Cari Blog Ini

Selasa, 03 September 2019

Hati Yang Ku Pilih

Ruang tengah begitu ramai. Berjajar melingkar orang-orang dengan posisi duduk. Di depan mereka terhidang kue-kue, jajanan basah, dan aneka keripik, serta minuman berwarna. Terlihat dua anak berlarian menyelinap ke sela-sela makanan yang tertata rapi. Ibu mereka berteriak mencegah, tapi tak dihiraukan. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu menggelengkan kepala. Mereka tidak terlihat menyebalkan, malah menggemaskan. Betapa dunia anak-anak sulit dipahami oleh orang dewasa, tidak terkecuali aku. Rasanya rindu dengan dunia anak-anak yang tanpa beban, bahkan terkesan cuek dengan apa yang terjadi pada orang dewasa.

“Kak Putri, dipanggil Umi,” adikku Rifan memanggil. Tangannya memberi kode untuk segera.

Aku lalu berdiri membungkuk, melewati dua orang di sebelahku. Ku dekati ibu yang berada di teras rumah. Ternyata Umi tidak sendirian, ada seseorang yang berdiri tepat di sebelahnya. Aku mengenali siapa dia. Aku cukup terkejut dengan kehadiran dia di momen yang menurutku kurang pas. Tapi Umi sepertinya memahami situasiku.

“Sebaiknya, Umi biarkan kalian ngobrol sebentar,” Umi pergi meninggalkan kami. Akan tetapi aku mencegahnya.

“Putri kan gak punya banyak waktu untuk menerima tamu, sebentar lagi Febrian dan keluarga mau datang,” timpalku.

Umi kurang sepakat dengan omonganku. Dia menepuk pundakku.

“Put, sebaiknya selesaikan dulu apa yang perlu diselesaikan. Supaya ke depan, gak ada beban lagi,” ucap Umi.

Umi melenggang pergi sambil merangkul Rifan, adikku.

“Put, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” ia memulai bicaranya.
“Apanya yang harus diperbaiki?” tanyaku.

“Put, aku tahu salah besar telah mempermainkan perasaanmu selama ini. Kamu pun sudah mengakuinya kan, bahwa hubungan kita selama ini bukan sekedar teman biasa?” ujarnya dengan intonasi suara yang hati-hati sekali.

“Lalu?” tanyaku dingin.

“Aku tahu malam ini seharusnya malam yang bahagia buat kamu, karena pada akhirnya ada seseorang yang akan melamarmu. Tapi benarkah kamu sudah yakin dengannya?” tanyanya.

“Apa pentingnya buat kamu?” tanyaku menatapnya tegas.

“Karena sekarang aku sadar, bahwa aku pun selama ini tak menganggap hubungan kita teman biasa,” jawabnya.

Aku begitu kaget mendengar pengakuan tersebut. Bagaimana bisa dia mengaku disaat aku sudah menunggu seseorang melamarku?

“Kamu sadar apa yang kamu katakan?” tanyaku mencoba tetap tenang. Walau kalimatku tidak setegas tadi. Hatiku mulai goyah.

“Aku sadar sekali Put, beri aku kesempatan,” pintanya.

“Helmy, kenapa baru sekarang?” bibirku bergetar. Aku tak mampu menahan gejolak yang kembali muncul. Jelas, aku masih memendam rasa ke Helmy. Lelaki di depanku ini memang memiliki pesona yang tak mudah pudar begitu saja.

Hanya Saja yang kurasakan berbeda. Harusnya ini kabar gembira, tapi aku justru merasakan kekecewaan yang luar biasa. Aku seperti dipermainkan oleh seseorang yang aku sayangi. Hatiku seperti sengaja dilemparkan ke lautan lepas yang penuh badai besar.

“Kamu masih mencintaiku kan Put? Hati kamu sejujurnya hanya buat aku kan Put?” Helmy mendesakku untuk mengakui sesuatu.

Namun sebelum aku mengungkapkan sesuatu, sorot lampu mobil menerpa wajah kami. Tandanya rombongan keluarga Febrian tiba.

Aku bergegas memperbaiki keadaan. Aku kendalikan emosiku supaya tak terlihat sedang tak baik.
Febrian keluar lebih dulu dari mobil. Ia terlihat sangat gagah sekali dengan setelan baju batik klasik dan celana kain serta sepatu pantofel yang mengkilat. Rambutnya disisir menyamping sedikit ke belakang. Aku sampai tak mengenalinya dalam sepersekian detik.

Ekspresi Febrian tak berubah melihat keberadaan Helmy. Padahal ku lihat Helmy tampak canggung dan tak nyaman atas kedatangan Febrian. Aku yang awalnya takut suasana menjadi kacau, menjadi sedikit lega ketika keluarga Febrian begitu hangat menyapaku.

“Ini teman kamu Put?” Mama nya Febrian juga menyambut ramah Helmy. Mau tak mau Helmy menyambut tangan Mama nya Febrian yang menjabat dirinya.

Dalam situasi ini aku bingung untuk menjelaskannya. Tapi Umi menolongku, ia datang menyambut keluarga Febrian. Kami pun diminta untuk segera masuk ke ruang tamu.

Keramaian yang tadi tak terkendali di ruang tamu menjadi sangat tertib. Anak-anak yang tadi sangat bandel, akhirnya paham bahwa acara pentingnya sudah dimulai. Supaya tak terkesan buru-buru, kami berbasa-basi dengan saling mengenalkan sanak saudara. Hidangan yang sudah disediakan pun dipersilakan untuk dinikmati.

“Mama.. Papa.. Umi.. Abah..” ucapan Febrian membuat basa-basi berakhir. Semua mata memandang ke arahnya, termasuk aku.

“Sebelum niat baik saya sampaikan, ada hal yang perlu saya bicarakan lebih dulu dengan Putri. Jika diizinkan, berikan waktu buat kami ngobrol empat mata,” ujar Febrian.

Sungguh aku tak menyangka Febrian akan mengatakan hal itu. Perasaanku jadi tidak enak. Mungkinkah Febrian akan membatalkan lamarannya? Kenapa aku begitu takut kenyataan tersebut terjadi?

Febrian lebih dulu keluar rumah, Umi lalu menegurku untuk segera menyusul karena aku malah terdiam.

Aku memandang Umi untuk meminta pertolongan atas situasi yang sangat sulit ini bagiku. Umi lalu memberikan isyarat dengan menunjuk ke dada. Artinya aku harus menjalani ini sesuai kehendak hati.
Kini aku dan Febrian duduk di teras rumah berdua saja.

“Ada perlu apa Helmy datang ke sini?” dia langsung menanyakan hal tersebut.

“Dia datang menyampaikan permintaan maaf,” jawabku ragu-ragu
.
“Maaf untuk apa?” selidiknya.

“Brian, kamu sudah tahu kan tentang aku dan dia,” balasku.

“Justru karena aku sudah tahu, makanya apa yang harus dimaafkan darinya?” tanyanya lagi.

“Ya soal cintaku yang bertepuk sebelah tangan,” balasku.

“Ooh…” responnya.

“Feb, dia mengatakan kalau sekarang dia memiliki perasaan yang sama denganku,” ucapku hati-hati.

“Sekarang apa yang kamu rasakan?” tanyanya.

Astaga, bagaimana Febrian sangat tenang begitu mendengar kabar yang boleh jadi buat orang lain sebuah pukulan keras. Apa yang aku rasakan? Pertanyaan itu membuatku merenung. Kemudian ingatanku menyeret ke peristiwa setahun silam.

Setahun lalu…..

Pekerjaan hari ini tak berjalan seperti biasanya. Sering sekali aku menerima protes dari atasanku akibat tidak melakukannya dengan sempurna dan tepat waktu. Bekerja di bagian pertelevisian, tentu tak hanya bertanggungjawab dengan pekerjaanku saja, tapi bertanggungjawab terhadap pekerjaan orang lain yang terkait denganku.

“Come on, Putri. You have to focus!!!” teriak Pak Daniel.

Forgive me, Pak,” hanya itu yang bisa ku jawab.

Sampai larut malam aku harus menyelesaikan tugasku akibat banyak kesalahan. Di tengah-tengah kesibukanku, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ku lirik siapa pengirim pesan di LINE milikku. Ternyata tertera nama Helmy.

Aku pun penasaran untuk membukanya. Ada perasaan rindu ketika sudah sekian bulan aku tak mendapat kabar tentangnya.

Ternyata dia hadir lagi untuk menanyakan pekerjaan. Tanpa basa-basi sedikit pun. Masihkan aku harus menanggapinya lagi? perang batin di hatiku pun bergejolak. Bagi siapa pun yang sudah mendengar cerita hidupku, nama Helmy ibarat minuman memabukkan, yang kapan pun diminum akan memberikan efek hilangnya kesadaran berfikir.

Di sisi lain, dia meminta informasi pekerjaan pada waktu yang tepat. Di kantorku bekerja, telah dibuka lowongan dibagian broadcasting. Nah, Helmy memiliki keahlian di bidang tersebut. Pantaskah aku menghalangi rezeki orang?

Keputusanku akhirnya adalah memberikan informasi tersebut padanya. Maka sejak malam ini, kami menjadi kerab ngobrol di LINE. Dia pandai sekali membuat suasana hatiku kembali mencair dan melupakan sikap kesalku padanya.

Pada akhir pekan dia mengajakku jalan berdua. Rencananya hanya makan saja, tapi mendadak dia berniat untuk membeli kaos. Pada sebuah distro, dia memintaku untuk memilihkan kaos yang cocok untuknya. Bagiku, keputusan tersebut adalah sinyal bahwa aku spesial baginya. Aku pun memilihkan kaos yang menurutku bagus. Dan hasilnya, Helmy menyukainya. Aku bisa melihat seseorang suka beneran atau hanya pura-pura. Dan keyakinanku dia benar-benar menyukai pilihanku. Selanjutnya dia juga memilihkan baju untukku, dan pilihannya pun sesuai seleraku.

Belum selesai dia membayar belanjaannya, ponselku berbunyi. Ada pesan masuk dari Febrian.

“Putri, kamu siap-siap ya. Aku akan menjemputmu,” bunyinya.

“Aku sedang di luar, Feb,” balasku.

“Kamu lupa ya, kan rabu lalu kamu janji bisa menemaniku jalan,” bunyi pesan selanjutnya.

“Oh iya? Haduh maaf ya Feb, aku benar-benar lupa,” balasku.

“Gak biasanya kamu begini,” balasnya lagi.

Gak biasanya? Yah aku memang sedang tidak biasa. Hari ini aku begitu menikmati momen kebersamaan dengan Helmy. Sekali lagi aku mengucapkan permintaan maaf pada Febrian.

Lagi dan lagi, aku telah menyakiti pria yang berusaha dekat denganku. Dulu, Fian, Benny, dan Angga, ketiganya bergerak mundur ketika aku kerab mengabaikan ajakannya untuk jalan. Padahal mereka mengakui langsung padaku bahwa ingin mengenalku lebih dari sekedar teman.

Harusnya sekarang aku melakukannya pada Febrian?

Untuk menjawab itu, kali ini aku mantap harus memastikan sesuatu. Ketika Helmy mengajakku makan di rumah makan cepat saji, aku memberanikan diri untuk kembali mengungkapkan isi hatiku. Dulu aku sudah pernah melakukannya, dan hasilnya Helmy hanya menganggapku teman. Tapi aku kini mengulanginya lagi dengan harapan perasaan dia bisa berubah. Apalagi, sikapnya akhir-akhir ini menurutku lebih dari sekedar hubungan seorang teman.Terakhir, yang membuatku yakin bahwa hubungan ini bukan teman biasa adalah dia menyuapkan makanan dari sendok di piringnya.

“My… boleh aku bertanya sesuatu?” ujarku.

“Ngomong saja,” balasnya cepat.

“Setelah semua yang kamu lakukan tadi, bisa kamu jelaskan bagaimana hubungan kita?” ujarku.

“Hubungan apa?” Helmy sama sekali tak peka dengan arah pembicaraanku.

“Helmy, cukuplah kamu main-main dengan perasaanku,” ujarku lirih.

“Put, kamu mau mengulang masalah yang sama?” tanyanya.

“Apakah jawabannya tetap sama?” kini aku menatapnya.

“Aku sangat nyaman sekali sama kamu. Kalau ditanya apakah hubungan kita bisa lebih dari teman, aku butuh waktu,” ujarnya.

“Sampai kapan?” tanyaku.

“Kita jalani saja ya, kamu mau kan?” jawabnya.

Jawaban itu sama sekali bukan sebuah jawaban. Walaupun bukan sebuah penolakan, tapi itu sama seperti mengikatku dengan kuat untuk suatu saat tali itu digunting dan aku akan terjatuh dalam jurang yang dalam. Aku tak menjawab lagi, dan memintanya untuk mengantarkanku pulang.

Sampai di rumah, aku terus memikirkan apa yang barusan terjadi. Perasaan senang, kesal, dan momen-momen yang tak terlupakan mengaduk pikiranku. Berkali-kali aku mencoba memejamkan mata, namun tetap saja sulit. Hingga ada pesan masuk.

“Jadi, dia alasanmu sampai lupa dengan janjimu? Aku tadi lihat kamu di MacD,” tulisnya.
Astaga, bagaimana Febrian bisa di lokasi yang sama.

“Feb, aku benar-benar minta maaf,” balasku.

Dia lalu melakukan panggilan video. Aku segera menerimanya.
Dia menampilkan senyum yang selalu ia berikan padaku. Padalah sikapku padanya cenderung dingin.

“Aku ngerti kok Put. Helmy adalah segalanya buat kamu,” dia ternyata masih ingin membahas soal itu.

“Boleh aku bercerita tentang kupu-kupu?” lanjutnya.

“Kamu mau dongenin aku malam-malam gini?” sahutku. Dia tertawa renyah.

“. Belum ingin tidur kan?” tanyanya. Aku mengangguk.

 “Kupu-kupu. Kita sering melihatnya sangat mempesona, cantik sekali berwarna-warni sayapnya. Hewan itu seperti ingin menambah kecantikannya dengan hinggap di tumbuhan yang berbunga cantik pula. Tapi pernahkan kamu berfikir, kalau bisa saja hewan itu tak pernah ada. Kupu-kupu itu sebenarnya gak ada loh Put,” dia bercerita dengan ekspresi yang lucu. Aku senyum-senyum mendengar ceritanya.

“Tapi buktinya sekarang ada Feb,” balasku menimpali ceritanya.

“Kupu-kupu ada karena ada hewan bernama Ulat yang rela berpuasa. Ia mengurung diri di tempat yang sangat rapat sekali. Ia mengabaikan dedaunan yang hijau, udara segar di pagi hari, dan ia tak bisa menyaksikan bintang yang bertaburan. Tapi dia meyakini bahwa pengorbanannya tidak sia-sia. Suatu hari nanti di waktu yang tepat, dirinya akan bertransformasi menjadi hewan yang lebih banyak menikmati keindahaan yang seharusnya bisa dinikmatinya hari ini. Bahkan dia tak hanya menikmatinya sendirian, makhluk yang lain pun turut bahagia atas dirinya yang baru. Nah pertanyaan buat kita semua, mau kah kita menjadi ulat selamanya atau berani mengambil resiko kehilangan banyak momen membahagiakan untuk mendapatkan kebahagiaan yang berlipat dan menjadi kupu-kupu? Dongen sebelum tidur telah selesai, selama tidur Putri,” pungkas Febrian.

Cerita Febrian benar-benar menamparku. Aku ternyata selama ini hanya menjadi ulat dan larut pada kebahagiaan yang ku paksakan. Seandainya aku berani mengambil resiko dan berkorban lebih dari yang dilakukan ulat, maka aku tak akan hanya membahagiakan diriku saja. Padahal Umi dan Abah sering menegurku untuk segera mengenalkan calon menantu untuk mereka.

Paginya aku bangun telat akibat memikirkan kalimat Febrian. Siangnya aku memutuskan untuk menemui Febrian pas jam istirahat. Sambil menikmati makan siang, kami ngobrol banyak hal. Tak ada obrolan yang penting sebenarnya, hanya saja itulah titik awal aku membuka hatiku lebar-lebar untuk Febrian. Ada perasaan nyaman yang muncul tiba-tiba.

Semakin lama kami akrab hingga akhirnya tiga bulan kemudian kami sepakat untuk membawa hubungan kami ke arah yang serius. Maka kami pun mempersiapkan segala keperluan untuk rencana pernikahan dan sebagainya. Febrian tampak lebih semangat bekerja dari biasanya.Aku memang tak satu tim dengannya, tapi aku mendengar cerita dari teman satu tim dia.

Bukan tanpa rintangan, Febrian begitu sabar menghadapiku yang terkadang masih suka labil memikirkn Helmy. Kalau saja dia lelaki biasa, pasti kesal jika aku masih belum bisa move on dari masa laluku. Namun Febrian tak patah semangat untuk meyakinkanku bahwa bersamanya semua akan baik-baik saja.

Semenjak aku pacaran sama Febrian, tak ada tanda-tanda bahwa Helmy merasa cemburu. Ia malah ku dengar sangat agresif mendekati Silvia, yang bekerja di bagian tim kreatif. Cewek tersebut sesuai selera Helmy yang pernah diceritakan kepadaku. Semua karyawan di kantor kami mengakui bahwa Selvia adalah karyawati tercantik. Namun Helmy sepertinya perlu bekerja lebih keras untuk mendapatkan cintanya.

Pada titik itulah, aku akhirnya tak ada harapan lagi pada Helmy. Ku kubur dalam sampai tak tercium bau kenangannya. Didukung dengan pertemuan kami yang tak lagi terjadi.
Kembali ke hubunganku dengan Febrian, sembilan bulan pun akhirnya kita lalui, pada minggu ke-48, Febrian akhirnya mengatakan kepadaku akan membawa keluarganya datang ke rumah untuk melamar. Hati perempuan mana yang tak bahagia?

*****endflashback

“Putri..” Febrian membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh ke arahnya. Menantikan dia memberi kalimat yang membuatku bisa memberi jawaban yang tepat.

“Setahun, menurutku bukan waktu yang sebentar untuk kita mempersiapkan segalanya. Memilikimu seperti memiliki daya baterai yang tak pernah habis. Aku selalu semangat mengerjakan banyak hal dari biasanya. Tapi siapakah yang bisa menjamin hati seseorang akan sama setiap detik selanjutnya? Sama sekali tidak ada. Maka jika malam ini, ternyata hati itu berubah, maka bukan persiapan setahun yang hilang. Kehilangan sesungguhnya adalah apabila kita tak pernah menemukan apa yang sebenarnya kita persiapkan selama setahun itu,” ujarnya.

Aku tertegun mendengar ucapannya. Jelas beda sekali dengan apa yang aku dengar dari Helmy. Aku tahu, seseorang yang berusaha memberi kebebasan justru sedang sangat ingin mengikat kita erat-erat. Beda lagi, seseorang yang keukeh ingin memiliki kita, dia sedang ingin mempersiapkan kemenangannya sendiri. Maka malam ini aku mantap, pada siapa hati ini ku labuhkan. Pada siapa masa depanku tumbuh subur.

“Malam ini aku tidak sedang mempersiapkan jadi ulat, aku ingin jadi kupu-kupu yang cantuk, ingat?” ujarku.

“Tentu, kan aku yang cerita,” timpal Febrian mengulum senyum. Aku lalu mengajaknya ke dalam rumah mengingat kita sudah ditunggu oleh dua keluarga besar.

Ku lihat Helmy terlihat sangat pucat atas keputusanku yang langsung menerima lamaran dari Febrian dan keluarga. Biarlah dia belajar banyak hal dalam situasi ini. Karena bagi seorang perempuan, bukan seberapa besar rasa cinta yang ia terima. Tapi seberapa mampu orang tersebut menghadirkan rasa nyaman dan melindungi.

“Seorang perempuan boleh saja larut dalam perasaan sayang yang berulang-ulang pada seseorang, tapi ia tak akan mau menghabiskan waktu yang berulang-ulang untuk rasa yang berbalas dari seseorang”

Gelas, toples, dan piring yang kosong menjadi bukti bahwa semuanya telah selesai. Tamu yang hadir telah pergi membawa perasaan masing-masing. Helmy mungkin membawa kekecewaan yang mendalam terhadapku. Kalau Febrian sudah pasti membawa rasa bahagia.

Aku?

Telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah bagi dua keluarga.
Sampai ketemu di pelaminan…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar