Cari Blog Ini

Minggu, 24 Februari 2019

Surga Yang Tersembunyi


KESAL. Itulah yang ku rasakan akhir-akhir ini. Dosen pembimbingku tak kunjung memberikan jawaban mengenai revisi proposal Tesis yang sudah ku kirimkan lewat email. Bahkan pesan yang ku kirim melalui Whatsapp tak dihiraukannya. Dosen pembimbing kedua, malah asyik merivisi Teknik penulisannya yang baku. Padahal yang aku butuhkan adalah ide mengenai penelitianku yang masih gamang ini.

Teman-teman ku di kampus jauh lebih beruntung. Ardan telah rampung membuat latar belakang penelitian. Winda, bersorak di Insta Story nya dengan mengunggah buku yang cocok untuk dijadikan teori penelitiannya. Kania, mengirim kabar bahwa dosen pembimbingnya sabar sekali memberikan arahan. Bagaimana denganku? Ah, aku semakin dibuat pusing dengan kabar-kabar itu.

“Dik, kamu makan dulu. Abang sudah belikan mie ayam kesukaanmu,” ucap Bang Herman, suamiku. Aku menggeleng.

Tak berusaha merayuku, dia malah sibuk dengan kopi yang diseduhnya. Lalu ia menghidupkan televisi menonton acara berita.

Huft, aku memang tak bisa mengharapkan Bang Herman melakukan apa yang suami orang lain lakukan. Dia memang bukan tipe yang pria yang romantis. Bahkan selama 2 tahun pernikahan kami, perasaanku hampa. Apa yang pasangan muda bicarakan tentang pernikahan, jauh dari apa yang aku rasakan. Ketika aku mengaduhkan masalahku ini ke teman dekatku. Dia selalu mengingatkanku, “Put, jarang loh ada suami yang mengizinkan istrinya kuliah lagi. Kamu harus tetap bersyukur dengan hal ini,” ucapnya.

Yah, aku memang harus tetap bersyukur kepada Allah SWT. Dia memang tak menuntut apa pun dari aku. Padahal kami punya masalah yang serius, aku belum hamil. Itulah perbincangan mertua yang tiga bulan terakhir semakin terngiang di telingaku. Apalagi di tengah pusingnya aku mengerjakan proposal Tesis, malah berhembus bahwa ibu mertua menyarankan Bang Herman untuk berpoligami. Aku sampai gemetar mendengar kalimat yang terucap dari perempuan itu. Apakah dia tidak bisa berempati dengan keadaanku sedikit saja?

Bang Herman memang belum menjawab tawaran itu. Tapi yang ku duga, dia pasti akan mengiyakan omongan ibunya. Selama ini, dia tidak pernah sedikit pun menolak kemauan ibunya. Kecuali, ketika menikahiku. Dia bertahan untuk mendapatkan restunya. Tapi anehnya, ketika ia berhasil mendapatkan restu, untuk beberapa keputusan yang diambilnya lebih berpihak pada ibunya. Astaghfirullah, kenapa aku jadi membicarakan aib suamiku seperti ini. Putri, jangan sekalipun kamu merasa sendirian, Allah akan menolongmu dari segala masalah yang menimpa.

“Dik, abang keluar bentar ya. Ada urusan,” ucapnya. Aku mengangguk.

Aku tak terlalu menanggapi ke mana dia pergi. Tanpa pamit, dia pun sering keluar rumah dengan urusan yang tak begitu penting. Bahkan yang aku tahu, terkadang hanya nongkrong dengan teman kajiannya.

Aku kembali berusaha meenguatkan niat untuk membaca beberapa jurnal penelitian yang sudah direkomendasikan oleh dosen yang sukarela mau membantuku, Ibu Maria. Dia perempuan yang baik, dengan pakaianku yang terbilang sering mendapat tatapan sinis dari orang-orang ketika naik KRL, yang identik dengan Islam Radikal, bu Maria yang berbeda keyakinan denganku justru seirng sekali mengajakku terlibat dalam kegiatannya yang menumbuhkan semangat perempuan untuk memperbaiki kualitas.

Ketika sedang serius membaca jurnal tentang perempuan, ada pesan masuk dari Ardan.

“Putri, bagaimana dengan proposalmu. Ada perkembangan dari dosen pembimbing?” tulisnya.

“Belum, Dan. Masih belum ketemu kerangkanya,” balasku.

“Apa yang bisa aku bantu. Aku ke rumahmu ya?” sambungnya.

“Suamiku lagi keluar,” balasku.

Ardan mengirimkan gambar jempol. Paham dengan apa yang ku maksud.

Ardan memang perhatian sama aku. Dia teman yang bisa diajak diskusi dan berbagi pengalaman. Dia cepat sekali menyesuaikan dengan latar belakang aku yang memiliki pemahanan agama yang berbeda dengan dia. Apabila teman pria lain langsung menjauh dari aku karena dianggapnya aku sok suci, berbeda dengan Ardan. Pria itu tak pernah tersinggung ketika awal aku diajak bersalaman, dan aku tak menyambutnya. Dia tak mempermasalahkan ketika aku enggan ngobrol berdua saja dengan dia, mengingat kami bukan muhrim. Malah dia berusaha mengimbangiku untuk tidak melakukan hal-hal yang tak sesuai dengan keyakinan yang aku jalani. Padahal aku tahu, Ardan tipe pria Jakarta yang menganut pergaulan semi barat. Dia sudah biasa cipika-cipiki dengan lawan jenisnya ketika berjumpa. Bahkan dia tidak canggung untuk merangkul atau berpelukan dengan lawan jenis. Hanya saja ketika ada aku, perilaku-perilaku itu coba dia  hindari.

Astaghfirullah, aku malah banyak memuji dia. Semoga ini hanya bentuk kekagumanku pada teman, bukan perasaan yang lain.

Batas akhir pengumpulan proposal Tesis tinggal dua minggu lagi. Waktu terus berjalan, tapi belum ada pergerakan yang pasti. Aku malah berfikir, apa semua ini memang ada hubungannya dengan omongan tetangga dan keluarga besar bahwa aku kuliah adalah bentuk pembangkangan sebagai istri yang salehah. Aku telah keluar dari ajaran agama? Aku bergelinang dengan pikiran-pikiran yang akhirnya membuatku pusing sendiri, dan akhirnya aku jatuh sakit.

“Bang, kau ikhlas kan aku kuliah?” itulah pertanyaanku ketika bang Herman menyiapkan obat untuk aku minum. Dia menatapku, “Kamu sudah mau selesai, kenapa baru menanyakan itu? Pasti abang ikhlaslah,” jawabnya mantap.

Aku masih belum puas dengan jawabannya. “Aku ini istri yang salehah gak bang?” ucapku.

Dia menatapku lekat. Aku tak berani memandang tatapannya. Segera ku tundukkan pandanganku.

“Sudahlah, kamu jangan terlalu mikir yang lain. Sekarang sebaiknya, lekas sembuh. Supaya Tesis mu segera bisa dikerjakan. Abang ada janji sama orang, mungkin agak lama keluarnya,” ucapnya.

Baiklah. Aku untuk kesekian kali harus sendirian di rumah. Aku tetap bersyukur karena dia sudah mau mengantarkanku ke dokter dan menjagaku untuk beberapa waktu. Walaupun sebenarnya aku ingin ditemani sepanjang hari.

Tiga hari tak melakukan pekerjaan apa pun ternyata bosan juga. Alhamdulillah kesehatanku sudah membaik. Akan tetapi, Bang Herman beberapa hari terakhir malah sering keluar, jarang di rumah selepas mengajar di SDIT. Aku kadang penasaran apa yang dilakukan, karena dia tak memberitahu alasannya. Namun ketika aku sedang merapikan rumah dan kamar kami, tak sengaja ada sebuah foto perempuan berkerudung merah jambu. Tanganku bergetar ketika hendak memungutnya.

Aku segera menghubungi bang Herman. Aku memintanya untuk pulang. Tapi dia tak menyanggupinya. Malah dia mematikan teleponku ketika belum selesai berbicara. Astaghfirullah, apakah dia akan berpoligami? Walaupun ini tidak dilarang oleh agama, entah kenapa aku tidak siap. Ini terlalu menyakitkan apabila berbagi kasih sayang dengan suami, tapi memang aku tak bisa memberinya keturunan.

Dua jam setelah aku hubungi, dia baru pulang. Aku sudah tak sabar untuk menanyakan terkait foto yang aku temukan.

“Bang ini siapa?” tanyaku tanpa basa-basi.

Bang Herman terkejut dengan foto yang aku temukan. Namun selanjutnya dia bersikap tenang.

“Abang baru saja menemuinya dik,” ucapnya.

Mendengar kalimat itu, aku semakin tak bisa menahan emosi.

“Jadi, selama ini sering keluar tanpa bilang ada urusan apa, ini yang abang lakukan?” tanyaku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Bang Herman diam. Astaghfirullah, jadi benar dia akan berpoligami. Apakah nasibku akan semalang itu?

“Bang, apakah kamu ingat perjanjian kita ketika taaruf? Ada satu syarat yang aku ajukan sebagai penentu menerima pinangan abang. Masih ingat?” tanyaku sambil menangis. Aku tak kuat lagi membendung air mata ini. Kerudungku basah.

“Abang tidak pernah lupa dik,” ucapnya.

“Lalu kenapa sekarang….” ah aku tak kuat untuk melanjutnya kalimat itu.

“Tenang! Dengarkan abang lebih dulu. Kamu sudah terlalu jauh mikirnya,” ucapnya.

“Sudah bang, malam ini aku butuh waktu sendiri,” aku meninggalkannya. Masuk ke kamar. Aku menguncinya.

Berkali-kali aku mengucap istighfar kepada Allah. Pandanganku mendadak kabur, dan takt ahu lagi apa yang terjadi setelahnya.

Paginya, ketika aku bangun, bang Herman sudah berangkat mengajar. Dia tidak membangunkanku. Tampaknya aku memang sudah tidak penting lagi baginya. Seharian aku tak melakukan aktivitas apa pun, Tesis yang semakin dekat dengan batas pengumpulan tak lagi menjadi kekhawatiranku.
Menjelang sore, bang Herman pulang. Dia membawa tumpukan berkas. Dia mengucapkan salam dengan raut wajah yang ceria.

Aku heran dengan sikapnya. Tidakkah dia memikirkan apa yang semalam kita obrolkan?

“Dik, abang ingin ngomong penting. Kemarilah!” pintanya.
Aku mendekat ke arahnya.

“Maafkan abang kalau selama ini belum bisa bercerita tentang ini. Abang masih menunggu hasilnya dan alhamdulillah Allah telah menjawab doamu,” ucapnya.
Aku bingung dengan ucapannya.

“Dik, kamu mendapatkan beasiswa S3 di Eropa, abang yang mengurus semuanya selama ini. Jurnal-jurnal yang sudah kamu publikaskan di jurnal internasional telah menarik minat mereka untuk memberimu beasiswa,” ucapnya bersemangat.

Aku terkesima. Harusnya aku bahagia, tapi kenapa aku masih saja datar.

“Kenapa kamu sepertinya tidak bahagia?” ucapannya tak menggebu lagi.

“Berarti abang bisa melepasku dengan tenang ya bersama perempuan itu,” ucapku lemah.

Astagfirullah. Kamu belum mendengarkan jawaban abang sudah memiliki kesimpulan sendiri. Kemarin malam, abang menemui perempuan itu untuk memberikan jawaban bahwa abang tidak bisa menikah dengannya. Abang memilih menemanimu ke mana pun pergi, itu sudah janji abang, dik,” ucapnya.

Demi mendengar kalimat itu, hatiku seperti disiram air es. Kegundahanku yang selama ini menggelayut di pikiran, tiba-tiba tersadar.

“Allah telah mendatangkan kamu bukan untuk membuatku sempurna, tapi membuatku jadi lebih berarti dibandingkan kesendirian. Aku berharap, pikiran itu yang ada di kamu juga”

Astagfirullah. Betapa aku selama ini telah salah sangka kepada suamiku. Diam-diam dia telah melakukan hal besar yang belum tentu suami orang lain lakukan. Dia sama sekali tidak memiliki ego untuk dirinya sendiri. Bahkan dia tidak takut kalau pendidikanku yang lebih tinggi akan membuatnya rendah.

Inilah surga tersembunyi yang selama ini tak pernah aku lihat. Suami yang tanpa banyak nasehat telah menghantarkanku menjadi perempuan yang bermartabat. Dia bukan suami orang lain yang pandai membuat kalimat romantic untuk membuai perasaanku. Akan tetapi dia suami yang dengan diamnya, telah melakukan hal besar untuk diriku.

Haruskah aku malas mengerjakan Tesis? Tidak. Semenjak mendengar kabar itu dari suamiku, aku semangat dan dimudahkan oleh Allah untuk menyelesaikan Tesisku. Cukup waktu dua bulan untuk akhirnya aku menyelesaikan Tesis dan berujung dengan nilai A. namun ketika aku akan menghadiri Yudisium, perutku mual.

“Sudahlah dik, tidak perlu dipaksakan. Abang antar saja ke dokter ya, Yudisium kan hanya seremonial,” ucapnya. Tapi aku tidak rela untuk melewati momen berharga itu, salah satu kebanggaan mahasiswa adalah memakai toga kelulusan, kan?

Hanya saja badanku memang benar-benar tak kuat untuk menghadiri acara itu. Bang Herman lalu mengantarku ke dokter. Selesai diperiksa, sang dokter tersenyum kepada kami.

“Selamat ya, kalian akan menjadi orang tua” ucapnya jelas.

Aku menatap bang Herman tak percaya. Segera aku merebut hasil tes itu dari dokter. Bang Herman lalu memelukku. Pelukan yang selama ini aku nantikan, rasa sayang yang tampak tulus dan ikhlas. Alhamdulillah ya Allah atas semua karunia-Mu. Kesalku karena tak bisa ikut Yudisium terbayar oleh hal lain yang justru selama ini menjadi jawaban doa untuk ketahanan keluarga kecil kami dari cemooh tetangga dan keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar