Misi Rahasia Din Part 5

Masuk UKM Teater menjadi pilihanku. Dunia yang sudah aku impikan sejak SMA, hanya saja di sekolahku tak ada kegiatan ekstra tersebut. Kalau mengikuti kegiatan di luar sekolah seperti kelompok seni di Taman Ismail Marzuki, tentu biasanya lebih mahal. Makanya dulu aku biasa membuat drama sendiri di kamar. Eh tidak juga, kegiatan 17 Agustus, aku turut berpartisipasi membuat opera bersama teman-teman Karang Taruna. Lita, panggil saja aku Lit. Kalian yang sudah baca cerita sebelumnya, pasti tahu bahwa aku temannya Lisa. Kami memang tak terpisahkan. Hampir semua perkuliahan kami sekelas. Hanya saja ketika kami memutuskan masuk UKM yang berbeda, mulailah susah menyempatkan waktu untuk jalan berdua. “Ini kita belum pada punya cowok loh Lit.” Begitulah Lisa menyindirku dengan waktu yang mulai menyita kebersamaan kita. “Tenang kok, aku gak bakal lupa sama teman sebaik kamu.” Ucapku memberikan dia jaminan. “Janji ya?” ucapnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya. “Ih, kayak bocah pakai begitu segala.” Elakku. Lisa tertawa lepas. Segera ku kasih kode tutup mulut. Kita lagi sedang di kantin. Kehilangan banyak waktu dengan Lisa mempengaruhi semangatku kuliah. UKM Teater pun sedang banyak agenda pentas. Aku bahkan sering ketinggalan informasi terkait tugas kelompok atau materi kuliah. Sedangkan di UKM banyak tuntutan untuk bisa lebih inovatif. Kita mau berkembang atau ditendang. Begitulah gambaran persaingan di UKM yang ku ikuti. Tak bisa disepelekan. Aku hampir saja tak lolos seleksi menjadi anggota baru. Rata-rata mereka yang bergabung adalah alumni anak terater di SMA mereka. Sehingga tak asing dengan istilah yang dipakai dalam suatu pementasan. Berbeda dengan aku yang belajar otodidak, sering dipandang sebelah mata sama senior. “Kamu itu beruntung bisa gabung di sini. Kita ini UKM paling bergengsi loh.” Ucap salah satu senior bernama Kak Nando. Anaknya ganteng, aku pertama lihat sempat naksir. Namun semakin kenal dia di UKM, aku berhenti menyukainya. Karena dia ngomongnya pedas. Memang harus diakui, UKM Teater yang ku ikuti terbilang UKM yang sudah punya nama di Jakarta. Sering dapat kesempatan main di Salihara. Secara pribadi aku pun senang, dampaknya di mata anak kampus, aku dikenal. Tapi kembali lagi, harganya sangat mahal untuk mencapai itu. Sampai sekarang, mau ganti semester, tak juga aku diberi kesempatan memainkan satu karakter pun. Hanya jadi kameo. “Sabar Lit. Pasti suatu saat nanti kamu jadi bintang.” Komentar Lisa ketika aku malam-malam curhat lewat aplikasi chat padanya. Semangat dari Lisa membuat bebanku tentang UKM sedikit teratasi. Namun tampaknya aku perlu bertemu orang yang lebih bisa memberikan solusi konkret. Bisa saja aku mendatangi psikolog untuk membantu mengurai masalah. Namun kan butuh biaya, sedangkan uang bulanan saja kadang telat dapatnya. “Maaf ya Nak. Kami belum bisa ngirim hari ini? Masih sisa kan uangnya?” begitulah pesan dari Mama. Tidak mengagetkan lagi kalau orangtuaku telat mengirimkan uang bulanan. Tapi untungnya kemarin dapat uang saku abis pentas di Salihara. Kebetulan event yang digelar mendatangkan banyak sponsor. Sehingga pemainnya dikasih bonus. Ya kalau yang aku terima gak seberapa, kan bukan tokoh penting. “Heh. Kamu mau dapat peran penting?” Kak Nando mengagetkanku ketika ku duduk termenung di depan tempat latihan di event selanjutnya. “Iyalah mau Kak. Bosan ih, main tanpa dialog terus.” Jawabku. “Ada syaratnya tapi..” bisiknya di telingaku. Segera ku jauhkan wajahnya. “Apa syaratnya?” tanyaku penasaran. “Abis latihan ini datang ke kosanku.” Jawabnya. “Maksudnya?” Aku bingung dengan persyaratannya. “Datang saja. Nanti bakal tahu kok.” Ucapnya lalu beranjak pergi karena dipanggil anak-anak yang sedang latihan. Aku hanya melongo. Ku rasa ada yang tidak beres dengan dia. Selama ini kan Kak Nando tak pernah bersikap baik denganku. Lalu sekarang tiba-tiba mau memberiku kesempatan mendapatkan peran penting dalam pentas. Aku tak mau ambil pusing dengan tawaran itu. Setengah jam lagi aku ada kuliah ketiga. Sebaiknya aku mempersiapkan diri masuk kelas. Mengingat dosen di mata kuliah ketiga tidak boleh telat lebih dari lima menit. Usai kuliah berakhir, aku teringat dengan pesan Kak Nando yang menyuruhku ke kosan. Tak ada pikiran negatif apapun. Aku pun menuju alamat yang dikirimkan melalui pesan chat. Tak sulit untuk menemukan tempat yang dimaksud. Bangunan itu berlantai dua dengan tembok bercat kuning. Nomor kosan Kak Nando berada di lantai dua. Ketika aku hendak menaiki tangga, aku mendengar suara Kak Nando dengan orang lain. “Ndo, kapan tuh cewek ke sini? Aku sudah gak tahan nih ngerasain milik perawan.” Ucapan itu ku dengar cukup jelas. Aku lantas menghentikan langkah. “Sabar bro, dia katanya sudah dekat kok. Dijamin ini anaknya masih polos.” Jawaban Kak Nando lebih mengejutkanku. Astaga, jadi aku disuruh ke kosan dia untuk sesuatu yang menjijikkan. Seketika badanku rasanya lemas. Tanganku gemetaran memegangi pagar tangga. Betapa bodohnya aku mau menuruti permintaan Kak Nando. Sejak awal harusnya aku sudah curiga, dia tak pernah ada niat baik terhadapku. Aku langsung berbalik arah, menghubungi Lisa namun tak ada jawaban. Aku benar-benar butuh teman untuk bercerita. Ini pengalaman buruk sepanjang aku hidup. Tak menyangka akan ada orang yang melecehkanku begitu. Din... aku teringat nama itu. Tampaknya aku bisa menghubunginya. Tapi aku tak punya kontaknya. Kepada siapa aku bisa mendapatkan kontaknya? Sulit sekali aku berfikir, mungkin sebaiknya aku pulang saja. Sampai di rumah, aku masih terngiang obrolan antara Kak Nando dan temannya. Aku berusaha melupakannya, namun kejadian itu baru saja ku alami. Tentu tidak mudah untuk begitu saja dianggap berlalu. Dua hari aku tak masuk kuliah. Ada perasaan takut ketemu orang-orang, terutama Kak Nando yang pasti berada di basecamp. Lisa pun tak ada kabar? Apakah dia sudah lupa punya teman sepertiku? Beragam kecemasan menghantuiku, hingga aku mengingat sesuatu. Ekaaaa... ucapku dalam hati. Aku menghubunginya untuk meminta kontaknya Din. Tak banyak bertanya, dia langsung memberi. Mungkin Eka sudah paham tujuanku. Pikirnya pasti tak jauh-jauh dari curhat. Aku tak membuang waktu. Langsung menghubunginya, meminta untuk ketemu di luar. Ternyata dia menolak. Ku bujuk untuk tetap ketemu di luar dan ku jelaskan kenapa aku enggan ke kampus. “Lit. Kamu menemuiku di kantin, atau kita tak pernah ketemu. Percayalah, kamu aman.” Jawabnya melalui chat. Aku tak lekas menjawabnya. Ternyata benar kabar yang beredar, Din paling anti diajak ketemu di luar kampus. Dengan keberanian yang kuat demi semua ketakutanku hilang, maka ku putuskan ketemu dia di kantin. “Nah benar kan semua baik-baik saja?” ucapnya ketika aku menemuinya. “Lihat sekitarmu!” perintah Din. Aku tak membantah. Tak ada yang mencurigakan atau pun sosok Kak Nando. “Mereka membuatmu jijik?” tanyanya kemudian.Ini sepertinya sudah dalam tahap konsultasi. Aku mengikuti alurnya. Tentu saja tidak, mereka tak melakukan hal buruk denganku. “Aku tak kenal mereka Din.” Jawabku. “Padahal mereka bisa saja melakukan hal buruk padamu dan tak perlu menganggapmu ada lagi di kehidupan mereka.” Ucap Din. Aku tak mengerti maksudnya. “Sudah lama kenal Nando?” tanyanya. “Ya sejak aku ikut UKM itu Din.” Jawabku. “Berarti sangat mungkin dong dia punya niat melakukan hal buruk terhadapmu?” ucapnya meminta pendapatku. “Tentu saja.” Jawabku. “Baiklah Lit. Begini, dia saja tak begitu serius menghubungimu. Cuma sekali dan memastikan kamu datang atau tidak. Kamu tak menjawab dan dia tak mengejarmu. Padahal dia bisa saja berantem sama temannya karena dianggap ingkar janji.” Jelasnya. “Tabiat Nando buruk, dan ke kamu, inilah tabiat terburuknya. Tapi pernahkah kamu berfikir, di balik semua itu, dia butuh disayangi?” Sambung Din. “Aku tak akan membenarkan bentuk pelecehan apa pun. Tapi kamu telah diberi kesempatan oleh Tuhan mengenalnya dari hal paling buruk. Bisa jadi teman-temanmu yang lain tidak mengalaminya. Bukankah lebih baik kamu tahu lebih cepat tentangnya. Kenapa kamu malah takut, harusnya lebih berani. Buktikan, tanpa campur tangan dan cara kotornya itu, kamu layak mendapat peran terbaik di UKM itu.” Ucap Din. Aku terdiam, berusaha mencerna setiap kata yang diucapnya. Terasa mendamaikan, tapi hati kecil masih menolak. Terlalu mudah untuk diucapkan tapi sulit dilakukan. “Lit. Aku tahu ini bukan pekerjaan mudah. Tapi bukankah kamu sudah mengalami kesulitan yang luar biasa bergabung di UKM itu. Kamu sendiri yang cerita, pertemananmu dengan Lisa harus terkorbankan. Lihat! Kamu ternyata kuat kan selama ini? Sudah sejauh ini nyebur di UKM, kenapa gak coba mengadu kekuatan lebih untuk hal pahit ini?” Din memberi pilihan. “Benar kamu Din.” Aku sependapat dengan ucapannya. “Lit. Semakin kamu merasa kuat, Tuhan juga menguji kekuatanmu. Jika kamu terus bisa membuktikannya, maka bukan mustahil Tuhan memberimu kekuatan lebih besar lagi.” Nasehatnya. Aku mengucapkan terima kasih untuk semua nasehatnya. Dan pada semester berikutnya, ucapan Din tak ada yang meleset. Aku bahkan menerima secepat yang ku duga. Awal masuk semester 2, aku mendapatkan kesempatan menjadi pemeran utama cerita Kartini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waalaikum Salam New Normal

Pandemi Selimuti Janji Suci

Caraku Melepasmu