Cari Blog Ini

Minggu, 20 Januari 2019

Arti Rasa Kehilangan


Sejatinya, apa makna kehilangan? Ketika kehilangan peran Ibrahim dalam kelahiran Ismail, justru membuat kisah perjalanannya Siti Hajar dari Bukit Sofa ke Marwah, dihargai sebagai ibadah Sa’i. Jika kehilangan Abdullah dalam keadaan mengandung, Siti Aminah justru melahirkan putra yang kelak dewasa menjadi Nabi akhir jaman. Lalu, apa makna kehilangan Dimas bagiku?

*****
Aku memiliki rambut sepundak. Bentuknya yang lurus namun mengembang dan warnannya yang gelap tegas, membuat banyak teman-temanku penasaran di mana tempat perawatanku. Padahal aku jarang menggunakan jasa salon kecantikan. tetapi mereka tidak percaya, apalagi melihat wajahku yang bersih dan cerah, semakin membuat mereka memusuhiku karena dikira pelit berbagi tips kecantikan. 

Maka bolehlah aku dengan percaya diri mengatakan menjadi salah satu primadona di kota Palembang, apalagi di kampusku yang bernama UNSRI. Kalau boleh berbangga lagi, kekasihku yang bernama Dimas Anggara Wijaya adalah lelaki yang selalu tampil mempesona. Aku sudah menemaninya sejak menjadi ketua OSIS SMP, Kapten Basket SMA, dan Ketua BEM UNSRI. Sekarang dia bekerja sebagai Manajer di Perusahaan Pupuk di Palembang. Lengkapnya sudah kesempurnaan yang melekat dalam diriku.

Semua berjalan tanpa ada hal besar yang mengusik karir dan kisah asamaraku. Hingga hampir tak merasakan waktu telah berlalu hampir 10 tahun bersamanya. Siapa pun pasti mengatakan bahwa itu bukan waktu yang sebentar. Salah satu temanku bernama Mitra, pernah sesekali berkomentar “Kamu gak bosen selama 10 tahun pacarana doang?” katanya. Aku tak menanggapi komentarnya itu. Karena aku sudah punya target tersendiri kapan harus memikirkan tentang pernikahan. Setidaknya setelah adikku bernama Aldo, selesai dengan pendidikannya. Karena aku selama ini yang mencukupi segala kebutuhan adikku tersayang itu.

Hubunganku dengan Dimas harus teruji dengan jarak yang memisahkan kita. Aku sempat berfikir bahwa ini akan menjadi ujian yang berat, mengingat hampir setiap hari kita bertemu. Ternyata kami tetap bisa menjalin hubungan melalui video call atau sekadar chatting. Tak ada gejala dia bosan atau main di belakang. Aku masih mengenal semua teman-temannya yang sering diunggah fotonya dalam Instagram.

Dua tahun kami menjalani hubungan jarak jauh, kalau kata anak jaman sekarang ya LDR-an. Belakangan, aku melihat ada gejala yang aneh dari dirinya. Sering dia membahas mengenai pernikahan, soal liburan bareng, atau membicarakan rumah impian. Tampaknya dia sudah berniat untuk melangkah lebih serius denganku. Harusnya aku senang, tetapi yang ku alami justru sebaliknya. Aku merasa masih memiliki beban yang sulit untuk memikirkan tentang pernikahan. Karirku di musik baru menggeliat naik dan sering mendapat undangan manggung. Rasanya kurang tepat apabila membahas ini sekarang.

Di sela-sela aku manggung, ternyata ada pesan masuk dari Dimas. “Sayang, minggu ini kamu bisa pulang ke Palembang? Aku ingin ngomong hal penting, semoga kali ini kamu bisa mengosongkan waktumu,” tulisnya.

“Ada apa, Dim?” tanyaku butuh penjelasan sekarang.

“Ditunggu di Palembang. Kali ini aku gak mau lewat chat,” balasnya.

Baiklah, batinku. Aku tak mau egois. Bisa jadi inilah waktu yang tepat untuk membicarakan tentang masa depan kita. Walaupun dalam pikiranku, bukan waktu yang tepat. Yah, dalam banyak hal terkadang memang waktu tak pernah tepat untuk hadir. Harusnya aku dalam keadaan bahagia kan? Dimas akan melamarku, ku tebak sendiri.
“Hei, kamu cerah sekali malam ini, dapat chat apa dari doi?” Leo pengiring musikku tampak penasaran.

“It’s not your business, Boy,” balasku berlagak.
“Oke Hunny. Kapan pun kamu butuh teman curhat bisa datang ke aku,” sindirnya.
“Hey, kamu panggil aku kayak begitu lagi. Tangan ini siap nonjok kamu,” tanggapku tak terima dengan panggilannya.
“Eits.. mentang-mentang anak Karate,” balasnya.

Leo memang anak yang asik untuk bercanda dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Hanya saja kami memang tak pernah membicarakan masalah pribadi.

Hari minggu yang ditunggu sudah memaksaku bangun lebih cepat Aku mengambil penerbangan pagi menuju Palembang. Aku segera mengabari Papa bahwa anaknya pagi ini pulang. Semalam lupa memberikan kabar, beliau tidak suka dengan kejutan. Apalagi aku juga lebih nyaman kalau dijemput olehnya. Dimas aku suruh jemput papa, supaya ada temannya. Sayangnya, Papa memberikan kabar kalau dia tidak bisa menjemputku. Dia ada urusan bisnis ke daerah Banyuasin.

Sampai di Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Baharrudin II, aku berjalan ke luar sambil menghubungi Dimas. Ternyata sebelum teleponku tersambung, aku sudah melihatnya menunggu di pintu keluar. Ia tampak lebih segar dari biasanya. Penampilannya juga tak biasa, sejak kapan ia suka pakai Hoodie? Ternyata ada hal-hal kecil yang tidak aku ketahui dalam jarak yang memisahkan kita.

Dalam perjalanan, ia tak banyak bicara. Hanya saja aku merasakan hal yang ganjil dari dirinya. Tapi aku tak berani mengutarakan itu, bisa jadi hanya perasaanku saja.
“Nanti malam, aku jemput kamu ya?” ucapnya ketika aku sudah di teras rumah. Aku mengangguk.
“Kamu gak mau mampir dulu,” tanyaku.
“Papa mu lagi gak di rumah kan? Sebaiknya kamu gunakan untuk istirahat,” ucapnya.

Aku setuju. Memang rasanya lelah sekali. Apalagi tampaknya malam nanti aku harus mempersiapkan kalimat yang pas apabila dia benar-benar ingin mengajakku menikah.
Tiba-tiba aku menerawang mundur hingga sepuluh tahun lalu. Bagaimana awalnya kita kenal dan jadian, pahit dan manisnya saling memahami, karakterku yang sedikit keras kepala bisa diimbangi oleh Dimas yang pembawannya kalem. Apalagi sifatnya yang dewasa membuat kita bisa bertahan sampai 10 tahun.

Lamunanku terhenti ketika terdengar bunyi piano yang dimainkan oleh Aldo, adikku. Ternyata dia tak pernah lelah untuk belajar. Tak sia-sia kemarin dia merengek untuk dibelikan piano yang lebih bagus. Segera aku menghampirinya yang tak sadar dengan kedatanganku.

“Eh, Kak Tari. Kapan datang?” ucapnya kaget aku peluk dari belakang.
“Kamu sih terlalu serius mainnya,” sahutku.
“Kan piano baru dari Kakak. Lebih enak mencetnya,” ia tertawa.

Tak sadar aku meneteskan air mataku. Apabila selama ini aku membelanjakan uangku untuk hal-hal yang tak begitu penting, ternyata dari Aldo aku bisa melihat bagaimana jerih payahku manggung dari satu Café ke Café lainnya menjadi lebih berharga. Aku peluk dia sekali lagi dan Aldo pun ikut memelukku tanpa bertanya apa pun. Tampaknya dia belum paham kenapa aku menangis.

Malam yang dinantikan tampaknya tak terhindari. Tak ada pesanan dari Dimas aku harus memakai baju apa. Tampaknya memang ini tak terlalu spesial seperti yang aku pikirkan. Maka ku putuskan memakai baju yang membuatku nyaman. Kaos, jelana jeans, dan sepatu kets. Aku tampil casual saja.

Tibalah Dimas menjemputku. Ia tak mengomentari pakaianku. Aku tertarik untuk bertanya.

“Tumben kamu tak komentar dengan penampilanku malam ini,” tanyaku.

“Bukankah memang itu karaktermu, apa aku harus memaksamu menjadi orang lain?” balasnya.

“Aku gak pernah merasa menjadi orang lain. Menurutku wajar saja aku melakukannya untuk kamu,” balasku.

“Kamu bahagia?” tanyanya yang mendadak membuatku terhenyak. Pertanyaannya kenapa tampak berbeda ya.

“Maksud kamu apa ya?” aku sungguh tidak nyaman dengan kalimatnya.

“Kita masih punya waktu makan malam lebih dulu kan sebelum ngomongin banyak hal?” ucapnya menggantung.

“Kamu kenapa aneh ya?” pertanyaanku tak dibalasnya.

Baiklah aku pun tak ingin memperpanjang lagi masalahnya.

Sampailah kita di York Café, yang merupakan salah satu pilihan tempat makan terbaik di Kota Palembang. Café tersebut bernuansa Kota London, ada gambar Ratu Elisabeth. Pilihan menu makanannya pun bervariasi. Konsep rumah makan tersebut lebih ke ruang terbuka. Aku sudah pernah sekali ke sini dengan Dimas. Kalau tidak salah ingat, ketika aku ulang tahun yang ke 20 tahun.

Malam ini pengunjungnya sangat ramai sekali. Kami harus menunggu cukup lama untuk dapat menikmati makan malam. Tetapi penantian lama itu terbayarkan dengan makanannya yang pas di lidah. Sayangnya, aku tak melihat itu di Dimas, ia begitu gelisah sejak pertama masuk ke Café ini. Kenapa hanya aku yang terkesan biasa saja?

Sekarang giliran inti pertemuan kita malam ini. Tampaknya Dimas sudah ingin mulai pembicaraan. Suasana Café sudah mulai berkurang pengunjungnya. Sekilas ku perhatikan pelayannya pun mulai tak bertenaga untuk melayani pengunjung. Langit tampak temaran ditaburi bintang yang tak banyak.

“Kamu ingat, sudah berapa tahun kita pacaran?” Dimas bersuara.

“Kurang lebih 10 tahun kan, Dim. Lama ya?” ku kulik lebih dalam isi hatinya.

“Lama atau singkat sebenarnya tak menjadi persoalan penting, Tar. Aku hanya mulai berfikir tiga bulan terakhir, tampaknya aku sekarang mulai menemukan artinya,” Dimas tampak berat mengatakan.

Perasaanku mendadak takut. Apa yang dibicarakan Dimas seperti jauh dari harapan yang aku gantungkan di awal.

“Arti apa yang kamu maksud?” ku pertegas penyataannya.

“Aku mau tanya sama kamu. Sebenarnya kamu siap tidak menjalani hubungan ini sama aku?” Dimas menatapku sayu.

Aku menunduk. Tak berani menatapnya yang tampak jelas raut wajah lelahnya. Ya Tuhan, apakah aku sudah sangat jauh mengajaknya berpetualang? Batinku terasa sesak.

“Tar, ada waktunya kita akan mengerti kapan terus berjuang dan kapan harus bilang ‘enough’. Aku gak tahu, apa yang membuatmu terus menghindari pembicaraan tentang pernikahan. Aku sangat menerima dengan karir yang sedang kamu bangun. Aku bisa menerima itu semua. Apalagi? Soal Aldo, aku pun tahu bagaimana kamu berjuang untuk mencukupi kebutuhannya. Tapi yang tidak aku tahu, kenapa kamu gak percaya kalau aku sanggup melakukannya bersamamu?” Dimas tampak berkaca-kaca.

Sebelum aku menjawab pertanyaan Dimas. Aku mengecek ponselku yang bergetar berkali-kali tanda ada panggilan. Ternyata dari Mitra, temanku. Lalu ku lihat ada pesan masuk yang berbunyi:

PENTING!!! BACA CHATKU.

Sekarang tidak ada yang lebih penting selain Dimas. “Tidak ada yang ragu sama kamu, Dim. Aku hanya butuh waktu untuk melakukan semuanya sebelum kita membicarakan masalah pribadi kita,” balasku.

“Maaf Tar. Aku gak bisa begini terus. Aku rasa sudah jelas semuanya. Kamu sedang tidak percaya sama aku. Kenapa kamu seolah-olah Aldo bukan bagian dari aku, karirmu bukan bagian dari aku. Kita sudahi saja sampai di sini,” tegasnya.

“Dim, kamu sadar atas apa yang kamu katakan?” aku mulai tak bisa mengendalikan emosiku.

“Segampang itu kamu nyerah ketika kita sedang berjuang selama 10 tahun, aku kok gak ngelihat kamu, Dimas pacarku ya? Ini ada apa?” air mataku tak bisa terbendung lagi. Aku berusaha menahan. Aku tak boleh kelihatan cengeng di depan dia.

“Tar, justru 10 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk kita saling mengenal, saling memahami, dan seharusnya sudah ada keputusan melakukan hal lebih baik lagi. Kamu pikir, enak berada di posisi aku? Sorry, kalau ini menyakitkan buat kamu. Aku hanya sedang ingin membuatmu menyadari, gak semua hal yang kita inginkan bisa kita raih secara bersamaan. Harus ada satu atau dua yang dikorbankan, sekarang tinggal kamu mau memilih aku atau karir dan segala tanggungjawabmu. Tapi tenang, aku tidak memintamu memilih, aku lah yang sadar diri untuk mundur. Mari aku antarkan pulang!” Dimas bangkit.

Aku menggeleng. Aku sangat kecewa dengan keputusannya. Dia ternyata belum bisa memahamiku. “aku bisa pulang sendiri, lepaskan genggamanmu!” aku meletakkan beberapa lembar uang di meja dan bergegas pergi meninggalkan Dimas. Aku tak sudi masih harus ditraktir oleh orang yang tak mengerti aku.

Tanpa ku pikirkan matang, aku tidak tahu pulang menggunakan apa. Lalu teringat Mitra yang tadi berkali-kali menghubungiku. Sejenak aku membaca pesan Mitra yang tadi tertunda.

PENTING!!! BACA CHATKU

“Kamu katanya pulang? Aku samperin ke rumah, kata Aldo kamu pergi dengan Dimas. Aku tak mau kamu langsung percaya, ini perlu dijelaskan oleh Dimas. Ternyata Dimas dengan Nurul selama ini memiliki hubungan khusus di belakangmu. Apa kamu tidak menyadari ada yang berbeda dengan Dimas?”

Pesan itu sangat mengagetkanku. Ini apalagi?

Nurul kan teman baikku. Kita sudah cukup dekat untuk berbagi cerita dari hati ke hati. Tapi Mitra juga bukan orang lain buatku, tidak mungkin dia membuat kabar bohong. Aku bergegas kembali ke tempat tadi.

Dimas sedang melakukan pembayaran makan kita tadi. Aku menemuinya untuk menunjukkan bunyi pesan itu.

“Kamu ngomong panjang lebar tadi, sebenarnya ingin mengatakan ini kan?” dia kaget aku tiba-tiba datang lagi.

“Kamu masih merasa tidak bersalah?” Dimas malah menyudutkanku.

“Hei, soal aku salah atau tidak, tindakanmu ini lebih menjijikkan dari apa pun. Jika tadi aku sangat menyayangkan keputusanmu, sekarang aku ikhlas!!!” ucapku dengan nada tinggi di depan dia.

Aku langsung meninggalkan dia. Aku menghubungi Mitra untuk menjemputku. Rasanya ingin sekali menangis sepuasnya untuk semua permainan yang menyakitkan ini. Aku langsung teringat wajah Papa dan Aldo. Aku masih punya mereka, aku gak boleh lemah hanya karena ini.

Tak menunggu lama, Mitra datang dengan motornya. Mitra terus mencoba menenangkanku.

“Sekarang kamu bisa belajar bahwa waktu lah yang memanggil kesetiaan. Bukan tentang seberapa lama ia bersamamu, tapi secepat apa dia mulai menerima kelebihan dan kekuranganmu”

Aku mengangguk dengan sesenggukkan. Tak ada kata yang terucap selain bersyukur bahwa aku masih punya tempat untuk berbagi. Mitra, malam ini sejarah akan mencatat namamu sebagai sahabat terbaikku. Benar sekali, waktu dengan sendirinya akan memanggil kesetiaan orang-orang di dekatku. Kehilangan Dimas adalah kehilangan kesalahan terbesar dalam hidup.

3 komentar: