Cari Blog Ini

Minggu, 20 Januari 2019

Caraku Melepasmu


Datang dan pergi, seakan menjadi siklus kehidupan yang menggelindang tanpa henti. Waktu telah mempertemukan aku dengan dia, lantas ia menjadi peramai hari-hari, menyibukkan diri untuk saling membalas pesan yang ternotifikasi, hingga berbagi tautan foto berdua di sosial media. Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang dirasa, selain antara aku dan dia. Orang-orang boleh iri, bertanya penasaran, hingga tak sabar untuk memaknai bahwa kita berdua cocok. Hati siapa yang tidak mudah berbunga, ketika semua doa baik itu disuarakan seperti nyata? Tetapi, adakah yang bisa menjamin semua itu terhubung terus menerobos satu ruang ke ruang lain, waktu lampau, kini, dan masa depan? Aku katakan tidak.

Tanpa perlu sampai unfollow akun Instagram dan memblokir nomor Whatsapp, senyap itu bisa terjadi. Jangan menduga ada keributan kecil atau drama merajuk karena tidak jalan di akhir pekan. Kita bukan mereka yang ketemu untuk mengucap janji saling mengasihi, apalagi berlagak pemeran FTV merayu dengan sepucuk bunga mawar di taman kota dan disaksikan oleh air mancur. Ah, itu manis sekali jika terjadi.

Kita itu ibarat musim hujan yang pelan-pelan menaikkan volume aliran sungai, kemudian katak-katak bersenandung ramai membangunkan semangat petani untuk menanam padi. Tanpa dipaksa berhenti dan merasa kehilangan, katak-katak itu terbisukan oleh riuh redan aktivitas petani yang panen raya. Begitu saja, sama sepertiku dengan dia.

****

Namaku Putri, akrab dipanggil Puput. Aku sekarang sedang Praktek Kerja Lapangan (PKL) di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta. Selain itu, aku juga sedang mengerjakan skripsi. Akhir-akhir ini dosen pembimbingku sering menghubungi untuk segera menyelesaikan tugas akhirku itu. Sayang, waktunya terbatas. Tuntukan pekerjaan yang padat membuatku tidak bisa konsentrasi mengerjakan skripsi. Terkadang memang dilematis, antara menyelesaikan kewajiban Pendidikan dan pekerjaan yang sama pentingnya untukku.

Bagiku kegamangan pilihan tersebut tidak seberapa dibandingkan dengan masalah hati yang tak kunjung mencapai fase lebih serius. Aku masih cukup pengecut untuk menutupinya dalam bingkai persahabatan.

Pada tengah malam yang temaram, aku sesekali sulit untuk terpejam. Aku buka jendela kamar yang menghadap langsung dengan kebun rambutan. Aku bisa lepas memandang langit yang purnama bertaburan bintang atau sedang gelap gulita, kosong satu warna.

Aku merenungi banyak hal atas apa yang terjadi pada 29 November 2014. Penandaan yang membuatku sampai sekarang tak berani mengakui. Waktu itu Jakarta sedang diguyur hujan cukup deras. Aku ragu terhadap lelaki yang menjanjikan akan mengajak nonton Jakarta Blues Festival di Hall Basket Senayan. Namanya, Helmy. Aku penuh tanda tanya sebenarnya, namun tertutupi oleh rasa senang yang susah terkontrol. Dia lah cowok yang sempat menemani hari-hariku yang kemudian menghilang. Sekarang, apa yang dia mau?

Cowok berlesung pipit tersebut sudah seminggu ini mulai lagi menghubungiku. Skripsi yang hampir terlupakan, menjadi sajian yang bisa dihangatkan. Dia mengingatkanku untuk segera menyelesaikan skripsiku. Waktu seakan memutar semua kebiasaan yang dulu kita jalani. Ajakan nonton Blues Festival, aku anggap sebagai peningkatan status yang selama ini sempat terjalin. Apakah aku bahagia? Jujur, iya.

Reni dan Andreas berkali-kali bertanya, tumben aku pulang lebih awal dari biasanya. Bahkan ponselku sempat disahutnya hanya untuk mendapatkan informasi apa pun. Namun aku cukup cerdik untuk menyembunyikan masalah ini. Kenapa aku tak menceritakan ke rekan kerjaku itu? Sederhana saja, aku masih takut kecewa.

Sore itu ternyata Jakarta sedang diguyur hujan deras. Belum ada tanda-tanda dia sudah datang. Aku memilih duduk di depan resepsionis, mengingat teras kantor tampias air. Belum lelah menunggu, mobil hitam dengan plat yang ku kenali mendekati pintu masuk. Ketika aku mendekatinya, kaca mobil yang pelan-pelan dibuka menampilkan senyum manis yang lama ku rindukan. Desiran yang dulu ada, kembali tumbuh. Senyum yang membuat dadaku selalu berdesir. Seakan kepergiannya dulu yang tanpa alasan tak pernah terjadi. Kekecewaan yang sempat berhari-hari aku luapkan bahkan seperti butiran kerikil yang terbawa arus sungai.

“So, langsung ke Senayan apa kita makan dulu?” tanyanya sebelum melajukan mobilnya.

“Sebaiknya langsung ke tempat, aku baru saja makan. kayaknya kita bakal telat,” balasku dan dia mengangguk.

Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa menyaksikan kabut yang menyamarkan orang-orang berpayung, pedagang asongan, dan polisi yang mengatur lalu lintas. Aku juga tak sempat merasakan dinginnya anak-anak yang berbasahan ngojek payung. Akan tetapi, aku merasakan kebahagiaan yang sulit didefinisikan berada di samping lelaki yang ku kagumi. Aku bahkan jadi canggung walau hanya ngobrol ringan.

“Bagaimana pekerjaanmu, ada kendala?” ujarnya memecah keheningan.

“Ah, biasa saja. Namanya kerja pasti selalu menemui masalah” jawabku kaku.

Hanya itu obrolan yang bisa kita buka. Selanjutnya, aku memilih diam hingga sampai ke lokasi. Dia juga tidak membuka obrolan lagi, bahkan cenderung serius mengemudikan mobilnya.

****

Sangat menyenangkan. Itulah kesanku usai menonton Jakarta Blues Festival itu. Bukan karena aku menyukai pertunjukan itu. Kalian tentu tahu, kebahagiaanku terletak pada sosok Helmy yang tadi selalu menggenggam erat tanganku. Ia bahkan mencoba menghangatkanku dengan jaket yang diselimutkan ke tubuhku. Udara dingin tetap menyelinap masuk ke tubuhku. Akan tetapi, perhatian dia mampu mengalihkan rasa itu menjadi kehangatan. Tiba-tiba aku sadar telah senyum-senyum sendiri. Untungnya dia tidak melihat.

“Kita makan dulu yuk,” ajaknya. Aku menurut saja kemana pun ia membawaku. Rasanya, seperti bunga yang mulai bermekaran usai musim semi tiba. Daun-daun kembali tampak hijau menyala. Ibarat musim hujan di hari pertama yang menimbulkan efek harum tanah yang menyengat hidung. Berkali-kali aku berdoa ke Tuhan untuk tak cepat mengakhiri hari itu.

Kita pun akhirnya mencari tempat makan. Jangan bayangkan kami makan di sebuah cafe atau tempat makan cepat saji. Helmy mengajakku makan di warung pecel lele yang biasa berdiri di pinggir jalanan. Aku tak mempermasalahkan pilihannya, lagi pula selalu bersamanya sudahlah cukup melebihi apa pun.

Selesai makan, dia mengantarkanku pulang. Tak ada obrolan yang serius ketika kita makan. Entah angin apa yang mendorongku untuk mengingat kembali peristiwa masa lampau. Masa ketika aku berani mengatakan bahwa aku menaruh hati padanya. Setelah itu, dia pelan-pelan menghindariku. Bahkan selanjutnya ia seperti tak mengenalku. Kita dulu memang sahabat dekat, selalu bersama untuk hal-hal tugas kuliah atau obrolan personal.

Pertanyaan tentang hadirnya kembali dia di kehidupanku mulai ku pikirkan. Perjalanan menuju Citayam bukan waktu yang sebentar. Helmy harus mengurai kemacetan di sepanjang jalan raya Pasar Minggu, Lenteng Agung, hingga Margonda dan memasuki jalan dua arah di daerah Citayam. Aku mengumpulkan keberanian diri untuk mengungkapkan kembali perasaanku. Lebih tepatnya aku bertanya apa yang membuatnya kembali menyapaku.

“Kalau boleh tahu, apa arti semua ini?” tanyaku padanya.

Ia tidak langsung menjawab. Ia pandangi wajahku lekat dan kembali menatap ke depan. Aku sudah menunggu, tapi dia seperti mencari waktu yang pas untuk berbicara. Pelan-pelan mobilnya ia arahkan ke tepi jalan. Lalu mobil itu berhenti di kawasan menuju persimpangan antara Universitas Indonesia dan Margonda.

“Sorry ya Put, gue selama ini hanya menganggap hubungan kita tak lebih dari teman,” hatiku membeku mendengar pengakuan itu.

Apa maksudnya semua ini. Apabila kebersamaan kita ini hanya persahabatan, kenapa ia begitu perhatian padaku. Perhatian yang tak biasa. Mungkinkah karena aku jatuh cinta padanya, sehingga semua yang dilakukan ku anggap sebagai harapan untuk dicintainya. Beragam pertanyaan muncul tanpa ada jawaban.

Ternyata, selama ini aku yang salah? Semuanya sudah jelas bahwa cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Mendengar kalimat itu saja aku sudah merasakan kekeringan yang amat dasyat di hatiku. Seperti kebakaran hutan di musim kemarau. Panasnya bertumpuk dan menimbulkan kepulan asap yang menyesakkan pernafasan.

Aku tidak bisa. Ya, aku tidak bisa bertahan bersamanya memakai topeng persahabatan. Bukan itu yang aku inginkan, bersamanya sebagai sepasang kekasih adalah keinginan terbesarku. Senyuman manis itu, mata, hidung, dan bibir serta gayanya yang mampu meluluhkan hatiku ingin ku miliki tak sekedar sebagai sahabat. Apakah dia tidak menyadari itu?

Ah, sudahlah. Sejak saat itu, aku bertekad untuk melepasnya. Melepas semua harapan bersamanya. Aku tidak ingin terbelenggu hanya karena terus memikirkannya. Semua ini memang tidak gampang. Kalian pikir, perempuan mudah begitu saja membuang rasa sayangnya? Sekalipun bibirnya berucap sanggup, tetapi hatinya masih bertahan. Ketegaran yang tampak sebenarnya topeng menutupi kerapuhan jiwa.

Apabila dulu aku mempertanyakan kepergiannya. Maka detik ini, aku sudah menemukan jawabannya bahwa seseorang yang kembali mengganggu hidupku tak sedang merubah hatinya menjadi mencintaiku. Dia hanya ingin mengajariku bagaimana bisa segera melepaskan harapan masa lalu yang masih menggantung. Kini aku menyadari bahwa dia bukanlah seseorang yang dikirim Tuhan untukku. Aku harus melepasnya.

****

Lamunanku tentang kejadian seminggu lalu itu berakhir tatkala bintang-bintang semakin memenuhi angkasa. Mereka seperti menjadi saksi hatiku bahwa kini tidak ada lagi keinginan untuk memilikinya. Aku harus fokus dengan skripsi dan karierku yang mulai mendapat tempat di televisi itu.

Lusa aku sudah punya janji untuk menemui dosen pembimbingku dan melaporkan hasil bab 4 ku. Semoga semua yang ku buat dilancarkan olehnya tanpa revisi yang berarti. Tadi siang aku juga mendapat angin surga bahwa atasanku meminta untuk memperpanjang masa PKL-nya. Awalnya aku bingung soalnya masih punya prioritas kuliah. Namun setelah ku pertimbangkan dan saran dari orang tua, aku menyanggupi untuk terus bekerja di media televisi itu.

Meskipun aku gagal mendapatkan cinta dari Helmy, seharusnya aku tak boleh gagal untuk menghadapi tugas akhir dan karierku ke depan. Masih ada harapan untuk mewujudkan keduanya secara bersamaan. Ini semua ibarat obat penawar racun yang memang pahit rasanya, tetapi bisa menyembuhkan bahkan membuatku jauh lebih baik.

“Put, obrolan kita tentang proyek film kemarin jadi kita garap kan?” pesan dari Helmy.

“Oke, minggu ini kita kumpulkan tim dan segera siapkan skenarionya,” balasku tanpa beban.

Cinta memang soal rasa. Maka bukan dengan menjaga jarak dengan dia yang bisa menghilangkan perasaan itu. Bukan pula dengan tak lagi mengirim pesan, tak lagi menyapa, atau memblokir semua akun media sosial dia yang sukses membuat kita melupakannya. Selagi aku membiarkan rasa ini tetap ada di dalam hati, maka seumur hidup pun aku tak akan mampu membuang dirinya di hidupku.

“Caraku melepaskanmu bukanlah dengan membiarkanmu pergi. Melainkan dengan cara tidak lagi menganggapmu penting”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar