tak akan bisa ditiru oleh perempuan mana pun. Dia lebih cantik dari biasanya. Apalagi senyum di bibirnya meneduhkan siapa pun yang menatap. Senyum itu yang aku saksikan sebelum masuk Masjid untuk melangsungkan Akad Nikah. Sempat ada perasaan sedih, ketika Mama tidak masuk ke Masjid, karena Mama dan keluarga besarku memang memiliki pilihan keyakinan yang berbeda. Aku dan Anna sudah menyiapkan tenda di halaman Masjid untuk keluargaku dari Manado. Sekaligus layar besar untuk mereka bisa menyaksikan prosesi langsung Akad kami.

Sebelum masuk ke Masjid, Mama menatapku begitu lekat. Pupil matanya mulai mengeluarkan butiran bening. Aku spontan mengusapnya. Mama, baik-baik kan? Kalimat itu hanya terucap dari hati. Mama seakaan mengerti, ia lalu memelukku cukup erat. Anna yang ada di sampingku, ikut bergabung dalam dekapan. Semua mata pasti menyaksikan kehangatan kami. Biarlah, dalam momen yang sakral ini pasti ada garis waktu yang membuat kami haru, bahagia, dengan ekspresi yang kadang justru menangis sesenggukan. Hal itu yang terjadi pada kita bertiga, tanpa direncanakan.

Selepas memelukku, Mama mengusap pipiku. Lalu ia berucap lirih, “Kamu mirip sekali dengan Papa mu,” ucapnya.

Aku menjadi paham apa yang sedang ingin Mama katakan. Ia merindukan Papa. Orang yang memiliki kisah hampir sama dengan perjalananku menikahi Anna. Hanya saja aku lebih beruntung dari Papa, karena keluargaku masih merestui pernikahan ini. Sedangkan berdasarkan cerita dari Mama, kisah perjalanan mereka jauh dari kata pesta pernikahan yang ideal. Papa yang memutuskan mengikuti agama yang diyakini oleh Mama, terpaksa diusir dari keluarganya. Bahkan di hari bahagia mereka, keluarga Papa tidak hadir untuk merestui pernikahan mereka. Sehingga pernikahan Mama dan Papa hanya digelar secara sederhana di kepulauan Sitaro, tanah kelahiranku.

“Semoga ALLAH memberkatimu, Nak” begitulah doa Mama sebelum aku melangsungkan Akad Nikah.

Usai mendapat wejangan dari Mama, aku dan Anna segera memasuki Masjid Sunda Kelapa yang sudah disulap menjadi tempat Ijab Qabul. Sesuai rencana kami berdua, banyak aksen mawar dan anggrek putih menghiasi setiap sudut ruangan. Anna yang lebih banyak berperan dalam pemilihan dekorasi ruangan, termasuk permintaan maharnya adalah laptop. Alat itulah yang paling sering menemaninya, dan bagi Anna, laptop dan dirinya adalah kesatuan yang saling melengkapi. Lalu, aku posisinya di mana? Sempat pertanyaan itu ku tanyakan padanya. Anna tidak menjawab, ia malah mencubit pinggangku.

Kembali pada proses resepsi yang sedang berlangsung, aku harus kuat berdiri untuk bersalaman dengan ribuan undangan yang hadir. Kata Anna, sesekali kalau capek, kamu bisa izin ke toilet, kebelet pipis misalnya. Jadi ada alasan buat rebahan. Lalu menurutnya, apakah aku tega meninggalkan dia sendirian menyambut tamu? Dia memang tampak cuek dengan hal-hal yang seremonial, tapi aku tidak. Aku akan menyelesaikan tugas ini, tamu adalah raja, kan?

Di antara tamu yang hadir, ada satu orang yang menyita perhatian kami. Anna dan aku saling bertatapan. Orang itu adalah Ariyo mantan kekasih Anna. Seingatku, yang ikut dalam menulis siapa saja yang perlu kita undang, tidak ada namanya dalam daftar kami. Dia seseorang yang pernah membuatku kesal karena ulangnya yang sok kaya. Hari ini dia datang juga seakan tak pernah terjadi apa-apa. Dia semakin dekat dengan posisiku dan Anna.

“Hei, selamat ya! Akhirnya kalian menikah juga,” ucapnya.

Ku lirik Anna memaksakan senyum. Aku pun demikian. Tak ada kesan positif atas kehadirannya. Ia seolah mencemooh pesta kita. Lihatlah lagak dia, menyapu pandangan seisi ruangan, seakan memastikan bahwa apa yang ia lihat bisa menjadi bahan untuk berkomentar. Anna memegang tanganku erat, mencoba menenangkanku. Aku sudah waspada akan hal yang ingin dia lakukan.
“Lumayan juga, not bad lah,” ujarnya setelah menjabat tanganku.

“Kamu gak diundang, kenapa ke sini?” aku berkata tajam ke arahnya. Dia tak menanggapi, malah menatapku sinis. Lalu ia berlalu.

Aku tak sempat memperhatikan dia lagi. Banyak tamu undangan yang sudah mengantri untuk memberikan ucapan selamat atas pernikahanku dengan Anna.

Tamu selanjutnya yang mengejutkan adalah Mas Tama, mantan atasannya Anna. Ku duga yang di sebelahnya adalah istri Mas Tama, cantik dan elegan. Aku melirik Anna, dia pasti merasa malu karena tidak mengundangnya. Padahal aku sudah ingatkan bahwa lelaki yang pernah menjadi bosnya itu wajib diundang, terlepas mau hadir atau tidak, bukan ranah kita lagi.

“Duh, terima kasih loh mas atas kehadirannya,” Anna mampu menguasai dirinya.

“Walau pun tidak diundangnya ya,” Mas Tama sukses membuat raut wajah Anna malu.

“Maaf ya mas, kami mengurus semuanya sendiri. Malah kelewat nama orang penting ini,” aku mencoba menebus rasa bersalah istriku, Anna.

“Aku tahu kok Bil. Istrimu ini masih dendam sama aku. Take it easy, dude!” Ucapnya santai.
Anna tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Ia bergegas memelukku mencari perlindungan.

“Doakan kami langgeng ya mas. Lain kesempatan, kami akan datang ke rumah kalian, belajar menjadi keluarga yang baik,” mendengar omongan itu, Mas Tama hanya menyunggingkan senyum.

Tamu undangan sudah hampir habis. Aku tak banyak mengenali siapa saja mereka yang datang. Bisa jadi, kebanyakan adalah kolega dari keluarga kami. Banyak sekali kejutan sebenarnya, karena dari tamu yang hadir banyak dari mereka yang tak terpikirkan akan berada di depan kami untuk memberikan selamat. Bahkan aku tidak menyangka bahwa Pendeta Frans yang dulu membabtis aku, menyempatkan hadir untuk mengucapkan selamat atas pernikahanku. Aku tahu dia kecewa atas pilihanku, tapi dia tokoh agama yang bijak. Pasti memahami arti jalan terang bagi semua manusia. Namun ia masih sempat membisikkan Matius 19:6.

“Pegang teguhlah itu, dengan keimanan barumu. Aku percaya, setiap agama mengajarkan kesetiaan pada pasangan,” ucapnya. Aku mengangguk. Benar sekali, setiap agama memiliki ajaran yang mulia, tergantung mana yang membuat kita iman atas hal tersebut.

Akhirnya selesai juga menyambut tamu. Aku memperhatikan Anna begitu cantik walaupun dengan raut wajah yang kelelahan. Semenjak prosesi ijab qabul hingga resepsi, baru sekarang aku bisa memperhatikannya cukup lama, lekat, dan tenang. Tanpa satu orang pun yang mengangguku. Anna, akhirnya aku menikahimu. Tidak ada kata yang mampu mewakili kebahagiaanku, selain tangan ini yang tak ingin melepaskan dari genggamanmu.

“Menikah bukanlah akhir dari kepastian aku telah memilikimu, melainkan awal dari upaya mempertahankanmu atas apa pun yang ingin menghancurkan komitmenku padamu”

Anna, terima kasih segala penerimaanmu padaku. Untuk urusan rumah, mobil, dan investasi ku serahkan semua padamu. Aku yakin, uangku yang tak seberapa bisa mewujudkan itu semua atas kecerdikanmu berhemat, bahkan bisa dibilang pelit kali ya. Kadang suka ‘gemes’ sendiri ada gitu perempuan yang cuek dengan penampilan, tidak suka dandan, tapi tetap cantik, itu ya kamu. Sedangkan urusan mengajakmu nonton konser, mengunjungi galeri seni, dan peralatan vlog yang kita bangun, aku yakin diriku yang menguasai camera tercanggih dan segela perlengkapannya.

Aku yakin, apa yang ku sebutkan itu hanya contoh kecil bagaimana nanti aku dan kamu membangun rumah tangga. Kita akan menghadapi hal yang lebih besar lagi dalam membagi peran dalam keluarga. Misalnya, nama untuk anak-anak kita nanti, menggunakan nama Islam, nama Jawa, atau nama Manado. Sekolah-sekolah mereka, apakah di sekolah Islam, sekolah umum, atau bahkan di sekolah inklusi. Dan banyak lagi kita menghadapi perbedaan pilihan. Semoga kita mampu membagi peran-peran itu supaya di antara kita berdua tidak merasa sendirian.

“Kenapa lihat aku begitu?” Anna akhirnya menyadari tatapanku.

“Jangan bilang ya, aku lebih cantik tanpa riasan,” lanjutnya.

Aku tertawa lepas dengan kalimat terakhirnya. Ternyata dia tahu apa yang aku pikirkan. Tak sempat menghindar, aku diganjar cubitan yang keras. Hampir saja lagu “Perfect” nya Ed Sheeran gagal romantic gara-gara ulahnya itu.

Anna, I love you.