Corona Merubah Kita


Aku tak terbiasa sendirian. Hampir setiap hari tidak ada jadwal kosong untuk ketemu kamu. Ada saja hal yang membuat kita bisa bertemu; mengerjakan tugas kuliah, acara intra kampus, atau sekadar diskusi tentang buku baru, film baru, hingga berita popular untuk kita perbincangkan tanpa bosan. Dinda, namamu yang mudah diingat dan disebutkan. Aku ingat bau parfummu, baju kesukaanmu, bahkan hafal apa saja yang membuatmu nyaman dan kesal.

Sajak malam yang sering aku kirimkan melalui aplikasi LINE, kamu jawab dengan satu kata; Gombal. Tapi itu cukup membuatku bahagia. Karena setelahnya pasti kamu kirimkan stiker love. Aku ingat, satu kali kamu pernah mencoba melakukan hal yang sama, membuatkanku sajak, sama sekali gak memenuhi kaedah yang benar, tapi karena darimu aku suka. Bahkan aku screenshoot dan ku tampilkan di beranda LINE ku. Esoknya kamu datang pagi-pagi menggedor kamar kosku, menghukum ulahku dan meminta ditraktir nonton film Teman Tapi Nikah 2. Tak bisa ku tolak, aku senang apa pun bersamamu.

Dinda, ku hitung-hitung, ternyata kita saling kenal sudah hampir 4 semester ya?

Cukup lama bagi orang yang setiap hari ketemu, bahkan di hari minggu. Tak ikhlas kayaknya kalau ingin sehari saja aku rebahan menikmati libur. Sengaja sekali kamu tak mengirimkan pesan apa pun, melainkan langsung ngetuk pintu dan mengajak lari pagi di hari minggu. Kadang aku benaran kesal loh Din, apa kamu nyadar dengan hal itu?

“Kalau bukan kamu, siapa yang bisa aku paksa?” katamu.

“Ada Tommy tuh yang suka nyamperin kamu di selasar kampus,” jawabku terlihat sekali cemburu.

“Mukamu gak cocok cemburu gitu, ganti gih!” komentarmu yang sukses membuatku tertawa.

Dinda, menyikapi sesuatu tidak lebay adalah karaktermu. Sebagai cowok, aku bahkan yang sering berlebihan menanggapi apa pun yang terjadi sama kamu. Persis Ketika kamu ngabari sedang dirawat di RS Persahabatan, aku langsung datang tengah malam dan berakhir dengan pengusiran oleh satpam. Karena berlaku jam malam. Kamu bukannya kasian atau minta maaf, malah menertawakanku.

“Lagian siapa suruh datang, aku kan Cuma ngabari. Lagian aku gak sedang sekarat kok,” balasmu di LINE.

“Emang malaikat nyabut nyawa nunggu orang sakit?” timpalku.

“Gama…… tega kamu ya. Awas! Sembuh nanti ajak aku makan Takoyaki,” pesanmu tak ku balas. Memangnya kamu saja yang bisa ngisengin aku.

Dinda, kamu tahu kan aku pernah menyesal karena memilih jurusan Sastra. Banyak juga cibiran dari teman-temanku, tapi kamu bilang aku sudah di jalan yang benar.

“Orang kadang ngejar gengsi doang, jurusannya keren, pas dapat tugas, setresnya udah kayak telat dapat uang bulanan,” katamu.

“Nyindir diri sendiri apa gimana tuh?” selorohku.

Bukannya kamu menjawab, malah mendaratkan buku Kebijakan Publik itu ke bahuku. Gak punya perasaan, sakitnya sampai malam menjelang tidur. Untung kamu kirimkan pesan yang sukses membuat rasa sakitnya hilang.

“Besok aku temenin deh ke Gramedia nya, biar gak jomlo ngenes,” tulismu.

Dinda, kamu ngerasain gak, anak-anak di belakang kita suka ngomongin loh status hubungan kita.
“Kalian itu pacarana gak sih,” ucap mereka.

Aku sendiri belum sempat membahas ini denganmu. Aku terlalu menikmati kebersamaan kita atau terlalu mengecut untuk mengakuinya? Dua hal itu kadang tengah malam membuat pikiranku kalut. Satu sisi, kamu memperlakukanku lebih dari sekadar teman, aku pun begitu ke kamu. Sampai aku menyadari bahwa apa yang kita jalani ini tak sekadar pertemanan.

Baiklah, aku mulai memiliki keberanian untuk memastikan bahwa aku mencintaimu. Iya, cinta yang lebih dari hubungan teman, melainkan sesuatu yang memiliki masa depan untuk tinggal serumah. Aku sudah merencanakan momen untuk menyatakan perasaanku. Tempat yang ku pilih tak akan membuat obrolan kita canggung atau berbeda. Ku harap itu semua bisa membuatmu lebih nyaman membicarakannya. Jika ada kemungkinan buruk, misalnya kamu ternyata tak memiliki perasaan yang sama denganku, harapannya tempat itu menolongku untuk tidak kecewa yang berlebihan.

Aku sudah menyiapkan sajak yang membuatmu nanti berbunga-bunga. Setidaknya, lebih spesial dari yang biasa ku kirimkan ke kamu sebelum tidur. Begini bunyinya:

Dinda, kupu-kupu yang cantik itu berasal dari ulat yang kita hindari. Sedangkan kamu yang cantik, berasal dari aib yang diperbaiki.
Malam gelap terbantu taburan bintang yang bercahaya. Kamarmu yang hampir gelap diterangi notifikasi LINE yang penuh kata-kata.
BTS, Black Pink, EXO, dan SHINee, digemari jutaan orang di dunia. Dinda, nama satu-satunya yang ku sebut dalam doa.

Begitulah kira-kira yang ingin ku ucapkan langsung. Barulah kalimat sakral ku ucapkan:
Wahai Dinda, maukah kamu menjadi pasanganku? Kita rencanakan masa depan kita untuk pernikahan?

Duaaaar…..

Rencana itu buyar.  Tanganku gemetar membaca pesan darimu. Singkat, jelas, dan merubah semuanya mengenai kita.

“Gama, aku positif Covid-19. Sekarang dikarantina. Sementara hape aku nonaktifkan ya. Kalau hal buruk terjadi padaku, maaf atas semua kesalahan yang sengaja atau tidak ku lakukan” tulisnya.
Itulah pesan terakhir darimu. Ketika aku membalasnya, sudah tidak ada respon lagi. Aku kehilangan, aku benar-benar semakin sadar bahwa selama ini telah membuang waktu banyak bersamamu tanpa kejelasan tentang hubungan kita.

Berita di televisi, perbincangan di grup LINE, WA, dan sosial media lainnya tak pernah jeda membahas virus yang belum ditemukan obatnya. Indonesia sempat menyatakan diri sebagai negara yang aman Covid-19, tetapi semua berubah Ketika salah satu Menteri dinyatakan positif. Berbagai pernyataan istana membuat banyak pengamat mendesak pemerintah untuk segera membuka nama-nama orang yang positif, namun pemerintah bersikukuh tak akan membukanya.

Banyak spekulasi yang berkembang di masyarakat maya. Aku jadi khawatir dengan keadaan sekitar, apalagi selembar surat dari kampus mengabarkan bahwa kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online selama 14 hari ke depan.

Dinda, aku gagap menghadapi virus ini, karena biasanya apa pun ku bahas denganmu. Aku benar-benar seperti kehilangan satu kaki untuk melangkah, kehilangan satu tangan untuk menggenggam, dan tersumbat satu lubang hidung untuk bernafas. Sama sekali tidak nyaman menjalani hari-hari.

Aku tidak bisa pulang ke rumah, karena sudah dapat imbauan dari pemerintah bagi mahasiswa untuk tidak Kembali ke kampung, karena beresiko penularan. Aku juga memutuskan untuk mengindari keluar kamar kos, kecuali beli makan. Kegiatan nongkrong di teras rumah bareng penghuni kos lainnya, tak lagi ku lakukan. Lagipula beberapa liga bola dari tim favoritku sudah diputuskan untuk dibatalkan digelar.

Dinda, seminggu berlalu. Aku belum juga mendengar kabarmu apakah sudah bisa pulang atau masih dalam tahap karantina? Tak ada yang bisa ku hubungi, karena semua anggota keluargamu dinyatakan positif juga. Perasaan kesepian yang melandaku bercampur dengan rasa cemas akan suatu hal buruk, yaitu kita gak akan pernah ketemu lagi.

Astaghfirullah. Apa yang aku pikirkan? Bukankah sebaiknya aku berdoa untuk kesembuhannya dan kita bisa menjalani hari-hari seperti semula? Rasa cemasku sudah berlebihan ternyata. Aku jadi susah tidur juga di malam hari. Langit-langit kamar seperti menampakkan pola bayangan bahwa dunia akan berakhir segera.

Dinda, aku kangen. Batinku benar-benar dalam kerinduan yang besar. Sebesar kecemasan seluruh dunia karena Corona telah merubah kita. Kini, aku harus terbiasa melewati hari-hari sendiri, sampai virus itu pergi dari pertiwi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anna, I Love You!

Mencintaimu Candu

Kamulah Yang Ku Tunggu