Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2021

Sakit Yang Dipilih

Sekumpulan Mahasiswa almamater hijau memenuhi ruang auditorium Universitas Kasih Bunda. Sekitar serratus lebih mahasiswa perwakilan dari Himpunan mahasiswa duduk sesuai kursi yang ditata rapi memanjang. Mereka akan membahas rapat paripurna Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampus (APBK). Tahap pertama, ABPK 2014-2015 diperuntukkan bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang diketuai Rahardian. Ada empat jurusan yang dinaunginya yakni, Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Administrasi Negara, dan Sosiologi. Gumilang selaku ketua Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) tampak elegan dengan almamater kebesaraanya. Dipadukan dengan celana hitam dan sepatu pantofel yang mengkilat. Tatapannya tajam mematikan lawan, hampir semua ketua himpunan menaruh hormat padanya. Tapi tidak bagi Ersa, perempuan dengan rambut sepundak selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom). Ia seolah tak terpikat sama sekali sama sosok yang duduk di sampingnya. Ersa memang sedik

Cinta Yang Menyakitkan (Part 5)

Mendung menggantung di langit-langit Makam. Suasana duka masih menyelimuti keluarga Lala. Tanah kuburan baru saja menutupi jasat kembang desa itu. Bunga kamboja ikut berguguran mengirim rasa empati yang mendalam atas terpisahnya dua insan yang saling mencintai itu. Burung Gagak tak berniat lagi untuk bersiul, kehadirannya sudah cukup bukti bahwa duka kehilangan itu sangat nyata. Kepergian Lala diantarkan oleh orang sekampung. Menurut tradisi di kampung tersebut juga ditanamkan pohon pisang pada tanah makam. Hal itu dilakukan mengingat gadis tersebut belum menikah. Tak seperti biasanya, pemakaman Lala menjadi sangat istimewa dengan bumbu kisah cinta yang memilukan. Banyak pemuda desa yang mengagumi dan berniat untuk menjadi pendampingnya. Bahkan tunangannya merelakan diri pulang dari Malaysia demi ingin melihat jasad terakhir orang yang seharusnya ia nikahi nanti. Bapaknya pingsan berkali-kali di pemakamam, ketika sadar ia pun tak bergeming sama sekali. Prosesi mengadzankan jenazah pu

Cinta Yang Menyakitkan (Part 4)

Selama dua belas jam lebih perjalanan ditempuh Amir hingga tiba di Stasiun Babat, Jawa Timur. Bersamaan dengan penumpang lainnya, ia berdesakan keluar gerbong kereta. Karena tidak butuh waktu lama untuk kereta berhenti dan kembali melanjutkan perjalanan. Ada seorang perempuan tua terlihat hati-hati menuruni tangga gerbong yang jaraknya cukup tinggi dari lantai peron. Bagi penumpang dengan barang bawaan yang melebihi kesanggupannya menggunakan jasa panggul di stasiun. Mereka sigap dengan pekerjaannya, kebiasaan setiap hari membuat beban itu terasa ringan. Hamparan hijau langsung menyapa di antara sambungan rel kereta yang memanjang. Lampu peron masih menyala tanda pagi belum sepenuhnya menyapa. Petugas berseragam biru tua mengurai senyum dengan badan tetap tegak berdiri di posisi masing-masing. Penumpang yang tadi berjubel keluar teratur menuju arah pintu keluar. Usai melewati pos pintu keluar stasiun, Amir sudah disambut kakak ipar yang menjemputnya, Awi namanya. Lelaki yang bersedia

Cinta Yang Menyakitkan (Part 3)

Ujian Semester ganjil telah usai. Artinya jadwal libur panjang semester mulai berlangsung. Sudah menjadi hal yang rutin bagi Amir untuk pulang kampung. Namun libur kali ini suasananya berbeda. Ia tak hanya pulang untuk melepas rindu kepada kedua orangtuanya. Ia akan menyelesaikan persoalan hati yang belum usai. Sekarang, Amir terlihat memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas ransel. Sesuai tiket kereta yang sudah dipesan jauh hari sebelumnya, Amir dijadwalkan pulang pada 25 Januari 2010 pukul 15:45 wib. Tak ada barang khusus yang disiapkan, kecuali pakaian ganti. Namun belum selesai, suara pintu diketuk. “Mir, masakannya sudah siap. Makan dulu gih,” suara Santi dari luar kamar. “Iya, Kak.” Jawab Amir. Melangkah menuruni tangga, Amir kaget karena secara mendadak lemparan bola karet mengenai perutnya. Ia langsung menyadari terjadinya kehebohan di lantai bawah oleh aktivitas kedua ponakannya yang sedang bermain. Ia lalu bergegas membantu kakaknya menghidangkan makanan. “Tolong bantu