Cari Blog Ini

Selasa, 20 Agustus 2019

Bersamamu Ku Sadari


Ponselku sepi. Tak ada chat dari siapa pun. Rasanya aneh ketika setiap hari selalu saja ada pesan yang terkadang mengganggu dari orang yang sama, tiba-tiba hilang. Awalnya aku baik-baik saja karena memang di kantor lagi banyak kerjaan. Tapi sampai jam makan siang, tidak ada notifkasi dari nama yang ku tunggu. Aku pikir semua akan segera membaik seperti biasanya. Ini sudah hari kedua, tetap sepi.

Ku geser layar ponselku untuk melihat Instagramku. Barang kali ada notifikasi yang tidak terbaca di sana, hasilnya sama. Pindah ke Facebook, tetap tak ada messanger yang masuk. Malah yang ada telepon dari nomor yang tidak ku kenal. Tapi aku bisa menebak, pasti mau menawarkan kartu kredit. Frustasi sendiri jadinya.

“Muka kamu kusut begitu, Ris? Berantem lagi sama Citra?” tiba-tiba Nayah duduk di depanku sambil membawa semangkok mie ayam. Dia tampaknya sudah bersiap menjadi psikolog handal. Kerudungnya dirapikan, gaya duduknya dibuat elegan mungkin.

Aku tak menjawab pertanyaannya. Masih malas untuk menceritakan apa yang terjadi.

“Masalah yang sama? Ayolah, siapa tahu aku bisa membantumu” Nayah tak menyerah. Aku yang kini menyerah, ku ceritakan juga padanya.

“Bukan, ini lebih serius dan bergengsi,” ucapku memulai obrolan.

Nayah hampir tersendak mendengar ucapanku. Mungkin terdengar lucu piliham kata yang ku pakai. Dia lalu menatapku seperti ingin menegaskan apa hal serius yang terjadi sehingga untuk hal ini aku menganggap sebagai masalah yang tidak bisa dianggap remeh.

“Kalau aku boleh tahu, ono opo?” Nayah terlihat serius ingin tahu. Posisi duduknya berubah. Tangannya ditumpukan ke dagu, wajahnya lebih dekat ke arahku.

“Bisa dipelankan itu suara?” aku mengingatkan bahwa kita sedang di kantin.

Nayah mengatupkan tangannya ke bibir. Pertanda dia menyadari keteledorannya.

Aku mulai bercerita padanya.

Malam itu, tepatnya tiga hari sebelumnya. Aku mengajak Citra makan malam seperti biasa, aku tak mempersiapkan sesuatu yang spesial, karena inginnya menjadi kejutan. Tempatnya saja yang memang kami belum pernah datangi. Suasana hati Citra baik-baik saja. Dia cerewet seperti biasa, asyik cerita tentang kerjaan di kantor, teman-temannya yang mengajaknya liburan di akhir pekan, dan Mama nya yang rajin membuat kue. Hingga adiknya yang merengek minta dibelikan sepatu futsal.

“Ku bilang padanya, minggu depan setelah aku gajian. Dia gak sabar, padahal kan niatku ingin beli yang bagus sekalian. Jadinya ya, aku belikan yang harganya ratusan ribu,” ucapnya. Aku mengangguk setuju.

“Kalau begitu, aku nanti beli juga buat dia ya. Biar ada gantinya,” usulku.

“Eh gak usah Ris, mending buat kebutuhan yang lain saja. Kamu kan juga harus nabung,” timpalnya. 
Aku mengiyakan saja, namun tetap aku pikirkan untuk membelikan sepatu buat Dio, adiknya Citra.
Ketika Citra sudah tidak lagi bicara. Maka giliranku yang mengungkapkan niat baikku untuk melamarnya. Aku mulai dengan membicarakan hubungan kita selama ini, suka duka, dan banyak hal yang sudah kita rencanakan. Tampaknya Citra mulai menangkap arah pembicaraan kami.

“Kamu tumben ngomong ginian, ada apa?” tanyanya dengan raut wajah yang sulit ku tebak. Namun aku sudah bertekad untuk melamarnya. Aku sudah yakin, semua kesabaran Citra menghadapi sikapku yang dianggapnya suka tebar pesona, telah teruji. Walaupun kadang aku sering kesal sendiri mendapati sikap cemburuannya yang merepotkan. Aku menyadari bahwa semua hal yang ada dalam Citra, baik atau buruknya siap aku terima. Sama seperti dia menerima hal-hal buruk yang ada dalam diriku.

“Hei, kamu ini ya kebiasaan, di tanya malah diam. Lanjut makan deh, itu makananmu masih banyak,” ucap Citra. Tapi aku malah dilanda gugup yang kuat. Ternyata tidak mudah juga untuk mengatakan hal yang penting ya.

“Faris Ibnu Rasyid, kamu dengerin aku gak sih? Aneh deh,” Citra mulai kesal karena aku tak kunjung mengatakan apa pun.

“Cit, kamu mau gak nikah sama aku?” semudah itu kalimat penting akhirnya terucap. Tak ada lebih dari 5 detik. Tapi rasanya sulit ditebak dan tidak bisa lagi ditarik ulang. Rasa gugupku masih menggebu. Walaupun aku memiliki keyakinan bahwa ini hanya formalitas saja, Citra pasti setuju dan sudah menunggu lama kalimat itu. Tapi tunggu dulu, apa yang terjadi?

Citra membeku. Tidak tampak raut wajah kaget yang mengarah pada rasa bahagia, haru, atau apa pun yang menunjukkan bahwa kalimat yang aku ucapkan adalah penantian panjang. Ia lalu menundukkan pandangannya. Aku tak bisa melihat lagi wajahnya yang tegang tadi. Perlahan tangannya mengambil ponsel yang terletak di meja. Ia lalu mengalungkan tali tas di pundaknya. Terakhir dia berdiri.

“Ris, sorry ya!” ucapnya.

Lalu dia melenggang pergi. Aku duduk bengong dengan apa yang terjadi. Aku bahkan tak berdaya untuk mengejarnya. Ini di luar dugaan. Apa yang dipikirkan selama ini dengan hubungan kita?

“Ris, kamuy akin?” Naya berkomentar

“Kok kamu jadi ngeselin? Kan dia berhak untuk menolak atau menerima,” aku tersulut emosi.
“Maksudku, selama ini kan yang aku tahu, Citra itu sayang banget sama kamu. Bahkan terkesan posesif kan, ini kok ketika kamu berniat baik untuk serius terhadap hubungan kalian malah ditolak, why?” Nayah berapi-api.

Nayah ini benar-benar ya. Kalau aku tahu masalahnya apa, tidak mungkin aku sefrustasi ini. Percuma aku ceritakan masalahku padanya.

“Sudahlah, aku balik kerja!” sungutku.

“Ris. Aku tahu…” ucapan Nayah membuatku tidak jadi bangkit. Aku kembali duduk.

 “Tahu apa?” tanyaku.

“Kasih aku kesempatan ngomong ke dia dulu ya, oke?” tawarnya.

“Baiklah. Thanks ya sudah mau bantu,” ucapku.

Nayah mengangguk. Dia meyakinkan aku bahwa semua pasti ada jalan keluarnya.

Tiga hari menunggu, Nayah menghubungiku. Dia memintaku untuk datang ke kedai kopi miliknya di daerah Tebet Jakarta Selatan. Ku janjikan setelah Maghrib, soalnya aku masih harus antar jemput ibuku yang rutin mengikuti pengajian.

Tiba waktunya aku datang ke tempat yang diminta. Aku melihat ada Citra di dalam. Aku sebenarnya kecewa sama dia, karena setelah peristiwa itu dia sama sekali tak menjelaskan apa pun. Bahkan chatku tak pernah dibalasnya. Namun aku harus lebih bijak menghadapi masalah ini. Boleh jadi sekaranglah waktunya aku mendengarkan alasannya.

Nayah menghampiriku lebih dulu. Ia membisikkan sesuatu yang intinya aku harus siap menerima apa pun penjelasannya. Aku tidak boleh marah atau kecewa apabila hasilnya tidak baik. Aku mengangguk.

Ku hampiri Citra yang sudah duduk menunggu. Dia terlihat sangat canggung. Aku tak mengenal Citra yang biasanya riang, penuh senyum, dan mampu membuat siapa pun yang dekat ikut merasakan kebahagiaannya.

“Cit, kamu baik-baik saja kan?” aku mulai buka obrolan.

“Alhamdulillah Ris, baik. Hanya saja, ada hal yang mengangguku akhir-akhir ini,” ucapnya. Menganggu katanya, apakah lamaranku adalah hal yang mengganggu buatnya? Astaga, kenapa ini terasa sangat menyakitkan ya.

“Sorry ya Cit, kalau ternyata apa yang aku katakan tempo hari salah,” ucapku mencoba fokus pada masalah yang ingin aku pecahkan.

“Gak salah kok Ris, apa selama ini aku salah ngejar-ngejar kamu. Cemburu ke siapa pun cewek yang dekat sama kamu? Apakah aku salah selama ini melarangmu ini itu, menuntutmu untuk memprioritaskan hubungan kita? Kalau itu memang sebuah kesalahan, aku pun minta maaf ya, Ris,” ucapnya.

“Maksudnya ini apa, Cit? Aku masih bingung,” timpalku.

Arah pembicaraan kami sulit ditebak. Citra malah mengungkit apa yang selama ini terjadi dalam hubungan kita.

“Ris, tiga tahun kita menjalani semua ini. Aku tak bisa menghitung berapa kali kamu mutusin aku, hampir setiap ada masalah, kamu selalu mengucapkan kalimat itu. Dan tiba-tiba kamu mengajakku menikah? Oke harusnya aku bahagia, kamu lah orang yang aku idam-idamkan, aku perjuangkan, bahkan tak jarang aku mendapat cibiran dari cewek lain yang menganggapku sampah karena gak mau putus dari kamu,” emosi Citra meluap. Seketika menyadarkanku atas apa yang selama ini sudah ku lakukan terhadapnya. Apakah aku sudah sejahat itu padanya?

“Jadi, ini hukuman buat aku?” tanyaku.

“Ris, tak ada yang menghukum kamu. Ini masalahku, entah kenapa justru aku tidak yakin ketika orang yang selama ini aku sayangi melamarku. Aku justru sekarang yang ragu bahwa kita bisa bersama. Aku juga tidak bermaksud membalaskan dendamku hingga seminggu ini tidak menjawab panggilanmu. Aku hanya butuh memikirkan banyak hal, tiga tahun bukan waktu yang main-main kan untuk mengingat semua hal. Dan pada sebuah kesimpulan, kita akan selalu menghadapi masalah yang sama, dan kamu tak pernah akan berjuang,” jelasnya.

“Cit, aku minta maaf kalau selama ini aku sudah mengecewakanmu. Justru selama tiga tahun kita menjalani semua suka dan dukanya itu lah yang membuatku akhirnya meyakini bahwa kamu bisa menjadi pasanganku seumur hidup dengan segala kekurangan dan kelebihan kita masing-masing. Aku yakin sama kamu, yakin bisa hidup bareng sama kamu Cit,” bujukku.

“Tapi aku gak yakin kamu bisa, Ris. Ini bukan lagi waktunya aku mencintaimu berkali-kali dan patah hati berkali-kali. Ini waktunya aku menyadari bahwa kita berhak mencintai dan dicintai oleh satu orang seumur hidup. Dan maaf Ris, aku tidak melihat itu di kamu,” pungkas Citra.

Ia meninggalkanku sendirian. Tidak ada adegan dia menengok ke belakang menyesali apa yang dia ucapkan. Citra benar-benar pergi dengan penjelasan yang sangat menampar kebanggaanku sebagai cowok yang dipuja-puja banyak cewek. Lalu apa diriku sekarang?

Cit, jatuh cinta berkali-kali dan patah hati berkali-kali pasti melelahkan buatmu. Tapi ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya itu benar adanya, sungguh menyakitkan. Tapi aku menghormati keputusanmu. Terima kasih sudah sabar selama 3 tahun menjadi bagian dari penggalan kisah hati, yang bisa membuatku patah juga.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar