Cari Blog Ini

Senin, 05 Agustus 2019

Anna, I Love You!


Langkah awal melepas status lajang baru saja aku lewati. Jangan kalian tanya bagaimana perasaanku, ada rasa terharu, senang, gugup, dan bercampur perasaan yang sulit dijelaskan kecuali kalian berada di posisiku. Menikah dengan orang yang sangat aku yakini bisa bersama seumur hidup, dalam susah senang, untung malang, dan berbagai kesanggupan menghadapi masalah kehidupan telah membawa perasaan ini pada titik tertinggi kebahagiaan.

Pesta pernikahanku tak berbeda dengan kebanyakan orang. Kebetulan, Anna adalah perempuan berdarah jawa, maka konsep pernikahan kami menggunakan adat jawa lengkap dengan acara siraman. Tamu undangan yang datang juga dari berbagai kalangan, tidak terkecuali tampak anak-anak yang merengek ke Mama nya minta es cream yang masih disiapkan. tangisan bayi juga sesekali terdengar di telingaku. semua riak kecil itu tak menutupi kebahagiaanku telah menikahi Anna. aku yakin mereka yang hadir pun menyambut senang pesta kami.
keistimewaan dalam pernikahan ini adalah penampilan Mama. Beliau yang biasa mengenakan karai momo (pakaian khas Minahasa), sekarang mengenakan kebaya adat Jawa, lengkap dengan rias paes. Aku sempat tak mengenalinya, kalau saja ia tak menatapku senyum, sebuah senyuman khas yang tak akan bisa ditiru oleh perempuan mana pun. Dia lebih cantik dari biasanya. Apalagi senyum di bibirnya meneduhkan siapa pun yang menatap. Senyum itu yang aku saksikan sebelum masuk Masjid untuk melangsungkan Akad Nikah. Sempat ada perasaan sedih, ketika Mama tidak masuk ke Masjid, karena Mama dan keluarga besarku memang memiliki pilihan keyakinan yang berbeda. Aku dan Anna sudah menyiapkan tenda di halaman Masjid untuk keluargaku dari Manado. Sekaligus layar besar untuk mereka bisa menyaksikan prosesi langsung Akad kami.

Sebelum masuk ke Masjid, Mama menatapku begitu lekat. Pupil matanya mulai mengeluarkan butiran bening. Aku spontan mengusapnya. Mama, baik-baik kan? Kalimat itu hanya terucap dari hati. Mama seakaan mengerti, ia lalu memelukku cukup erat. Anna yang ada di sampingku, ikut bergabung dalam dekapan. Semua mata pasti menyaksikan kehangatan kami. Biarlah, dalam momen yang sakral ini pasti ada garis waktu yang membuat kami haru, bahagia, dengan ekspresi yang kadang justru menangis sesenggukan. Hal itu yang terjadi pada kita bertiga, tanpa direncanakan.

Selepas memelukku, Mama mengusap pipiku. Lalu ia berucap lirih, “Kamu mirip sekali dengan Papa mu,” ucapnya.

Aku menjadi paham apa yang sedang ingin Mama katakan. Ia merindukan Papa. Orang yang memiliki kisah hampir sama dengan perjalananku menikahi Anna. Hanya saja aku lebih beruntung dari Papa, karena keluargaku masih merestui pernikahan ini. Sedangkan berdasarkan cerita dari Mama, kisah perjalanan mereka jauh dari kata pesta pernikahan yang ideal. Papa yang memutuskan mengikuti agama yang diyakini oleh Mama, terpaksa diusir dari keluarganya. Bahkan di hari bahagia mereka, keluarga Papa tidak hadir untuk merestui pernikahan mereka. Sehingga pernikahan Mama dan Papa hanya digelar secara sederhana di kepulauan Sitaro, tanah kelahiranku.

“Semoga ALLAH memberkatimu, Nak” begitulah doa Mama sebelum aku melangsungkan Akad Nikah.

Usai mendapat wejangan dari Mama, aku dan Anna segera memasuki Masjid Sunda Kelapa yang sudah disulap menjadi tempat Ijab Qabul. Sesuai rencana kami berdua, banyak aksen mawar dan anggrek putih menghiasi setiap sudut ruangan. Anna yang lebih banyak berperan dalam pemilihan dekorasi ruangan, termasuk permintaan maharnya adalah laptop. Alat itulah yang paling sering menemaninya, dan bagi Anna, laptop dan dirinya adalah kesatuan yang saling melengkapi. Lalu, aku posisinya di mana? Sempat pertanyaan itu ku tanyakan padanya. Anna tidak menjawab, ia malah mencubit pinggangku.

Kembali pada proses resepsi yang sedang berlangsung, aku harus kuat berdiri untuk bersalaman dengan ribuan undangan yang hadir. Kata Anna, sesekali kalau capek, kamu bisa izin ke toilet, kebelet pipis misalnya. Jadi ada alasan buat rebahan. Lalu menurutnya, apakah aku tega meninggalkan dia sendirian menyambut tamu? Dia memang tampak cuek dengan hal-hal yang seremonial, tapi aku tidak. Aku akan menyelesaikan tugas ini, tamu adalah raja, kan?

Di antara tamu yang hadir, ada satu orang yang menyita perhatian kami. Anna dan aku saling bertatapan. Orang itu adalah Ariyo mantan kekasih Anna. Seingatku, yang ikut dalam menulis siapa saja yang perlu kita undang, tidak ada namanya dalam daftar kami. Dia seseorang yang pernah membuatku kesal karena ulangnya yang sok kaya. Hari ini dia datang juga seakan tak pernah terjadi apa-apa. Dia semakin dekat dengan posisiku dan Anna.

“Hei, selamat ya! Akhirnya kalian menikah juga,” ucapnya.

Ku lirik Anna memaksakan senyum. Aku pun demikian. Tak ada kesan positif atas kehadirannya. Ia seolah mencemooh pesta kita. Lihatlah lagak dia, menyapu pandangan seisi ruangan, seakan memastikan bahwa apa yang ia lihat bisa menjadi bahan untuk berkomentar. Anna memegang tanganku erat, mencoba menenangkanku. Aku sudah waspada akan hal yang ingin dia lakukan.
“Lumayan juga, not bad lah,” ujarnya setelah menjabat tanganku.

“Kamu gak diundang, kenapa ke sini?” aku berkata tajam ke arahnya. Dia tak menanggapi, malah menatapku sinis. Lalu ia berlalu.

Aku tak sempat memperhatikan dia lagi. Banyak tamu undangan yang sudah mengantri untuk memberikan ucapan selamat atas pernikahanku dengan Anna.

Tamu selanjutnya yang mengejutkan adalah Mas Tama, mantan atasannya Anna. Ku duga yang di sebelahnya adalah istri Mas Tama, cantik dan elegan. Aku melirik Anna, dia pasti merasa malu karena tidak mengundangnya. Padahal aku sudah ingatkan bahwa lelaki yang pernah menjadi bosnya itu wajib diundang, terlepas mau hadir atau tidak, bukan ranah kita lagi.

“Duh, terima kasih loh mas atas kehadirannya,” Anna mampu menguasai dirinya.

“Walau pun tidak diundangnya ya,” Mas Tama sukses membuat raut wajah Anna malu.

“Maaf ya mas, kami mengurus semuanya sendiri. Malah kelewat nama orang penting ini,” aku mencoba menebus rasa bersalah istriku, Anna.

“Aku tahu kok Bil. Istrimu ini masih dendam sama aku. Take it easy, dude!” Ucapnya santai.
Anna tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Ia bergegas memelukku mencari perlindungan.

“Doakan kami langgeng ya mas. Lain kesempatan, kami akan datang ke rumah kalian, belajar menjadi keluarga yang baik,” mendengar omongan itu, Mas Tama hanya menyunggingkan senyum.

Tamu undangan sudah hampir habis. Aku tak banyak mengenali siapa saja mereka yang datang. Bisa jadi, kebanyakan adalah kolega dari keluarga kami. Banyak sekali kejutan sebenarnya, karena dari tamu yang hadir banyak dari mereka yang tak terpikirkan akan berada di depan kami untuk memberikan selamat. Bahkan aku tidak menyangka bahwa Pendeta Frans yang dulu membabtis aku, menyempatkan hadir untuk mengucapkan selamat atas pernikahanku. Aku tahu dia kecewa atas pilihanku, tapi dia tokoh agama yang bijak. Pasti memahami arti jalan terang bagi semua manusia. Namun ia masih sempat membisikkan Matius 19:6.

“Pegang teguhlah itu, dengan keimanan barumu. Aku percaya, setiap agama mengajarkan kesetiaan pada pasangan,” ucapnya. Aku mengangguk. Benar sekali, setiap agama memiliki ajaran yang mulia, tergantung mana yang membuat kita iman atas hal tersebut.

Akhirnya selesai juga menyambut tamu. Aku memperhatikan Anna begitu cantik walaupun dengan raut wajah yang kelelahan. Semenjak prosesi ijab qabul hingga resepsi, baru sekarang aku bisa memperhatikannya cukup lama, lekat, dan tenang. Tanpa satu orang pun yang mengangguku. Anna, akhirnya aku menikahimu. Tidak ada kata yang mampu mewakili kebahagiaanku, selain tangan ini yang tak ingin melepaskan dari genggamanmu.

“Menikah bukanlah akhir dari kepastian aku telah memilikimu, melainkan awal dari upaya mempertahankanmu atas apa pun yang ingin menghancurkan komitmenku padamu”

Anna, terima kasih segala penerimaanmu padaku. Untuk urusan rumah, mobil, dan investasi ku serahkan semua padamu. Aku yakin, uangku yang tak seberapa bisa mewujudkan itu semua atas kecerdikanmu berhemat, bahkan bisa dibilang pelit kali ya. Kadang suka ‘gemes’ sendiri ada gitu perempuan yang cuek dengan penampilan, tidak suka dandan, tapi tetap cantik, itu ya kamu. Sedangkan urusan mengajakmu nonton konser, mengunjungi galeri seni, dan peralatan vlog yang kita bangun, aku yakin diriku yang menguasai camera tercanggih dan segela perlengkapannya.

Aku yakin, apa yang ku sebutkan itu hanya contoh kecil bagaimana nanti aku dan kamu membangun rumah tangga. Kita akan menghadapi hal yang lebih besar lagi dalam membagi peran dalam keluarga. Misalnya, nama untuk anak-anak kita nanti, menggunakan nama Islam, nama Jawa, atau nama Manado. Sekolah-sekolah mereka, apakah di sekolah Islam, sekolah umum, atau bahkan di sekolah inklusi. Dan banyak lagi kita menghadapi perbedaan pilihan. Semoga kita mampu membagi peran-peran itu supaya di antara kita berdua tidak merasa sendirian.

“Kenapa lihat aku begitu?” Anna akhirnya menyadari tatapanku.

“Jangan bilang ya, aku lebih cantik tanpa riasan,” lanjutnya.

Aku tertawa lepas dengan kalimat terakhirnya. Ternyata dia tahu apa yang aku pikirkan. Tak sempat menghindar, aku diganjar cubitan yang keras. Hampir saja lagu “Perfect” nya Ed Sheeran gagal romantic gara-gara ulahnya itu.

Anna, I love you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar