Pandemi Selimuti Janji Suci


Aku belum pernah mendapat tatapan semacam itu
dari bapak, sungguh kosong. Wajah ibuku juga sembab, aku tak tahu berapa kubik air mata yang keluar. Aku tak berani menanyakan apa yang terjadi, cukup WA grup yang menjelaskan semuanya. Aku akan menikah, tapi mereka tak terlihat bahagia. Sungguh, aku bukan anak durhaka. Keadaan memaksa kami menahan diri untuk pesta. Wabah virus Corona telah menyelimuti dunia, hingga ke negaraku Indonesia.

Perdebatan di obrolan WA grup terjadi ketika salah satu orang mengirim foto undangan pernikahanku. Aku mengamati apa yang terjadi, intinya mereka mempertanyakan apakah pesta pernikahanku akan tetap berlangsung di tengah peraturan pemerintah yang melarang terjadinya kerumunan. Obrolan itu menjadi bancakan di kampungku. Mereka tampaknya lupa kalau aku juga masuk grup Karang Taruna itu.
Tak lama setelah keramaian di grup itu, ponselku berdering. Ibuku melakukan panggilan.

“Iya bu..”

“Gimana nak.. kabarmu?” ucapnya dengan suara serak. Eh, apakah beliau abis menangis?

Aku tak lantas menjawab, memikirkan ke mana arah pembicaraan kami. Walau pun aku bisa menebak.

“Alhamdulillah bu, Lala sehat di sini. Gimana dengan....”

“Kapan kamu pulang?” sela ibu sebelum aku melanjutkan menanyakan kabarnya.

Pulang kapan?

Iya, pernikahanku tinggal 3 hari lagi. Sedangkan aku baru mendapatkan cuti dari kantor H-1 dari tanggal pernikahanku. Semua prosesi acara sudah ku serahkan ke WO. Selebihnya, tentu diurus oleh orangtua ku. Nah, pertanyaan ibu tadi sebenarnya tak serius menanyakan kabarku. Selanjutnya dia mengeluhkan kondisi di kampung yang sedang ramai omongan warga bahwa tamu pengantin dari keluargaku akan kedatangan dari Kota Malang, yang menjadi zona merah wabah Corona.

“Bu, tenang ya. Saya coba hubungi sepupuku untuk membantu kita. Jangan sampai ibu sakit. Lala mohon sekali, jangan stres ya,” pintaku.

Kabar bahwa siapa pun yang nekat menggelar pesta pernikahan akan dipenjara 1 tahun membuat kegaduhan luar biasa di desaku. Ibu kabarnya tak lagi selera makan, bapak sempat bertengkar dengan seorang warga yang mengisukan acara pernikahanku batal. Padahal aparat desa sedang sangat mengupayakan jalan terbaik untuk semuanya.

“Begini Pakde, tenangkan pikiran jenengan dulu” ucap Pak Kades di depan bapakku.

Aku yang sudah pulang, menemani ibu di tempat yang berjarak dari ruang tamu. Ia menatapku sayu, ada sebuah kehawatiran yang terpancar. Aku berusaha menenangkan, walau hatiku pun risau. Ini pesta pertama dalam keluarga kami. Tentu sangat dinantikan. Apalagi ada tradisi yang lazim dilakukan yaitu, arisan beras.

Ya, bagi petani. Momentum pesta pernikahan adalah waktu yang pas untuk memperoleh slot arisan beras dari warga masyarakat yang tergabung. Hal itu sangat membantu untuk meringankan biaya pesta pernikahan yang tidak murah. Apalagi aku sudah meminta bapak untuk membuat pesta yang terbilang mewah; tenda terbaik, pelaminan terbaik, dan hiburan musik elekton. Kini aku menyesalinya, karna kemungkinan akan dibatalkan semua.

“kami siap melakukan apa prosedurnya Pak Kades, asal pesta ini masih berlangsung. Mohon kebijaksanaan,” ucap Bapak.

“Saya sudah mendatangi Pak Camat dan Kapolsek, syaratnya diminta untuk menyiapkan cuci tangan dan penyemprotan disinfektan, Pakde,” ucap Pak Kades pada bapakku.

“Kami siapkan. Tapi tolong dibantu beli di mana dan siapa yang berwenang melakukannya, kami tak paham,” ucap Bapak.

Lalu Pak Kades menjelaskan bahwa untuk cuci tangan bisa beli di toko swalayan. Kalau disinfektan akan dicarikan info tim satgas yang memiliki alatnya. Ku lihat wajah ibuku berubah lebih tenang, kecemasannya berangsur hilang. Di tempat Bapak yang masih ngobrol dengan Pak Kades, aku pun melihat mata bapak berkaca-kaca, haru. Obrolan keduanya diakhiri dengan menyerucup kopi buatan ibu. Pak Kades lalu pamit pulang.
Aku menghubungi Yoga, calon suamiku. Lebih tepatnya ku kirimkan pesan melalui WA.

“Acara kita tetap akan terlaksana sesuai rencana” tulisku.

“Baik dik. Kabari terus perkembangannya ya” balasnya.

Ku balas OK.

****
Persiapan semakin matang. Dapur rumahku sudah penuh dengan olahan makanaan buat suguhan di meja. Selain itu, bumbu untuk kuah soto dan rawon pun sudah siap. Tapi ada yang janggal, ibuku dari tadi tak terlihat dari pandanganku.

Budhe, di mana ibu?” ku tanya ke salah satu tetangga yang membantu.

Dia tak menjawab dengan omongan, memberi kode tangan menunjuk ke kamar. Aku langsung paham maksudnya. Segera ku hampiri ke kamar. Dan ketika ku buka horden kamar, ku lihat ibu mengusap matanya. Aku tahu, dia menangis.

“Ada apalagi bu?” ku dekati sambil merangkulkan tangan ke pundaknya. Dia menggeleng. Aku mempererat rangkulanku.

“Jangan terlalu banyak dipikirkan ya,” ucapku coba menenangkannya.

“Jangan kecewa ya, Nduk. Kayaknya banyak tamu yang akan datang sebelum hari H. Mereka mengkhawatirkan berbarengan dengan tamu manten dari Malang,” Ucap Ibu. Aku mengangguk paham.

Tak lama, Yoga mengirimkan pesan bahwa keluarganya sudah membatalkan acara ngunduh mantu yang rencana dilaksanakan seminggu setelah akad pernikahan kami berlangsung.  Aku tak masalah asal keluarga Malang tidak beban berat dengan keputusan itu. Yoga menjamin bahwa keluarganya tak terlalu masalah. Nanti pun pas akad nikah sudah dipastikan rombongan manten tak lebih dari 4 mobil saja, 1 mobil untuk keluarga inti manten, 2 mobil saudara, dan 1 mobil untuk mengangkut parsel.

Informasi itu ku kabarkan ke bapak ibu. Mereka tak berkomentar banyak, hanya mengangguk paham.
Aku interaktif saling mengabari kondisi persiapan pesta ke Yoga. Bahkan terkait pesan yang dikirimkan oleh penyewa pelaminan dan riasan pengantin, serta juru kamera dan hiburan musik elekton.

“Mbak, gimana pestanya masih lanjut apa enggak? Kami sudah siapkan segala keperluan. Jadi mohon maaf, ada biaya yang musti dibayar apabila dibatalkan pun. Beda dengan calon pengantin lain yang harinya masih lama,” tulisnya melalui WA.
“Masih Kak. Ditunggu,” jawabku singkat.

Selepas itu, aku teringat akan sepupuku yang kemarin melalui WA sudah berjanji membantu menyarikan relawan gugus tanggap covid-19 untuk menyemprotkan disinfektan ke setiap tamu yang datang. Ia juga siap menyarikan hand sanitizer di meja tamu dan cuci tangan di pintu masuk tenda yang sudah berdiri tegak di rumahku. Berhubung rumah kami bersebelahan, cukup didatangi dengan jalan kaki.

“Imah, gimana sudah OK kan?” tanyaku padanya yang duduk di teras rumah.

“Tenang saja La! Malam ini mereka datang kok untuk menyemprotkan tenda dan sekitar,” ucapnya yang membuatku lega.

****

Yoga dan keluarganya sampai di rumah. Pernikahan segera akan dilaksaanakan. Sesuai protokol pencegahan covid-19. Mereka disemprot disinfektan satu per satu, termasuk Yoga calon suamiku.
Keluargaku menyambut mereka dengan perasaan gembira. Tak lama kemudian, petugas KUA datang untuk siap menikahkan aku dan Yoga.

“Jaga jarak dan tidak berjabat tangan ya,” ujarnya menjelaskan ketentuan yang berlaku.

Akad nikah yang biasanya aku lihat pada pengantin lain yang mantap berjabat tangan, kali ini ku lihat Yoga hanya menyahut tegas lafadz yang diucapkan oleh bapakku.

“Saya terima nikah dan kawinnya adinda Lala binti Mu’i dengan mas kawin tersebut tunai”

“Bagaimana saksi?”

Saaaaaah.... serempak keluarga yang hadir menyaksikan pernikahan kami pun mengamini. Tak bisa ku tahan air mata yang mengalir deras. Perias pengantin merasa perlu memberikan tisu supaya riasanku tak berantakan.

Berbusana muslimah dengan balutan kain putih yang menjuntai ke belakang, aku berjalan pelan mengikuti arahan WO untuk melaksanakan prosesi resepsi. Sama seperti pernikahan adat Jawa lainnya, ada momen Yoga menginjak telur dan ku basuh kakinya dengan air yang dicambur kembang. Aku tak memperhatikan berapa pasang mata yang mengabadikan prosesi ini. Ku hanya fokus pada lelaki di depanku yang kini resmi menjadi imamku.

Suara tembang Jawa dari MC dalam mengantarkan kami ke pelaminan begitu hikmat. Apalagi ketika aku dan Yoga diminta untuk sungkem ke orangtua masing-masing. Tangisku kembali pecah tak tertahankan. Kali ini ku lihat bapak juga matanya merah dengan wajah sembab. Pada lain kesempatan, ku tanyakan hal itu. Jawabnya “Kamu ku besarkan, tapi hari ini resmi dibawa anak orang, nanti kau akan tahu sendiri rasanya kehilangan semacam itu, nak.”

Iya, aku tahu kasih sayang orangtua begitu besar. Aku tahu, pesta ini sangat menguras tenaga dan pikirannya. Aku hanya bisa berterima kasih yang besar untuk mereka.

Usai dengan prosesi resepsi yang ditutup doa. Tibalah waktunya sesi foto. Sekali lagi ku pertegas, tak ada salaman antara pengantin dan tamu undangan. Giliran untuk foto pun dibatasi. Aku sudah sangat gemas ingin memeluk orang-orang terdekatku sebagai rasa gembira. Tapi harus ku tahan, ini musim Corona. Namun, di tengah sesi foto, kami dikejutkan dengan keramaian di depan pintu masuk tenda. Petugas yang mengecek suhu tubuh tamu undangan, mendapati temannya Yoga yang datang dari Malang terdeteksi suhu tubuhnya 38 derajat. Ku pandangi wajah Yoga yang terlihat panik. Dia seakan meminta izinku untuk turun pelaminan, namun ku tahan. “Sudah biar diurus sama orang-orang” ucapku.

Ketika dicek ulang usai diminta menghindari lokasi pernikahan sejenak. Ternyata temannya Yoga sudah kembali normal suhu tubuhnya, kata petugas itu faktor perjalanan jauh mengendarai motot. Dia pun akhirnya bisa mendatangi kami dan berfoto.
Jantung kami selalu dipacu dengan kejutan yang tak berkesudahan. Usai sesi foto selesai, aparat desa memperingatkan kami untuk tidak mengeraskan suara sound sistem. Jadilah resepsi yang singkat dan penuh protokol Covid-19 ini harus sepi dari musik. Apalagi kursi tamu juga sudah dibuat berjarak 1 meter.

“La, apakah kamu bahagia?” Yoga bertanya padaku ketika semua acara telah sukses kita laksanakan.

“Tentu.. kini aku bersamamu” jawabku mantap.
“Semoga semuanya baik-baik ya,” ucapnya kemudian.
Aku mengamini ucapannya. Dalam hatiku masih ada kekhawatiran mengenai situasi kampung dan dampak dari pernikahan kami. Mengingat virus Corona ini tak langsung bisa terdeteksi dengan cepat. Tak ada satupun yang dinyataka  positif Covid-19 adalah harapan kami pada semuanya. Toh, ikhitiar yang kami lakukan sudah maksimal. Disinfektan pengantin semoga mampu menghindarkan kami dari kabar buruk apa pun.

Ini akan menjadi sejarah penting dalam hidup kami berdua bahwa ada pernikahan yang amat berbeda dari umumnya. Bapak dan ibuku pun pasti merasakan itu, ketika tak banyak tamu yang hadir, bahkan saudara kami yang di luar kota. Harusnya momen seperti inilah yang ditunggu-tunggu untuk menyambung silaturahim antar keluarga.
Sudahlah, aku tetap mensyukuri semua nikmat yang Allah beri. Terkadang, restu terbaik bukanlah dilihat dari banyaknya yang hadir, tapi doa tulus yang diijabah Allah dalam mengiringi kehidupan perrnikahan yang sakinah, mawadah, warahmah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anna, I Love You!

Mencintaimu Candu

Kamulah Yang Ku Tunggu