Cari Blog Ini

Kamis, 12 September 2019

Mata Yang Berbicara (Bagian 2)





Lima tahun silam..

Elang melihat jam digital di tangannya. Raut wajahnya gelisah. Kemacetan di depan tampaknya sulit terurai. Ia mulai menyesali sesuatu. Harusnya ia tadi tidak mengendarai mobil menuju kampus. Ia lupa kalau hari ini adalah hari sabtu. Jalanan Depok arah ke Jakarta di jam menjelang siang sangatlah padat. Sedangkan ia hanya punya waktu 10 menit untuk bertemu dosen pembimbingnya, Ibu Hamidah. Ia tak terbayang mendapat omelan karena telat. Sejauh ini bimbingan dengan Ibu Hamidah selalu tepat waktu.

Di kampus, perempuan bertubuh mungil sudah duduk menunggu sang dosen. Ia mengenakan setelan baju putih dan rok sebatas lutut dengan wedges warna silver. Ia membuka file skripsi yang siap ditunjukkan ke pembimbing. Ia baru saja merevisi hasil sidang proposal yang dinilai sempurna. Ia hanya perlu mempertajam fokus penelitian.

Tak lama setelah file terbuka, Bu Hamidah telah menyapanya. Ia hari ini tampak ceria dengan setelan hijau toska dengan kerudung khas miliknya yang memperlihatkan sebagian rambut di dahinya, tanpa mengesankan berantakan. Pipit selalu terkagum dengan sang dosen yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan bahasa yang mudah dimengertinya. Walaupun bisa dikatakan selera keilmuannya sulit dijangkaunya.

“Tiga menit lagi kita mulai ya, satu mahasiswa lagi. Semoga dia segera datang,” ucap Bu Hamidah.
Pipit mengangguk cepat. Ia membenarkan posisi rambutnya yang teurai ke depan dengan mengambil jepitan di saku tas.

Tiga menit berlalu. Elang dipastikan belum sampai. Karena ia baru akan menuju pintu masuk kampus UI. Sedangkan bu Hamidah bersiap mendengarkan hasil revisi proposal Pipit. Di tengah obrolan, Pipit melihat lelaki berjalan cepat menuju ke arahnya. Wajah lelaki itu sedikit tertutupi rambunya yang sedikit gondrong.

“Maaf bu, saya telat,” ucapnya. Pipit baru bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu. Ia mematung.
Sadar ada yang memperhatikan, Elang menengok ke sebelah kirinya. Tatapan Elang membuat Pipit salah tingkah. Ia tak berani lagi menatap. Sedangkan Elang menahan senyum melihat reaksi perempuan di sebelahnya.

Bu Hamidah sadar bahwa dua mahasiswanya belum saling kenal. Maka ia pun membuka obrolan.
“Lang. ini Pipit, mahasiswi Ibu di jurusan Ilmu Komunikasi. Kamu bisa  tanya-tanya sama dia. Penelitianmu ada sedikit hubungannya. Pipit ini cerdas loh. Kalau nanti skripsinya ini A, maka dia akan menjadi mahasiswi dengan predikat cumlaude sempurna,” ucap Bu Hamidah. Pujian tersebut membuat Pipit senang, walau ada beban dikenalkan dengan penilaian yang terlalu bagus di depan orang yang baru dikenal.

Semenjak pertemuan ini, Elang jadi sering menghubungi Pipit. mereka jadi sering ke perpustakaan bareng, bahkan Elang tak keberatan diminta mengantarkan Pipit menemui narasumber. Hal yang sama juga dilakukan Pipit, ia bersedia mengangkat telepon tengah malam untuk mendengarkan keluh kesah Elang yang mengalami kesulitan menyajikan data penelitian skripsinya. Hingga tibalah sampai pada sidang skripsi.

“Selamat ya Pit. Akhirnya terwujud juga untuk IPK 4 nya. Keren!!” Elang spontan memeluk Pipit. Membuat mahasiswi dengan tubuh mungil tersebut terkejut. Namun ia menikmati momen yang sedang terjadi. Ucapan selamat pun didapat dari teman-temannya. Pipit tak bisa menahan tangis haru. Apalagi di momen Wisuda, ia menjadi satu-satunya mahasiswi yang mendapatkan IPK 4.
Bagaimana dengan Elang?

Walaupun lelaki itu tidak semengagumkan dirinya. Prestasinya tidak buruk. Ia mendapatkan IPK 3.61, tentu sudah angka yang bagus. Lagipula Elang tak memiliki target untuk menjadi mahasiswa dengan nilai paling baik. Selama kuliah, ia lebih fokus mengikuti kegiatan kemahasiswaan dan aktif dalam komunitas yang berfokus pada kepedulian lingkungan.

Hal itulah yang membuat Pipit mengagumi Elang. Mereka menjadi dua sejoli yang membuat mahasiswa lain iri, bahkan mereka digosipkan pacaran.

“Kenap harus backstreet sih? Ngomong saja lah kalau pacaran,” kalimat itulah yang kerap disampaikan teman-temannya ke Pipit. Terkadang Pipit kesal sendiri menghadapi kenyataan bahwa Elang tak pernah sekelumit pun membahas soal asmara.

Di sisi lain, Elang merasa minder apabila berdekatan dengan Pipit. Lelaki itu merasa sulit menjangkau alam pikiran Pipit yang sering membuatnya terlihat bodoh. Elang juga ragu apakah Pipit bisa masuk ke dalam keluarganya mengingat Pipit dari keluarga sederhana.

Hal yang dipikirkan Elang memang tidak salah. Pipit mengalami hal yang sama atas apa yang dialami Elang. Bedanya, Pipit minder karena dirinya bukan dari keluarga kaya. Hingga rasa minder itu diperkuat dengan pertemuan dirinya dengan seorang perempuan di toilet Mall.

“Eh, kamu Pipit ya?” seorang perempuan berhijab merah jambu menegurnya. Melihat kebingungan dirinya, perempuan itu memperkenalkan diri. Namanya Mutia.

Menyadari bahwa mereka memiliki agenda pertemuan yang sama, Pipit dan Mutia menuju meja makan yang di tempat tersebut sudah duduk Elang dan mamanya.

“Hei, kalian kok bisa barengan,” Mama nya Elang mengomentari kedatangan mereka yang bersamaan.

“Oh iya Lang. ini Mutia, masih ingat gak? Kamu dulu ketemu masih kelas 1 SD. Sekarang cantik ya. Salehah loh.. Mama rasa kalian bisa mulai saling mengenal,” kalimat itu membuat Pipit terkejut. Ia langsung lemas menyadari bahwa pertemuan ini bukan untuk dirinya. Melainkan untuk Elang bertemu dengan calonnya.

Semenjak pertemuan itulah Elang tak lagi bertemu dengan Pipit. Bahkan nomor kontaknya sudah tidak aktif. Elang kehilangan jejak. Semua media sosial tidak ada pembaruan postingan. Elang tak mengerti apa yang terjadi. Hingga lima tahun berlalu, nama Pipit kembali hadir dalam hidupnya. Itupun Elang tidak bisa memastikan bahwa Pipit yang ditemuinya besok adalah orang yang sama dikenalnya lima tahun silam.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar