Cari Blog Ini

Minggu, 15 September 2019

Mata Yang Berbicara (Bagian 3)




Kadang, penantian tak perlu dinanti, justru takdirlah yang mempertemukan seseorang yang lama tidak berjumpa, seperti hari ini antara Elang dan Pipit. Memang, pertemuan mereka terjadi bukan secara tiba-tiba, melainkan sebuah pekerjaan. Lima tahun tampaknya jeda yang cukup bagi mereka. Pipit yang lebih dulu bisa melihat bahwa kontak Whatsapp yang akan ditemuinya adalah Elang, orang yang pernah dikenal sebelumnya, ia sedikit ada rasa gugup. Sedangkan Elang baru bisa melihat ketika pertemuan terjadi, ia kaget. Akan tetapi, ia berusaha mengendalikan situasi.

“Hai, Ibu Pit. Terima kasih atas kesempatannya bertemu,” begitulah ucapan Elang berusaha tetap professional. Ini urusan pekerjaan, bukan sedang reuni.

Pipit tidak sendirian. perempuan tersebut ditemani stafnya, namanya Diana. Bukan karena Pipit takut bertemu Elang sendirian, melainkan memang setelah pertemuan ini mereka akan menghadap ke lembaga pemerintahan untuk menggarap sebuah kegiatan nasional.

Pelayan kafe sigap menghampiri mereka. Melayani pesanan yang sudah siap dihidangkan. Elang memesan secangkir kopi, sedangkan Pipit memesan es cokelat. Minuman itu mewakili perasaan masing-masing. Elang berharap hangatnya kopi mampu menghangatkan pertemuan ini. Sedangkan Pipit dengan es cokelatnya berharap gugup dan stress yang dialaminya mampu sedikit redam. Sebenarnya, Elang menyadari kegugupan Pipit. tapi ia tak mau membuatnya semakin gugup dengan banyak bertanya. itu pun sangat gugup. Hanya saja ia bisa menguasai diri, lebih tepatnya ia pandai menyembunyikan perasaan.

Obrolan keduanya sedang berjalan. Saling lempar pertanyaan dan informasi mewarnai diskusi siang ini. Namun ketika Pipit sedang menjelaskan panjang lebar, tampaknya Elang terpesona dengan gaya Pipit yang dilihatnya lebih cantik dari lima tahun silam. Sejak dulu, Pipit memang tampil sederhana, tapi tak bisa menutupi aura kecerdasan yang membuat siapa pun minder di dekatnya.

“Pak Elang…Pak…Hallo…” Pipit menyadari bahwa omongannya tampaknya kurang diperhatikan.

“Oh maaf.. iya bu. Bagaimana?” Elang bangun dari melamunnya.
Pipit menghela nafas panjang. Ia harus bersabar menghadapi situasi yang kurang nyaman ini.

“Perlu saya ulang lagi?” Pipit mencoba menawarkan.

“Tidak perlu. Secara garis besar saya cukup memahami. Nanti kita bisa komunikasi lewat email kalau ada yang kurang saya mengerti,” Elang memahami bahwa suasana hati Pipit kurang baik.
Baiklah. Pipit mengakhiri obrolannya. Ia meminta bil pada pelayan kafe.

“Eh tunggu. Biar nanti saya saja yang bayar,” ucap Elang mendapat tatapan dari Pipit.
Elang memalingkan wajahnya ke asisten Pipit.

“Bu Diana, bisa izinkan kami ngobrol berdua?” Elang menunjuk dirinya dan Pipit. Diana merespon sopan tanpa ada prasangka apa pun. Pipit pun tak mencegahnya pergi.
Elang tetap berusaha menguasai keadaan, sedangkan Pipit lebih terlihat gugup.

“Jadi, bisakah kita ngobrol sebagai orang yang pernah kenal?” Elang membuka obrolan.

“tentu…” jawab Pipit singkat. Ia tak berani menatap wajah Elang.

“Aku percaya ini bukan sebuah kebetulan. Ini rencana Tuhan mempertemukan kita. Kamu tak ingin mengatakan sesuatu setelah lima tahun menghilang?” Elang mencoba mengulik sebuah rahasia.

Pipit membenarkan posisi rambutnya yang menutupi wajahnya. Ia sekali lagi tak berani menatap Elang. Posisi duduknya dibuat senyaman mungkin dengan kaki menyilang, tapi tetap saja gagal.

“Banyak hal di dunia ini yang terkadang tanpa ada perlu penjelasan. Setiap ada ucapan selamat datang, selalu berujung selamat jalan, atau sampai jumpa lagi. Ya, beginilah kita. Apa yang perlu dijelaskan? Beruntungnya kita berjumpa lagi. Hal yang biasa bukan?” Pipit mengulur waktu untuk menjawab apa yang Elang inginkan. Hal tersebut membuat Elang kesal.

Elang tentu tidak berharap dengan kalimat basa-basi yang memperlambat inti obrolan. Tapi dia juga tak ingin tergesa-gesa hanya untuk akhirnya akan kehilangan Pipit lagi.

“Baiklah. Semoga perjumpaan kita lagi ini tidak hanya sebagai rekan kerja. Tapi bisa lebih santai, teman liburan, nonton, atau ke toko buku. Bagaimana?” ucap Elang.

“Kita lihat nanti. Saya bisa permisi Bapak Elang?” Pipit kali ini memberanikan diri menatap wajah Elang. Hal yang kemudian disadarinya bahwa mata lelaki itu masih sama seperti lima tahun lalu, misterius, susah ditebak.

Elang tak langsung menjawab, membuat Pipit akhirnya memutuskan pergi begitu saja. Langkahnya cepat meninggalkan café yang menjadi tempat awal pertemuan mereka kembali. Sekejap Pipit sudah hilang dari pandangan Elang.

Pulang kerja, Elang menatap lama dirinya di cermin. Ia melihat dirinya sendiri seakan ingin menilai kelebihan apa yang dia miliki. Ganteng? Iya, harus diakuinya banyak perempuan yang suka. Pintar? Ah biasa saja, bisa dikatakan kecerdasan yang rata-rata. Memiliki pesona? Itulah yang dia ragukan, dia tipe lelaki yang tidak banci tampil di media sosial atau ruang publik. Sehingga jarang ia menerima pujian-pujian dari bucin. Bahkan ia kerap dicibir oleh sanak saudaranya sebagai lelaki tampan yang ‘bosenin’.

Boleh lah orang menilai apa tentang dirinya. Tapi tatapan Pipit seakan membuat Elang berfikir ulang tentang dirinya. Elang tak pernah terfikirkan untuk hal yang baru saja ia lihat. Dirinya merasa sama sekali tak pantas apabila tebakannya itu benar. Selama pertemanan mereka, tak ada gelagat yang berbeda dari Pipit. Tapi hari ini dia sungguh mulai mengurai benang kusut yang ada di pikirannya. Ada titik terang dari kepergian Pipit yang tanpa pamit. Bolehkah Elang mendefinisikan bahwa Pipit jatuh cinta padanya?

Jangan percaya diri dulu. Pipit malam ini sedang bahagia karena proyek yang ditanganinya disetujui dan mendapat pujian dari Manajernya. Bahkan ia besoknya diminta menghadap Direktur untuk membicarakan proyek pertamanya yang terbilang nilai rupiahnya fantastis. Sehingga Pipit tidak makan malam di rumah, tapi mengajak ayahnya pergi ke restaurant Jepang di daerah Kemang. Ingatan tentang pertemuan dengan Elang tampaknya tertutupi dengan segala kegembiraan itu. Bisa jadi, ia pun tak ingin mengingat hal apa pun tentang pertemuan itu.

Kini, malam memberikan definisinya yang menyebar di ribuan bintang yang ada di langit. Elang dengan pikirannya dan Pipit dengan keintimannya dengan sang ayah. Bisa jadi, jauh dari hiruk pikuk kota, orang-orang sudah tidur nyenyak dengan mimpi. Bersiap untuk menyambut esok hari yang lebih baik dari hari ini.

“Selamat malam Pit. Terima kasih atas pertemuan hari ini. Aku bahagia, semoga kamu pun bahagia,” di sela ia menyumpit irisan ikan salmon, ada notifikasi pesan di ponsel Pit dari Elang. Ia mengintip dari beranda layar depan ponselnya. Tak segera ia buka, tapi wajahnya merona bahagia.

Yeah, Lang. kamu berhasil melengkapi bahagianya Pit.

Bersambung…..

Kamis, 12 September 2019

Mata Yang Berbicara (Bagian 2)





Lima tahun silam..

Elang melihat jam digital di tangannya. Raut wajahnya gelisah. Kemacetan di depan tampaknya sulit terurai. Ia mulai menyesali sesuatu. Harusnya ia tadi tidak mengendarai mobil menuju kampus. Ia lupa kalau hari ini adalah hari sabtu. Jalanan Depok arah ke Jakarta di jam menjelang siang sangatlah padat. Sedangkan ia hanya punya waktu 10 menit untuk bertemu dosen pembimbingnya, Ibu Hamidah. Ia tak terbayang mendapat omelan karena telat. Sejauh ini bimbingan dengan Ibu Hamidah selalu tepat waktu.

Di kampus, perempuan bertubuh mungil sudah duduk menunggu sang dosen. Ia mengenakan setelan baju putih dan rok sebatas lutut dengan wedges warna silver. Ia membuka file skripsi yang siap ditunjukkan ke pembimbing. Ia baru saja merevisi hasil sidang proposal yang dinilai sempurna. Ia hanya perlu mempertajam fokus penelitian.

Tak lama setelah file terbuka, Bu Hamidah telah menyapanya. Ia hari ini tampak ceria dengan setelan hijau toska dengan kerudung khas miliknya yang memperlihatkan sebagian rambut di dahinya, tanpa mengesankan berantakan. Pipit selalu terkagum dengan sang dosen yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan bahasa yang mudah dimengertinya. Walaupun bisa dikatakan selera keilmuannya sulit dijangkaunya.

“Tiga menit lagi kita mulai ya, satu mahasiswa lagi. Semoga dia segera datang,” ucap Bu Hamidah.
Pipit mengangguk cepat. Ia membenarkan posisi rambutnya yang teurai ke depan dengan mengambil jepitan di saku tas.

Tiga menit berlalu. Elang dipastikan belum sampai. Karena ia baru akan menuju pintu masuk kampus UI. Sedangkan bu Hamidah bersiap mendengarkan hasil revisi proposal Pipit. Di tengah obrolan, Pipit melihat lelaki berjalan cepat menuju ke arahnya. Wajah lelaki itu sedikit tertutupi rambunya yang sedikit gondrong.

“Maaf bu, saya telat,” ucapnya. Pipit baru bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu. Ia mematung.
Sadar ada yang memperhatikan, Elang menengok ke sebelah kirinya. Tatapan Elang membuat Pipit salah tingkah. Ia tak berani lagi menatap. Sedangkan Elang menahan senyum melihat reaksi perempuan di sebelahnya.

Bu Hamidah sadar bahwa dua mahasiswanya belum saling kenal. Maka ia pun membuka obrolan.
“Lang. ini Pipit, mahasiswi Ibu di jurusan Ilmu Komunikasi. Kamu bisa  tanya-tanya sama dia. Penelitianmu ada sedikit hubungannya. Pipit ini cerdas loh. Kalau nanti skripsinya ini A, maka dia akan menjadi mahasiswi dengan predikat cumlaude sempurna,” ucap Bu Hamidah. Pujian tersebut membuat Pipit senang, walau ada beban dikenalkan dengan penilaian yang terlalu bagus di depan orang yang baru dikenal.

Semenjak pertemuan ini, Elang jadi sering menghubungi Pipit. mereka jadi sering ke perpustakaan bareng, bahkan Elang tak keberatan diminta mengantarkan Pipit menemui narasumber. Hal yang sama juga dilakukan Pipit, ia bersedia mengangkat telepon tengah malam untuk mendengarkan keluh kesah Elang yang mengalami kesulitan menyajikan data penelitian skripsinya. Hingga tibalah sampai pada sidang skripsi.

“Selamat ya Pit. Akhirnya terwujud juga untuk IPK 4 nya. Keren!!” Elang spontan memeluk Pipit. Membuat mahasiswi dengan tubuh mungil tersebut terkejut. Namun ia menikmati momen yang sedang terjadi. Ucapan selamat pun didapat dari teman-temannya. Pipit tak bisa menahan tangis haru. Apalagi di momen Wisuda, ia menjadi satu-satunya mahasiswi yang mendapatkan IPK 4.
Bagaimana dengan Elang?

Walaupun lelaki itu tidak semengagumkan dirinya. Prestasinya tidak buruk. Ia mendapatkan IPK 3.61, tentu sudah angka yang bagus. Lagipula Elang tak memiliki target untuk menjadi mahasiswa dengan nilai paling baik. Selama kuliah, ia lebih fokus mengikuti kegiatan kemahasiswaan dan aktif dalam komunitas yang berfokus pada kepedulian lingkungan.

Hal itulah yang membuat Pipit mengagumi Elang. Mereka menjadi dua sejoli yang membuat mahasiswa lain iri, bahkan mereka digosipkan pacaran.

“Kenap harus backstreet sih? Ngomong saja lah kalau pacaran,” kalimat itulah yang kerap disampaikan teman-temannya ke Pipit. Terkadang Pipit kesal sendiri menghadapi kenyataan bahwa Elang tak pernah sekelumit pun membahas soal asmara.

Di sisi lain, Elang merasa minder apabila berdekatan dengan Pipit. Lelaki itu merasa sulit menjangkau alam pikiran Pipit yang sering membuatnya terlihat bodoh. Elang juga ragu apakah Pipit bisa masuk ke dalam keluarganya mengingat Pipit dari keluarga sederhana.

Hal yang dipikirkan Elang memang tidak salah. Pipit mengalami hal yang sama atas apa yang dialami Elang. Bedanya, Pipit minder karena dirinya bukan dari keluarga kaya. Hingga rasa minder itu diperkuat dengan pertemuan dirinya dengan seorang perempuan di toilet Mall.

“Eh, kamu Pipit ya?” seorang perempuan berhijab merah jambu menegurnya. Melihat kebingungan dirinya, perempuan itu memperkenalkan diri. Namanya Mutia.

Menyadari bahwa mereka memiliki agenda pertemuan yang sama, Pipit dan Mutia menuju meja makan yang di tempat tersebut sudah duduk Elang dan mamanya.

“Hei, kalian kok bisa barengan,” Mama nya Elang mengomentari kedatangan mereka yang bersamaan.

“Oh iya Lang. ini Mutia, masih ingat gak? Kamu dulu ketemu masih kelas 1 SD. Sekarang cantik ya. Salehah loh.. Mama rasa kalian bisa mulai saling mengenal,” kalimat itu membuat Pipit terkejut. Ia langsung lemas menyadari bahwa pertemuan ini bukan untuk dirinya. Melainkan untuk Elang bertemu dengan calonnya.

Semenjak pertemuan itulah Elang tak lagi bertemu dengan Pipit. Bahkan nomor kontaknya sudah tidak aktif. Elang kehilangan jejak. Semua media sosial tidak ada pembaruan postingan. Elang tak mengerti apa yang terjadi. Hingga lima tahun berlalu, nama Pipit kembali hadir dalam hidupnya. Itupun Elang tidak bisa memastikan bahwa Pipit yang ditemuinya besok adalah orang yang sama dikenalnya lima tahun silam.

Bersambung...

Mata Yang Berbicara (Bagian 1)






Silau matahari merangsek menerobos jendela kamar yang terbuka sedikit. Lelaki bernama Elang yang masih terbaring di tempat tidur mulai terganggu, matanya mengerjap terbuka perlana. Posisi terlentangnya berubah jadi miring, tangannya berusaha mematikan alarm jam yang diatur sesuai keinginan, pukul 06:30 WIB. Elang mulai merubah posisinya menjadi duduk. Matanya menyapu sekitar, mencari ponsel. Ia ingat bahwa semalam mendapat pesan dari atasannya untuk menyiapkan presentasi untuk rapat hari ini. Maka dia mengecek email terkait bahan yang dibutuhkan, ternyata bahan yang dikirim sudah dikirim lengkap. Tinggal dia meramunya ke dalam template presentasi yang ringkas dan menarik.

Belum sempat melangkah ke kamar mandi, pintu kamar ada yang mengetuk. Elang membukanya, dan terlihatlah sosok ibunya yang sudah rapi dengan pakaian dinas.

“Kamu baru bangun?” Ibu Ratih terheran anaknya masih acak-acakan rambutnya. Elang hanya menggeleng.

“Mama sudah mau berangkat?” tanyanya.

“Mama ada kegiatan di luar kota selama tiga hari. Sarapanmu sudah ibu siapkan ya, maaf tidak sempat membangunkanmu tadi. Gak terlambat kan?” ucap Ibu Ratih sambil melihat jam di tangannya.

“Tenang Ma. Elang masih ada waktu buat makan sarapan yang sudah tersedia, makasih ya,” Elang mengecup pipi ibunya.

Acara sarapan pagi telah usai. Elang sekarang sudah ada di kantor. Matanya sangat fokus menatap layar laptop. Dia sampai tidak sadar bahwa ada seorang OB yang meletakkan secangkir kopi untuknya.

“Dinimun pak, kalau sudah dingin gak enak,” ucapan itu membuat Elang kaget. Lalu menatap OB yang menunduk minta maaf telah membuat kaget.

“Thanks ya, bro!” Elang menepuk Pundak sang OB.

Elang memang membutuhkan penghangat di ruangan yang cukup dingin, apalagi matanya mulai ngantuk menatap grafik dan pointers yang dibuatnya.

Di tempat berbeda, seorang bernama Pipit membenarkan posisi duduknya. Tamu yang ditunggunya baru saja sampai dengan permohonan maaf karena terlambat 1 jam. Tanpa basa-basi, Pipit langsung saja memulai memaparkan apa yang menjadi kebutuhan atas pertemuan tersebut. Kurang lebih 10 menit ia menyampaikan, lawan bicaranya mengangguk puas. Pipit langsung mendapat rekomendasi untuk datang ke kantor tamunya.

“Nanti staf saya yang akan menemui ibu Pipit. Informasi selanjutnya nanti supaya dia yang menghubungi. Tak butuh waktu lama, pertemuan selesai. Di luar ruangan, sudah ada 2 tamu lagi yang menunggu. Pipit tampaknya siap sibuk di hari pertamanya mendapat jabatan baru sebagai Asisten Manajer. Ia mendapat ruangan khusus yang hanya ada dia di ruangan.

“Silakan masuk..” ucap Pipit pada tamu berikutnya. Ia menampilkan senyum tipis dengan gerakan tangan memberi jalan. Semangat Pipit tak habis untuk menyambut tamu demi tamu yang hadir. Hingga tibalah tamu terakhir di hari ini.

“Terima kasih atas kerjasama. Segera kami kabari perkembangannya,” ucap Pipit menutup pertemuannya.

Elang di tempat kerjanya telah menyelesaikan tugasnya untuk mendampingi manajernya paparan di hadapan Direktur. Ia melipat laptopnya untuk kembali ke ruang kerja. Namun atasannya menghampirinya.

“Pak Elang, besok temui seseorang di Starbucks Kuningan City ya. Terkait apa saja yang perlu dibawa, segera saya email,” ucap Manajer. Elang mengangguk paham. Setelah mendapat arahan tersebut, Elang bersiap untuk pulang kerja.

Jam pulang kerja bukan cerita menarik bagi Pipit. Perempuan yang biasa naik KRL tersebut mengganti sepatu yang tidak berhak tinggi. Supaya tidak menganggu, ia mengikat rambutnya. Ia tidak mau ketika berdesak-desakan dengan penumpang lainnya, rambutnya berantakan. Apalagi dia naik KRL di stasiun yang cukup ramai penumpang, yaitu stasiun Sudirman.

Sampai di rumah, Elang baru menerima bahan-bahan untuk pertemuan besok. Dia juga baru mendapat kontak seseorang yang akan ditemuinya. Nama yang dikirimkan oleh sang Manajer membuatnya mematung sejenak. Namun Elang tak mendapatkan petunjuk karena foto profil yang dipasangnya adalah logo perusahaan yang ditempatinya.

Kejadian berbeda dialami oleh Pipit. Perempuan yang baru saja menghempaskan badannya di tempat tidur, mendadak terperanjak. Demi menerima pesan dari nomor yang baru dikenalnya, ia merubah posisinya menjadi duduk.

“Elang?” gumamnya.

Pipit segera menyimpan nomor tersebut. Ia penasaran dengan foto profil dari nomor kontak yang baru saja mengirim pesan padanya. Namun belum sempat ia melihat fotonya, pintu kamar diketuk seseorang. Ia pun lebih memilih membuka pintu lebih dulu.

“Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Nak?” sang ayah membelai rambutnya. Pipit menyunggingkan senyum. Ia lalu memeluk sang ayah. Perhatian dari sang ayah itulah yang membuat Pipit memilih untuk tidak tinggal sendiri yang lokasinya dekat kantor. Ia rela jauh pulang ke Depok, walaupun harus berdesakan naik KRL.

“Kita makan malam yuk!” ajak sang ayah. Pipit mengekor di belakangnya.

Tanpa diketahui Pipit, Elang menunggu balasan pesan yang dikirim untuknya. Elang berkali-kali mengecek aplikasi Whatsapp untuk tak sabar mengenal sosok Pipit. Dia penasaran siapa perempuan yang akan ditemuinya besok.

Usai makan malam bersama ayahnya, Pipit tak lagi mengecek ponselnya. Dia terlalu bahagia bisa menikmati makan malam bersama ayahnya yang hampir setiap hari dilakukan. Makan malam menjadi agenda rutin untuk saling berbagi cerita selama seharian di luar rumah. Sang ayah pun masih cukup sibuk di Yayasan yang dikelolanya. Apalagi setelah meninggalnya sang ibu, tampaknya ayahnya menyibukkan diri untuk mengurangi rasa kesepian ditinggal ibunya 2 tahun silam. Tak butuh waktu lama, Pipit tertidur. Di tempat yang berbeda, Elang masih bersama rasa penasarannya. Pikirannya tiba-tiba teringat peristiwa lima tahun lalu.

Bersambung…..



Selasa, 03 September 2019

Hati Yang Ku Pilih

Ruang tengah begitu ramai. Berjajar melingkar orang-orang dengan posisi duduk. Di depan mereka terhidang kue-kue, jajanan basah, dan aneka keripik, serta minuman berwarna. Terlihat dua anak berlarian menyelinap ke sela-sela makanan yang tertata rapi. Ibu mereka berteriak mencegah, tapi tak dihiraukan. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu menggelengkan kepala. Mereka tidak terlihat menyebalkan, malah menggemaskan. Betapa dunia anak-anak sulit dipahami oleh orang dewasa, tidak terkecuali aku. Rasanya rindu dengan dunia anak-anak yang tanpa beban, bahkan terkesan cuek dengan apa yang terjadi pada orang dewasa.

“Kak Putri, dipanggil Umi,” adikku Rifan memanggil. Tangannya memberi kode untuk segera.

Aku lalu berdiri membungkuk, melewati dua orang di sebelahku. Ku dekati ibu yang berada di teras rumah. Ternyata Umi tidak sendirian, ada seseorang yang berdiri tepat di sebelahnya. Aku mengenali siapa dia. Aku cukup terkejut dengan kehadiran dia di momen yang menurutku kurang pas. Tapi Umi sepertinya memahami situasiku.

“Sebaiknya, Umi biarkan kalian ngobrol sebentar,” Umi pergi meninggalkan kami. Akan tetapi aku mencegahnya.

“Putri kan gak punya banyak waktu untuk menerima tamu, sebentar lagi Febrian dan keluarga mau datang,” timpalku.

Umi kurang sepakat dengan omonganku. Dia menepuk pundakku.

“Put, sebaiknya selesaikan dulu apa yang perlu diselesaikan. Supaya ke depan, gak ada beban lagi,” ucap Umi.

Umi melenggang pergi sambil merangkul Rifan, adikku.

“Put, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” ia memulai bicaranya.
“Apanya yang harus diperbaiki?” tanyaku.

“Put, aku tahu salah besar telah mempermainkan perasaanmu selama ini. Kamu pun sudah mengakuinya kan, bahwa hubungan kita selama ini bukan sekedar teman biasa?” ujarnya dengan intonasi suara yang hati-hati sekali.

“Lalu?” tanyaku dingin.

“Aku tahu malam ini seharusnya malam yang bahagia buat kamu, karena pada akhirnya ada seseorang yang akan melamarmu. Tapi benarkah kamu sudah yakin dengannya?” tanyanya.

“Apa pentingnya buat kamu?” tanyaku menatapnya tegas.

“Karena sekarang aku sadar, bahwa aku pun selama ini tak menganggap hubungan kita teman biasa,” jawabnya.

Aku begitu kaget mendengar pengakuan tersebut. Bagaimana bisa dia mengaku disaat aku sudah menunggu seseorang melamarku?

“Kamu sadar apa yang kamu katakan?” tanyaku mencoba tetap tenang. Walau kalimatku tidak setegas tadi. Hatiku mulai goyah.

“Aku sadar sekali Put, beri aku kesempatan,” pintanya.

“Helmy, kenapa baru sekarang?” bibirku bergetar. Aku tak mampu menahan gejolak yang kembali muncul. Jelas, aku masih memendam rasa ke Helmy. Lelaki di depanku ini memang memiliki pesona yang tak mudah pudar begitu saja.

Hanya Saja yang kurasakan berbeda. Harusnya ini kabar gembira, tapi aku justru merasakan kekecewaan yang luar biasa. Aku seperti dipermainkan oleh seseorang yang aku sayangi. Hatiku seperti sengaja dilemparkan ke lautan lepas yang penuh badai besar.

“Kamu masih mencintaiku kan Put? Hati kamu sejujurnya hanya buat aku kan Put?” Helmy mendesakku untuk mengakui sesuatu.

Namun sebelum aku mengungkapkan sesuatu, sorot lampu mobil menerpa wajah kami. Tandanya rombongan keluarga Febrian tiba.

Aku bergegas memperbaiki keadaan. Aku kendalikan emosiku supaya tak terlihat sedang tak baik.
Febrian keluar lebih dulu dari mobil. Ia terlihat sangat gagah sekali dengan setelan baju batik klasik dan celana kain serta sepatu pantofel yang mengkilat. Rambutnya disisir menyamping sedikit ke belakang. Aku sampai tak mengenalinya dalam sepersekian detik.

Ekspresi Febrian tak berubah melihat keberadaan Helmy. Padahal ku lihat Helmy tampak canggung dan tak nyaman atas kedatangan Febrian. Aku yang awalnya takut suasana menjadi kacau, menjadi sedikit lega ketika keluarga Febrian begitu hangat menyapaku.

“Ini teman kamu Put?” Mama nya Febrian juga menyambut ramah Helmy. Mau tak mau Helmy menyambut tangan Mama nya Febrian yang menjabat dirinya.

Dalam situasi ini aku bingung untuk menjelaskannya. Tapi Umi menolongku, ia datang menyambut keluarga Febrian. Kami pun diminta untuk segera masuk ke ruang tamu.

Keramaian yang tadi tak terkendali di ruang tamu menjadi sangat tertib. Anak-anak yang tadi sangat bandel, akhirnya paham bahwa acara pentingnya sudah dimulai. Supaya tak terkesan buru-buru, kami berbasa-basi dengan saling mengenalkan sanak saudara. Hidangan yang sudah disediakan pun dipersilakan untuk dinikmati.

“Mama.. Papa.. Umi.. Abah..” ucapan Febrian membuat basa-basi berakhir. Semua mata memandang ke arahnya, termasuk aku.

“Sebelum niat baik saya sampaikan, ada hal yang perlu saya bicarakan lebih dulu dengan Putri. Jika diizinkan, berikan waktu buat kami ngobrol empat mata,” ujar Febrian.

Sungguh aku tak menyangka Febrian akan mengatakan hal itu. Perasaanku jadi tidak enak. Mungkinkah Febrian akan membatalkan lamarannya? Kenapa aku begitu takut kenyataan tersebut terjadi?

Febrian lebih dulu keluar rumah, Umi lalu menegurku untuk segera menyusul karena aku malah terdiam.

Aku memandang Umi untuk meminta pertolongan atas situasi yang sangat sulit ini bagiku. Umi lalu memberikan isyarat dengan menunjuk ke dada. Artinya aku harus menjalani ini sesuai kehendak hati.
Kini aku dan Febrian duduk di teras rumah berdua saja.

“Ada perlu apa Helmy datang ke sini?” dia langsung menanyakan hal tersebut.

“Dia datang menyampaikan permintaan maaf,” jawabku ragu-ragu
.
“Maaf untuk apa?” selidiknya.

“Brian, kamu sudah tahu kan tentang aku dan dia,” balasku.

“Justru karena aku sudah tahu, makanya apa yang harus dimaafkan darinya?” tanyanya lagi.

“Ya soal cintaku yang bertepuk sebelah tangan,” balasku.

“Ooh…” responnya.

“Feb, dia mengatakan kalau sekarang dia memiliki perasaan yang sama denganku,” ucapku hati-hati.

“Sekarang apa yang kamu rasakan?” tanyanya.

Astaga, bagaimana Febrian sangat tenang begitu mendengar kabar yang boleh jadi buat orang lain sebuah pukulan keras. Apa yang aku rasakan? Pertanyaan itu membuatku merenung. Kemudian ingatanku menyeret ke peristiwa setahun silam.

Setahun lalu…..

Pekerjaan hari ini tak berjalan seperti biasanya. Sering sekali aku menerima protes dari atasanku akibat tidak melakukannya dengan sempurna dan tepat waktu. Bekerja di bagian pertelevisian, tentu tak hanya bertanggungjawab dengan pekerjaanku saja, tapi bertanggungjawab terhadap pekerjaan orang lain yang terkait denganku.

“Come on, Putri. You have to focus!!!” teriak Pak Daniel.

Forgive me, Pak,” hanya itu yang bisa ku jawab.

Sampai larut malam aku harus menyelesaikan tugasku akibat banyak kesalahan. Di tengah-tengah kesibukanku, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ku lirik siapa pengirim pesan di LINE milikku. Ternyata tertera nama Helmy.

Aku pun penasaran untuk membukanya. Ada perasaan rindu ketika sudah sekian bulan aku tak mendapat kabar tentangnya.

Ternyata dia hadir lagi untuk menanyakan pekerjaan. Tanpa basa-basi sedikit pun. Masihkan aku harus menanggapinya lagi? perang batin di hatiku pun bergejolak. Bagi siapa pun yang sudah mendengar cerita hidupku, nama Helmy ibarat minuman memabukkan, yang kapan pun diminum akan memberikan efek hilangnya kesadaran berfikir.

Di sisi lain, dia meminta informasi pekerjaan pada waktu yang tepat. Di kantorku bekerja, telah dibuka lowongan dibagian broadcasting. Nah, Helmy memiliki keahlian di bidang tersebut. Pantaskah aku menghalangi rezeki orang?

Keputusanku akhirnya adalah memberikan informasi tersebut padanya. Maka sejak malam ini, kami menjadi kerab ngobrol di LINE. Dia pandai sekali membuat suasana hatiku kembali mencair dan melupakan sikap kesalku padanya.

Pada akhir pekan dia mengajakku jalan berdua. Rencananya hanya makan saja, tapi mendadak dia berniat untuk membeli kaos. Pada sebuah distro, dia memintaku untuk memilihkan kaos yang cocok untuknya. Bagiku, keputusan tersebut adalah sinyal bahwa aku spesial baginya. Aku pun memilihkan kaos yang menurutku bagus. Dan hasilnya, Helmy menyukainya. Aku bisa melihat seseorang suka beneran atau hanya pura-pura. Dan keyakinanku dia benar-benar menyukai pilihanku. Selanjutnya dia juga memilihkan baju untukku, dan pilihannya pun sesuai seleraku.

Belum selesai dia membayar belanjaannya, ponselku berbunyi. Ada pesan masuk dari Febrian.

“Putri, kamu siap-siap ya. Aku akan menjemputmu,” bunyinya.

“Aku sedang di luar, Feb,” balasku.

“Kamu lupa ya, kan rabu lalu kamu janji bisa menemaniku jalan,” bunyi pesan selanjutnya.

“Oh iya? Haduh maaf ya Feb, aku benar-benar lupa,” balasku.

“Gak biasanya kamu begini,” balasnya lagi.

Gak biasanya? Yah aku memang sedang tidak biasa. Hari ini aku begitu menikmati momen kebersamaan dengan Helmy. Sekali lagi aku mengucapkan permintaan maaf pada Febrian.

Lagi dan lagi, aku telah menyakiti pria yang berusaha dekat denganku. Dulu, Fian, Benny, dan Angga, ketiganya bergerak mundur ketika aku kerab mengabaikan ajakannya untuk jalan. Padahal mereka mengakui langsung padaku bahwa ingin mengenalku lebih dari sekedar teman.

Harusnya sekarang aku melakukannya pada Febrian?

Untuk menjawab itu, kali ini aku mantap harus memastikan sesuatu. Ketika Helmy mengajakku makan di rumah makan cepat saji, aku memberanikan diri untuk kembali mengungkapkan isi hatiku. Dulu aku sudah pernah melakukannya, dan hasilnya Helmy hanya menganggapku teman. Tapi aku kini mengulanginya lagi dengan harapan perasaan dia bisa berubah. Apalagi, sikapnya akhir-akhir ini menurutku lebih dari sekedar hubungan seorang teman.Terakhir, yang membuatku yakin bahwa hubungan ini bukan teman biasa adalah dia menyuapkan makanan dari sendok di piringnya.

“My… boleh aku bertanya sesuatu?” ujarku.

“Ngomong saja,” balasnya cepat.

“Setelah semua yang kamu lakukan tadi, bisa kamu jelaskan bagaimana hubungan kita?” ujarku.

“Hubungan apa?” Helmy sama sekali tak peka dengan arah pembicaraanku.

“Helmy, cukuplah kamu main-main dengan perasaanku,” ujarku lirih.

“Put, kamu mau mengulang masalah yang sama?” tanyanya.

“Apakah jawabannya tetap sama?” kini aku menatapnya.

“Aku sangat nyaman sekali sama kamu. Kalau ditanya apakah hubungan kita bisa lebih dari teman, aku butuh waktu,” ujarnya.

“Sampai kapan?” tanyaku.

“Kita jalani saja ya, kamu mau kan?” jawabnya.

Jawaban itu sama sekali bukan sebuah jawaban. Walaupun bukan sebuah penolakan, tapi itu sama seperti mengikatku dengan kuat untuk suatu saat tali itu digunting dan aku akan terjatuh dalam jurang yang dalam. Aku tak menjawab lagi, dan memintanya untuk mengantarkanku pulang.

Sampai di rumah, aku terus memikirkan apa yang barusan terjadi. Perasaan senang, kesal, dan momen-momen yang tak terlupakan mengaduk pikiranku. Berkali-kali aku mencoba memejamkan mata, namun tetap saja sulit. Hingga ada pesan masuk.

“Jadi, dia alasanmu sampai lupa dengan janjimu? Aku tadi lihat kamu di MacD,” tulisnya.
Astaga, bagaimana Febrian bisa di lokasi yang sama.

“Feb, aku benar-benar minta maaf,” balasku.

Dia lalu melakukan panggilan video. Aku segera menerimanya.
Dia menampilkan senyum yang selalu ia berikan padaku. Padalah sikapku padanya cenderung dingin.

“Aku ngerti kok Put. Helmy adalah segalanya buat kamu,” dia ternyata masih ingin membahas soal itu.

“Boleh aku bercerita tentang kupu-kupu?” lanjutnya.

“Kamu mau dongenin aku malam-malam gini?” sahutku. Dia tertawa renyah.

“. Belum ingin tidur kan?” tanyanya. Aku mengangguk.

 “Kupu-kupu. Kita sering melihatnya sangat mempesona, cantik sekali berwarna-warni sayapnya. Hewan itu seperti ingin menambah kecantikannya dengan hinggap di tumbuhan yang berbunga cantik pula. Tapi pernahkan kamu berfikir, kalau bisa saja hewan itu tak pernah ada. Kupu-kupu itu sebenarnya gak ada loh Put,” dia bercerita dengan ekspresi yang lucu. Aku senyum-senyum mendengar ceritanya.

“Tapi buktinya sekarang ada Feb,” balasku menimpali ceritanya.

“Kupu-kupu ada karena ada hewan bernama Ulat yang rela berpuasa. Ia mengurung diri di tempat yang sangat rapat sekali. Ia mengabaikan dedaunan yang hijau, udara segar di pagi hari, dan ia tak bisa menyaksikan bintang yang bertaburan. Tapi dia meyakini bahwa pengorbanannya tidak sia-sia. Suatu hari nanti di waktu yang tepat, dirinya akan bertransformasi menjadi hewan yang lebih banyak menikmati keindahaan yang seharusnya bisa dinikmatinya hari ini. Bahkan dia tak hanya menikmatinya sendirian, makhluk yang lain pun turut bahagia atas dirinya yang baru. Nah pertanyaan buat kita semua, mau kah kita menjadi ulat selamanya atau berani mengambil resiko kehilangan banyak momen membahagiakan untuk mendapatkan kebahagiaan yang berlipat dan menjadi kupu-kupu? Dongen sebelum tidur telah selesai, selama tidur Putri,” pungkas Febrian.

Cerita Febrian benar-benar menamparku. Aku ternyata selama ini hanya menjadi ulat dan larut pada kebahagiaan yang ku paksakan. Seandainya aku berani mengambil resiko dan berkorban lebih dari yang dilakukan ulat, maka aku tak akan hanya membahagiakan diriku saja. Padahal Umi dan Abah sering menegurku untuk segera mengenalkan calon menantu untuk mereka.

Paginya aku bangun telat akibat memikirkan kalimat Febrian. Siangnya aku memutuskan untuk menemui Febrian pas jam istirahat. Sambil menikmati makan siang, kami ngobrol banyak hal. Tak ada obrolan yang penting sebenarnya, hanya saja itulah titik awal aku membuka hatiku lebar-lebar untuk Febrian. Ada perasaan nyaman yang muncul tiba-tiba.

Semakin lama kami akrab hingga akhirnya tiga bulan kemudian kami sepakat untuk membawa hubungan kami ke arah yang serius. Maka kami pun mempersiapkan segala keperluan untuk rencana pernikahan dan sebagainya. Febrian tampak lebih semangat bekerja dari biasanya.Aku memang tak satu tim dengannya, tapi aku mendengar cerita dari teman satu tim dia.

Bukan tanpa rintangan, Febrian begitu sabar menghadapiku yang terkadang masih suka labil memikirkn Helmy. Kalau saja dia lelaki biasa, pasti kesal jika aku masih belum bisa move on dari masa laluku. Namun Febrian tak patah semangat untuk meyakinkanku bahwa bersamanya semua akan baik-baik saja.

Semenjak aku pacaran sama Febrian, tak ada tanda-tanda bahwa Helmy merasa cemburu. Ia malah ku dengar sangat agresif mendekati Silvia, yang bekerja di bagian tim kreatif. Cewek tersebut sesuai selera Helmy yang pernah diceritakan kepadaku. Semua karyawan di kantor kami mengakui bahwa Selvia adalah karyawati tercantik. Namun Helmy sepertinya perlu bekerja lebih keras untuk mendapatkan cintanya.

Pada titik itulah, aku akhirnya tak ada harapan lagi pada Helmy. Ku kubur dalam sampai tak tercium bau kenangannya. Didukung dengan pertemuan kami yang tak lagi terjadi.
Kembali ke hubunganku dengan Febrian, sembilan bulan pun akhirnya kita lalui, pada minggu ke-48, Febrian akhirnya mengatakan kepadaku akan membawa keluarganya datang ke rumah untuk melamar. Hati perempuan mana yang tak bahagia?

*****endflashback

“Putri..” Febrian membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh ke arahnya. Menantikan dia memberi kalimat yang membuatku bisa memberi jawaban yang tepat.

“Setahun, menurutku bukan waktu yang sebentar untuk kita mempersiapkan segalanya. Memilikimu seperti memiliki daya baterai yang tak pernah habis. Aku selalu semangat mengerjakan banyak hal dari biasanya. Tapi siapakah yang bisa menjamin hati seseorang akan sama setiap detik selanjutnya? Sama sekali tidak ada. Maka jika malam ini, ternyata hati itu berubah, maka bukan persiapan setahun yang hilang. Kehilangan sesungguhnya adalah apabila kita tak pernah menemukan apa yang sebenarnya kita persiapkan selama setahun itu,” ujarnya.

Aku tertegun mendengar ucapannya. Jelas beda sekali dengan apa yang aku dengar dari Helmy. Aku tahu, seseorang yang berusaha memberi kebebasan justru sedang sangat ingin mengikat kita erat-erat. Beda lagi, seseorang yang keukeh ingin memiliki kita, dia sedang ingin mempersiapkan kemenangannya sendiri. Maka malam ini aku mantap, pada siapa hati ini ku labuhkan. Pada siapa masa depanku tumbuh subur.

“Malam ini aku tidak sedang mempersiapkan jadi ulat, aku ingin jadi kupu-kupu yang cantuk, ingat?” ujarku.

“Tentu, kan aku yang cerita,” timpal Febrian mengulum senyum. Aku lalu mengajaknya ke dalam rumah mengingat kita sudah ditunggu oleh dua keluarga besar.

Ku lihat Helmy terlihat sangat pucat atas keputusanku yang langsung menerima lamaran dari Febrian dan keluarga. Biarlah dia belajar banyak hal dalam situasi ini. Karena bagi seorang perempuan, bukan seberapa besar rasa cinta yang ia terima. Tapi seberapa mampu orang tersebut menghadirkan rasa nyaman dan melindungi.

“Seorang perempuan boleh saja larut dalam perasaan sayang yang berulang-ulang pada seseorang, tapi ia tak akan mau menghabiskan waktu yang berulang-ulang untuk rasa yang berbalas dari seseorang”

Gelas, toples, dan piring yang kosong menjadi bukti bahwa semuanya telah selesai. Tamu yang hadir telah pergi membawa perasaan masing-masing. Helmy mungkin membawa kekecewaan yang mendalam terhadapku. Kalau Febrian sudah pasti membawa rasa bahagia.

Aku?

Telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah bagi dua keluarga.
Sampai ketemu di pelaminan…..