Cari Blog Ini

Minggu, 13 Januari 2019

Sesak Luka Lama


Pandangan kosong mengaburkan dinding kamar yang terbuat dari anyaman bambu. Di luar, terdengar samar suara obrolan anak-anak yang sedang bermain. Tidak ingin ketinggalan, terdengar Ayam Jago berkokok, dentuman suara mesin motor melintas, dan teriakan penjual bakso keliling yang kalah merdu dibandingkan dengan dentingan mangkok yang sengaja ditabuh dengan sendok makan. Segala kebisingan itu sekejap sirna ketika harum masakan menyeruak memenuhi seisi rumah.
“Sam, kamu jadi ke rumah Hadi? Makanlah dulu!” teriakan Umi dari dapur.
Disebut nama Hadi, aku semakin menahan sesak di rongga dada. Apa yang harus aku katakan padanya nanti ya? Apakah dia bisa menerimanya? Satu per satu pertanyaan berkumpul dalam pikiran menambah banyak hal yang sudah membuatku pusing. Ditambah perut kosong, maka taka da alasan lain untuk menunda makan sebelum pergi. Siapa tahu akan jauh lebih muda untuk diungkapkan nanti ketika pergi ke rumah Hadi.
Melangkah ke dapur, aku melihat Umi masih sibuk merapikan perabotan dapur usai memasak. Ia tak begitu peduli seberapa banyak peluh yang bercucuran di dahinya. Ia membiarkan bajunya basah oleh keringat. Wajahnya menampilkan rasa lelah yang tak berkesudahan. Aku pasti akan merindukan dirinya. Aku mendadak hanyut dalam rasa yang tak pernah aku pikirkan selama ini. Sehari-hari, aku melihat rumah sederhana ini sudah bosan, tak menarik, dan bahkan kadang malu mengajak teman sekolah main ke rumah. Sekarang, sambil menyendok makanan aku sambil berlinang air mata. Tidakkah ini berlebihan?
Suara motor yang menandakan Abah telah pulang segera mengikis air mata yang tak bisa ditahan.
“Samsul… Samsul….” Teriakannya berhenti ketika apa yang dicarinya sudah terlihat di depan matanya sedang makan.
“Ada apa toh Bah, sampai teriak-teriak?” Umi yang lebih dulu menanggapi teriakan Abah.
Abah tampak menahan amarah. Ia berucap istighfar berkali-kali. Lalu ia melangkah ke ruang tengah. Aku segera menyelesaikan makanku. Tak ingin Abah menunggu lama. Tentunya dengan perasaan bingung, ada apa lagi?
Usai makan, aku dan Umi saling tatap menunggu Abah berbicara.
“Kamu tidak akan pergi ke mana-mana!” ujarnya membuka omongan.
“Maksud Abah, apa?” tanyaku.
“Abah tidak mau kehilangan anak laki-laki, Abah. Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat,” tegasnya.
“Kenapa Abah jadi berubah pikiran?” aku menyela.
“Kamu tidak jujur sama Abah, kamu ke Kota tidak sekadar bekerja kan? Kamu akan dikuliahkan oleh Wahyuni kan? Ujar Abah menjelaskan.
Dari mana Abah bisa tahu kabar tersebut? Umi pun tampak kaget. Kalau sudah begini, urusannya jadi rumit.
Wahyuni adalah kakak perempuanku. Bagi Abah dan Umi, anak perempuannya sudah meninggal. Komunikasiku sama Mbak Wahyuni harus sembunyi-sembunyi apabila rindu mendengar kabarnya. Apa yang telah Mbak Wahyuni lakukan terhadap keluarga memang tidak bisa dibenarkan, tetapi aku sebagai saudara tak ingin hubungan kami putus begitu saja.
Ku lihat Umi gelisah ingin mengutarakan pendapatnya. Ada hal yang tampak ingin dia ucapkan namun ragu. Sedangkan aku dalam posisi bingung bagaimana memulai kalimat yang tidak membuat Abah semakin emosi. Ketika kondisi serba tidak tenang, Umi mendekat ke arahku. Tangannya merangkul pundakku.
“Bah, apa yang salah dengan Samsul sekolah lagi. Apa yang bisa diharapkan di desa ini, Cuma jadi penati sayur, menanam Gubis, Wortel, Brokoli, dan Sawi. Apa Abah tidak ingin kalau melihat anak laki-laki ini menjadi orang hebat?” aku terpanah mendengar ucapan Umi yang lembut menyiram segala kegundahanku. Aku merasa percaya diri untuk berpendapat. Umi ada di pihakku.
Abah menatap Umi tajam. Lelaki di depanku tak seperti orang yang ku kenal selama ini. Ia lalu melipat lengan bajunya.
“Umi sadar apa yang dikatakan tadi. Apakah Umi rela kehilangan anak untuk kedua kalinya? Umi rela membiarkan Samsul masuk neraka?” ujar Abah matanya memerah. Lalu Abah berdiri menghindari tatapan kami. Punggungnya tampak bergerak, kemudian terdengar suara sesenggukan.
“Apakah Kristanto orang yang buruk? Tidak, pertama Abah mengenalnya dia telah membantu banyak keluarga ini. Bahkan Wahyuni berkali-kali dibantu uang sekolahnya. Abah teledor, ternyata mereka tak sekadar berteman. Hingga Wahyuni pamit ke kita untuk memutuskan ikut bersama Kristanto. Jadi, kebaikan dia selama ini punya niat terselubung menyesatkan Wahyuni, membuat anak perempuan Abah menjadi murtad. Sejak itulah Abah benci mereka, Abah ini tokoh agama di kampung kita, Umi. Kenapa sekarang malah Samsul yang membuka luka lama itu?” Suara Abah tidak sekeras tadi.
Aku menatap Umi meminta pendapatnya. Aku memang pernah menyaksikan kegaduhan itu tiga tahun silam. Mbak Wahyuni menjadi omongan warga kampung, bahkan cukup lama Abah tak berani lagi menjadi Imam Masjid. Kalau saja Pak Kades tidak mencegahnya, ia sudah keluar dari kepengurusan Ta’mir Masjid. Semua ceirta itu aku tidak lupa, tapi ada hal yang ingin aku sanggah dari sudut pandang Abah. Akan tetapi aku urungkan. Aku belum pantas memberi nasehat.
“Sam, kamu tadi mau main ke rumah Hadi kan? Biar Umi sama Abah bicara empat mata dulu,” ujar Umi. Sebelum aku menyanggah saran umi, dia menepuk pundakku sambil berucap pelan “Insya Allah kamu tetap berangkat besok”.
Aku pergi tidak membawa motor Abah. Aku memilih jalan kaki saja, berhubung rumah ku dan Hadi hanya berjarak sekitar 500 meter. Namun sepanjang jalan aku masih kepikiran apa yang mereka bicarakan di belakangku. Apakah benar jaminan Umi bahwa aku akan tetap bisa ke Kota tinggal bersama Mbak Wahyuni? Atau justru pada keputusan aku akan tetap di kampung ini, yang sudah bisa ditebak karirku nanti, melanjutkan perjuangan Abah sebagai Imam Masjid.
Sampai di rumah Hadi, ku lihat dia ada di teras rumah sedang merokok. Aku menyapanya penuh semangat. Tapi…
“Masih mau main ke rumahku, toh?” ia sinis menyambut kedatanganku.
“Had, kenapa kamu ngomong begitu?” tanyaku baik-baik.
“Kamu mau jadi Anak Kota kan? Kenapa masih datang ke sini, kumpul sama petani. Apa menariknya?” ucapan Hadi semakin membuatku kesal.
“Aku tidak menyangka Had, kalau kamu sepicik itu?” ujarnya.
“Kalau kamu masih anggap aku temanmu, nih!” ia melemparkan sebungkus rokok.
“Kamu tahu kan, aku tidak merokok?” aku menolak.
“Yowes!” dia bangkit dan masuk ke dalam rumah meninggalkanku yang masih mematung di teras rumahnya.
Aku tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Kenapa semua orang tidak ada yang mendukungku untuk maju? Orang-orang terdekatku malah menganggapku sebagai musuh, orang yang harus dihindari.
Mendapati aku yang tak disambut baik, ku putuskan untuk pulang. Aku bersiap saja di rumah pun akan menuai keputusan yang tidak aku harapkan. Namun ketika sampai rumah, Abah tidak ada lagi di rumah. Umi pun tak membahas apa pun, ia sibuk memberi makan ternak bebek di belakang rumah.
Usai Salat Isya, Abah pulang ke rumah. Ia memanggilku untuk duduk di ruang tengah. Ia masih mengenakan sarung dan baju koko berwarna biru muda.
“Sam, Bapak di kampung ini adalah tokoh agama. Semua orang memberi hormat ke Abah. Mata warga kampung selalu mengawasi perilaku keluarga kita. Bagi Abah, itu semua sudah cukup dalam hidup Abah. Boleh saja, ternyata apa yang Abah pikirkan jauh berbeda dengan kamu. Abah tak pernah bertanya apa keinginanmu, malah Abah sibuk menyimpulkan sendiri apa yang harus kamu lakukan. Apa iya, kehilangan kamu hal yang harus terjadi?” ujar Abah tampak gamang.
Baiklah, sekarang mungkin waktunya aku berbicara. Setidaknya memberi keyakinan kepada Abah bahwa kekhawatirannya tidak perlu dilakukan.
“Bah, sudah banyak hal yang Abah ajarkan kepada Samsul. Bagiku Abah sudah menjalankan kewajiban sebagai orangtua, pada hari perhitungan amal kelak, insya Allah dibalas dengan ridho-Nya untuk masuk surga. Kalau ketakutan Abah adalah kehilangan fisikku, boleh jadi malam ini pun tidak sulit bagi Allah kan Bah? Hidup dan mati ada di tangan-Nya. Akan tetapi, jika Abang khawatir Mbak Wahyuni merusak hubungan baik keluarga ini, Samsul bisa berjanji ke Abah untuk tidak pernah lalai Salat. Itu kan yang selalu Abah ajarkan kepada kami. Kasus Mbak Wahyuni memang pukulan berat bagi keluarga ini. Tapi kalau Samsul boleh sarankan kepada Abah, jangan pernah menyalahkan Mas Kris atau Mbak Wahyuni, kewajiban Abah sudah dilakukan, Allah lah yang membolak-balikkan hati. Bukankah sebaiknya Abah mendoakan mereka supaya bisa mengenal Allah? Maaf Bah, selama ini Samsul diam-diam sering mengirim kabar ke mereka. Mbak Wahyuni kangen sama Abah dan Umi, loh.” Jelasku cukup lancer. Entah kenapa ada perasaan lega yang luar biasa.
Abah tidak langsung merespon ucapanku. Ia seperti memikirkan banyak hal. Aku melihat mata kerinduan yang sama antara Abah dan Umi kepada Mbak Wahyuni. Sangat sulit memahami perasaan orang tua yang telah kehilangan kesamaan akidah dengan anaknya. Aku belum menjadi seorang bapak. Umi meninggalkan kami berdua, ia beranjak ke dapur mematikan kompor yang tadi merebus air.
“Baiklah, kemasi bajumu. Palek Qomar yang mengantarmu ke terminal,” ujar Abah menepuk pundakku dengan senyuman takjim. Aku menatapnya bahagia, tanpa bisa ku cegah, rangkulan sayang ku lakukan. Hal yang selama ini belum pernah ku lakukan kepada Abah.

“Sulit menebak isi hati, jangankan hembusan udara yang terhirup setiap detiknya, hati itu sendiri masih sering bertanya”
Amir Za


4 komentar:

  1. Isi hati jangan ditebak... Tanyakan dong.. Hehe
    Toh jika diungkapkan akan muncul beberapa pertimbangan dan akhirnya tersampaikan sesuai kehendak hati juga insyallah sesuai harapan. Hehe �� Ceritanya bagus awal baca mau ku tebak setelah begini selanjutnya apa.. Eh ternyata yg mau kutebak salah.. ������

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Terima kasih. Kritik dan sarannya boleh kaka..

      Hapus