Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2019

Mata Yang Berbicara (Bagian 3)

Kadang, penantian tak perlu dinanti, justru takdirlah yang mempertemukan seseorang yang lama tidak berjumpa, seperti hari ini antara Elang dan Pipit. Memang, pertemuan mereka terjadi bukan secara tiba-tiba, melainkan sebuah pekerjaan. Lima tahun tampaknya jeda yang cukup bagi mereka. Pipit yang lebih dulu bisa melihat bahwa kontak Whatsapp yang akan ditemuinya adalah Elang, orang yang pernah dikenal sebelumnya, ia sedikit ada rasa gugup. Sedangkan Elang baru bisa melihat ketika pertemuan terjadi, ia kaget. Akan tetapi, ia berusaha mengendalikan situasi.
“Hai, Ibu Pit. Terima kasih atas kesempatannya bertemu,” begitulah ucapan Elang berusaha tetap professional. Ini urusan pekerjaan, bukan sedang reuni.
Pipit tidak sendirian. perempuan tersebut ditemani stafnya, namanya Diana. Bukan karena Pipit takut bertemu Elang sendirian, melainkan memang setelah pertemuan ini mereka akan menghadap ke lembaga pemerintahan untuk menggarap sebuah kegiatan nasional.
Pelayan kafe sigap menghampiri mereka. …

Mata Yang Berbicara (Bagian 2)

Lima tahun silam..
Elang melihat jam digital di tangannya. Raut wajahnya gelisah. Kemacetan di depan tampaknya sulit terurai. Ia mulai menyesali sesuatu. Harusnya ia tadi tidak mengendarai mobil menuju kampus. Ia lupa kalau hari ini adalah hari sabtu. Jalanan Depok arah ke Jakarta di jam menjelang siang sangatlah padat. Sedangkan ia hanya punya waktu 10 menit untuk bertemu dosen pembimbingnya, Ibu Hamidah. Ia tak terbayang mendapat omelan karena telat. Sejauh ini bimbingan dengan Ibu Hamidah selalu tepat waktu.
Di kampus, perempuan bertubuh mungil sudah duduk menunggu sang dosen. Ia mengenakan setelan baju putih dan rok sebatas lutut dengan wedges warna silver. Ia membuka file skripsi yang siap ditunjukkan ke pembimbing. Ia baru saja merevisi hasil sidang proposal yang dinilai sempurna. Ia hanya perlu mempertajam fokus penelitian.
Tak lama setelah file terbuka, Bu Hamidah telah menyapanya. Ia hari ini tampak ceria dengan setelan hijau toska dengan kerudung khas miliknya yang memperlihatk…

Mata Yang Berbicara (Bagian 1)

Silau matahari merangsek menerobos jendela kamar yang terbuka sedikit. Lelaki bernama Elang yang masih terbaring di tempat tidur mulai terganggu, matanya mengerjap terbuka perlana. Posisi terlentangnya berubah jadi miring, tangannya berusaha mematikan alarm jam yang diatur sesuai keinginan, pukul 06:30 WIB. Elang mulai merubah posisinya menjadi duduk. Matanya menyapu sekitar, mencari ponsel. Ia ingat bahwa semalam mendapat pesan dari atasannya untuk menyiapkan presentasi untuk rapat hari ini. Maka dia mengecek email terkait bahan yang dibutuhkan, ternyata bahan yang dikirim sudah dikirim lengkap. Tinggal dia meramunya ke dalam template presentasi yang ringkas dan menarik.
Belum sempat melangkah ke kamar mandi, pintu kamar ada yang mengetuk. Elang membukanya, dan terlihatlah sosok ibunya yang sudah rapi dengan pakaian dinas.
“Kamu baru bangun?” Ibu Ratih terheran anaknya masih acak-acakan rambutnya. Elang hanya menggeleng.
“Mama sudah mau berangkat?” tanyanya.
“Mama ada kegiatan di luar ko…

Hati Yang Ku Pilih

Gambar
Ruang tengah begitu ramai. Berjajar melingkar orang-orang dengan posisi duduk. Di depan mereka terhidang kue-kue, jajanan basah, dan aneka keripik, serta minuman berwarna. Terlihat dua anak berlarian menyelinap ke sela-sela makanan yang tertata rapi. Ibu mereka berteriak mencegah, tapi tak dihiraukan. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu menggelengkan kepala. Mereka tidak terlihat menyebalkan, malah menggemaskan. Betapa dunia anak-anak sulit dipahami oleh orang dewasa, tidak terkecuali aku. Rasanya rindu dengan dunia anak-anak yang tanpa beban, bahkan terkesan cuek dengan apa yang terjadi pada orang dewasa.
“Kak Putri, dipanggil Umi,” adikku Rifan memanggil. Tangannya memberi kode untuk segera.
Aku lalu berdiri membungkuk, melewati dua orang di sebelahku. Ku dekati ibu yang berada di teras rumah. Ternyata Umi tidak sendirian, ada seseorang yang berdiri tepat di sebelahnya. Aku mengenali siapa dia. Aku cukup terkejut dengan kehadiran dia di momen yang menurutku kurang pas. Tapi …