Cari Blog Ini

Rabu, 20 November 2019

Hikmah Jalan Sendiri


Aku baru saja turun dari gerbong kereta api. Ini perjalanan pertamaku sendirian ke Tegal menggunakan kereta api. Ternyata tidak semenakutkan apa yang ku bayangkan. Bahkan pelayanan di kereta api tidak kalah dari pesawat terbang.

Di pintu keluar, pandanganku memutar ke kiri dan kanan, mencari orang yang dijanjikan Desi untuk menjemputku. Tak lama ada seorang lelaki muda menghampiriku.

“Mbak Dewi ya?” ucapnya.

Aku mengangguk. Ternyata dia Rohman, masih sepupunya Desi. Batinku, tampan juga.
Rohman orangnya sangat asik. Perjalanan yang aku akan tempuh setengah jam tampaknya tak akan terasa. Hampir sempat aku menaruh hati padanya, ternyata dia sudah punya istri. Astgahfirullah.. bagaimana bisa aku naksir suami orang.

Benar saja, Rohman bercerita banyak hal tentang lika liku mendapatkan istrinya yang merupakan anak dari Kiai kampung yang sangat dihormati di tempatnya. Istilah Rohman, menyebut istrinya adalah “Neng” panggilan untuk anak kiyai. Apabila mengingat indahnya perjuangan mencintai dan mendapatkan cinta seorang “Neng”, tentu sangat membanggakan. Ternyata ketika menikah, Rohman menemukan banyak hal yang tak seindah itu. Status sosial yang berbeda jauh, membuat Rohman dan keluarga banyak mendapat pandangan sinis dari orang lain. sempat Rohman frustasi dengan kondisi itu. Tapi bagi Rohman, ia telah memilih jalan ini, berpisah bukan pilihan yang baik walau diizinkan Tuhan.

“Gak ada yang sempurna mbak di dunia ini, gak bakal ketemu apabila terus-terusan menuruti kenyamanan, makanya orang-orang kota mudah sekali cerai,” ucap Rohman menohok.

“Lalu apa dong kalau bukan nyari kenyamanan?” kulikku tertarik membahasnya.

“Kembalikan itu pada Allah mbak, kan Dia yang mengatur semua hal, termasuk tuh, Bajing (Tupai) yang makan mangga,” ucapnya sambil menunjuk ke luar.

Seketika aku mengingat hal yang sudah ku alami beberapa hari yang lalu.

****

Ku ikat rambutku yang sejak tadi menganggu pandangan. Aku berjalan cepat mengejar keterlambatan memenuhi janji dengan seseorang. Rasanya berat sekali aku menemuinya, tapi aku harus lakukan. Bahkan kata-kata yang sudah ku siapkan tadi sebelum berangkat, kini rasanya kosong. Padahal langkah tak mungkin berjalan mundur. Dan akhirnya jarak antara aku dan dia semakin jelas terlihat. Dia menatapku dengan senyuman yang tampak dipaksakan.

Usai memesan segelas Manggo Passion Fruit, aku menghampirinya. Aku tak mampu lagi basa-basi.

“Daf.. kamu tahu tujuan perkenalan kita?” tanyaku.

“Minum dulu lah..” dia berusaha menghindari pertanyaanku.

“Daffin, kamu gak bisa begini terus. Aku capek!” keluhku.

Daffin lalu membenarkan kacamatanya. Ia menunduk lama dan menahan nafas dalam. Setelah itu dia baru berani menatapku.

“Dew… aku ingin serius sama kamu” ucapnya.

“Serius seperti apa?” tanyaku.

“Ya, aku ingin menikahimu. Aku kan pernah bilang Feburari tahun depan ingin menikah,” ucapnya.

“I see. Terus apa yang sudah kamu siapkan untuk pernikahanmu?” kulikku.

“Aku gak tahu apa yang perlu disiapkan. Memangnya pernikahan itu harus menyiapkan apa?” ucapnya tanpa berdosa.

Astaga, dalam hati aku terperangah. Detik itu juga aku meyakinkan diri bahwa dia bukan pilihan yang tepat.

“Kamu cari tahu dulu apa itu pernikahan, baru hubungi aku lagi. Eh, Sorry. Untuk beberapa hari mungkin aku akan sulit dihubungi. Assalamualaikum…” ucapku tanpa menunggu balasannya. Ku bawa minuman yang belum sempat aku minum.

Keluar dari tempat yang mendebarkan, perasaanku lega. Aku tak lagi berat melangkah. Rasanya tak ada lagi rantai yang mengikat kakiku. Aku cepat sekali sampai di MRT Senayan. Ku buka ponselku mengirimkan pesan ke seseorang.

“Jaka.. kamu sudah pulang kerja?” pesan terkirim.

“Ini lagi persiapan. Ada apa Dew?” balasnya.

Please! Aku pengen ketemu, bisa ya?” pesan terkirim.

Jaka pun mengabulkan permintaanku. Tampaknya Cuma Jaka yang mengerti kondisiku. Lama aku tak menghubunginya lagi, berbagai kesibukan di antara kami membuat waktu luang semakin susah. Atau jangan-jangan selama ini aku yang terlalu sibuk dengan petualangan mencari pasangan.

Menunggu setengah jam, Jaka akhirnya sampai. Dia yang memutuskan lokasi di daerah Menteng. Ada sebuah kedai kopi yang menurutnya nyaman untuk ngobrol. Dan benar saja, aku merasa lebih tenang dibandingkan tadi.

“Agak putihan ya kamu sekarang?” godaku.

“Wah skincare nya cocok ya say...” ucapnya dibuat semanis mungkin.

Aku spontan tertawa riang. Celetukan Jaka ini yang terkadang membuatku lupa kalau banyak beban hidup yang menggelayut dalam kepala.

“Kamu sadar gak Jak?” ku masih ingin menggodanya.

“Sadar kok. Kamu setelah tiga bulan gak hubungi aku, dan hubungi lagi pasti mau curhat kan?” tebaknya yang menohok. Aku jadi terbawa perasaan.

“Hei. Serius banget. Bercanda Dew. I see, terkadang kita butuh waktu jeda untuk kemudian kita mengerti rasanya kangen. “ ucapnya mengerlingkan mata.

“Maksud lo……” aku menjitak kepalanya.

Begitulah menu pembuka pertemuan kita kembali. Benar saja, tujuanku menemui Jaka adalah ingin menceritakan kegundahan hati tentang perjalanan asmara yang selalu kandas. Kenapa aku bilang selalu? Untuk orang yang aku ceritakan ke Jaka saja, sudah lebih dari 10 orang dan itu dalam periode 1 tahun. Buat kalian para perempuan cantik yang selalu dicap pilih-pilih, katakan pada cowok, memang untuk urusan bersama seseorang seumur hidup itu tidak bisa main-main. Kan kita akan melewati banyak hal seumur hidup bersama dia kan?

Baiklah, kembali ke meja obrolanku dengan Jaka. Aku telah menceritakan kembali siapa sosok Daffin. Jaka pun tampaknya mulai memenukan ide untukku.

“Dew. Banyak hal yang kadang kita tidak mengerti apa yang sudah Tuhan rencanakan, termasuk pertemuanmu dengan Daffin. Apalagi itu sepupumu sendiri yang mengenalkan. Harusnya dia sudah tahu dong resiko mengenalkan sosok lelaki yang religius. Artinya, berhenti minta kenalan-kenalan dari siapa pun, termasuk aku.” Ucapnya.

“Pastinya lah Jak. Bukannya jadi pacar aku, malah kamu embat.” Komentarku.

“Heh, mulut gak sekolah tuh. Ngomong asal saja,” sela Jaka sambil melemparkan gulungan tisu ke wajahku. Untung saja aku masih bisa mengelak.

I have opinion ini ya, kalau mau dengar ya syukur,” Jaka mulai serius.
“Cepat katakan!!” ucapku tak sabar.

“Kamu masih punya jatah cuti berapa hari, coba deh dibuat untuk solo trip. Terkadang, perjalanan lah yang mampu membuka semua hal, mengenal diri lebih baik, dan melihat sesuatu lebih jernih. Akan ada momen dalam perjalanan itu kamu akan menarik mundur semua hal yang sudah kamu lakukan, termasuk kenapa selama ini selalu gagal menjalin hubungan. Ya selain itu, siapa tahu di jalan ada yang ngajak kenalan kan bonus,” usul Jaka.

****

“Mbak Dewi… ayo turun sudah sampai,” ucap Rohman menyadarkan lamunanku.

Aku menatapnya dengan perasaan terima kasih. Baru saja aku melakukan perjalanan sudah dapat pelajaran penting. Belum lagi kalau aku melihat cerita teman kuliahku, Desi. Dia memutuskan tinggal di Tegal demi ikut suaminya yang berbisnis telur asin. Padahal di kampus dia sering mendapat kesempatan keluar negeri untuk konferensi. Aku yakin ada banyak hal yang belum ia ceritakan tentang pilihan tersebut. Jaka benar, melakukan solo trip akan leluasa membuat pikiran kita terbuka dengan sendirinya tanpa diminta.

Desi menggendong anaknya menyapaku. Aku dibuat tertegun, kecantikannya yang dulu seketika sirna dari pandanganku. Dia memang memutuskan tidak aktif di media sosial. Bagaimana dia bisa hidup dengan sedemikian sederhana?

Aku pun segera menyadari, kenyamanan adalah bahasa semu yang tak akan mampu dikejar. Kita bisa bilang siang hari itu cerah, tapi orang lain bisa mengatakan senja amat mempesona, dan malam begitu gemerlap. Definisinya tak pernah mutlak, melainkan penerimaan hatilah yang membuat definisi itu ada.

Kalau kata Sandra Dewi dalam wawancaranya dengan Melaney Ricardo menyebut: It’s Okey to be not perfect.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar