Cinta Yang Menyakitkan (Part 4)

Selama dua belas jam lebih perjalanan ditempuh Amir hingga tiba di Stasiun Babat, Jawa Timur. Bersamaan dengan penumpang lainnya, ia berdesakan keluar gerbong kereta. Karena tidak butuh waktu lama untuk kereta berhenti dan kembali melanjutkan perjalanan. Ada seorang perempuan tua terlihat hati-hati menuruni tangga gerbong yang jaraknya cukup tinggi dari lantai peron. Bagi penumpang dengan barang bawaan yang melebihi kesanggupannya menggunakan jasa panggul di stasiun. Mereka sigap dengan pekerjaannya, kebiasaan setiap hari membuat beban itu terasa ringan. Hamparan hijau langsung menyapa di antara sambungan rel kereta yang memanjang. Lampu peron masih menyala tanda pagi belum sepenuhnya menyapa. Petugas berseragam biru tua mengurai senyum dengan badan tetap tegak berdiri di posisi masing-masing. Penumpang yang tadi berjubel keluar teratur menuju arah pintu keluar. Usai melewati pos pintu keluar stasiun, Amir sudah disambut kakak ipar yang menjemputnya, Awi namanya. Lelaki yang bersedia menjemput setiap kali dirinya datang. Kebetulan hari itu, kakak iparnya tersebut sedang libur dan berada di rumah. Pada hari kerja, Awi kerja sebagai kontraktor di Surabaya. Seperti biasa, kacamata hitam dan topi melingkar di kepalanya. Amir hafal betul kegemaran kakak iparnya tersebut. “Sudah nunggu lama mas?” sapa Amir. “Baru saja sampai, ayo,” Amir pun langsung naik di boncengan. **** Udara dingin masih menembus jaket tebal yang dikenakan Amir. Lamongan memang sebuah kabupaten yang terbilang memiliki suhu ekstrim, khususnya di daerah Amir. Apabila malam hingga pagi hari, udara dingin sampai menusuk tulang. Sedangkan ketika matahari tepat di atas kepala, panas menyengat dan hempasan udara panas bertiup. Tangannya lalu menaikkan penutup kepala yang menyatu dengan jaket yang dipakainya. Sepanjang berjalanan keduanya tidak banyak obrolan. Amir lebih tertarik untuk melihat hamparan sawah dan perbuktian. Kepulangannya bertepatan dengan musim padi mulai berbuah. Embun terlihat memantulkan cahaya di balik dedaunan padi yang basah. Aktivitas petani perlahan mulai terlihat. Gubuk tak berdinding menjadi pemandangan lain yang tak kalah menarik. Burung bangau terbang rendah merangsek masih ke persawahan mencari makan. Sesekali melintas tikus sawah yang berjalan penuh waspada. Melintasi rumah warga, lampu jalan mulai dipadamkan. Pintu rumah dibuka setengah, dan muncul penghuninya dengan daster berwarna cokelat muda. Rambutnya sekedar diikat pakai karet. Wajahnya terlhat baru bangun tidur. Sebagian penghuni rumah lainnya ada yang sudah rajin memecah balok kayu di depan rumahnya. Ada juga yang mulai mengeluarkan botol berisi bensin untuk diperdagangkan. Sepeda onthel melintas di depannya, menyisir modernitas mesin yang bising. Seorang perempuan berpakaian tertutup sedang membonceng anaknya sambil membawa rantang makanan. Amir menebak kedua orang tersebut akan mengirim makanan untuk kepala keluarganya yang sudah bergulat dengan kantor lumpurnya. “Bagaimana kuliahnya?” setelah kebekuan yang panjang, Awi membuyarkan lamunan Amir. “Biasa mas, lancar dna mudah-mudahan nilainya bagus,” jawab Amir. “Emak sudah masakin sayur asem kesukaanmu,” ujar Awi. Mendegar kabar baik tersebut membuat Amir tersenyum dan membayangkan betapa segarnya ketika ia sarapan. Perutnya mendadak lapar lebih awal. Ibunya memang jago memasak, baginya dapur adalah hidup dan matinya. Dapur adalah wujud kasih sayangnya kepada keluarganya. Dapur juga merupakan roh kehidupan sebuah keluarga bisa tumbuh dan berkembang hingga membentuk anak-anaknya sarjana. Amir seakan lupa dengan tujuan awalnya pulang ke rumah. Kesedihannya teralihkan sejenak ketika disambut hangat oleh keluarganya. Di rumah, kakak pertamanya terlihat baru saja pulang dari Sendang (pemandian umum) menggendong cucian. Handuk melingkar di kepala dan keranjang sabun di tangan kiri. Sedangkan bapaknya terlihat duduk telanjang dada di bangku panjang depan rumahnya. Pemandangan itu yang selalu Amir rindukan ketika pulang ke rumah. Pemandangan yang tak pernah ia lihat di metropolitan. Sebuah kesederhanaan. Menghampiri ibunya yang sedang memasak di dapur, Amir meraih tangan Emak Ani. Ia tidak peduli bahwa telapak tangan ibunya ternoda pantat wajan. Ia tetap hormat pada ibunya, hal yang jarang lagi ia lakukan mengingat sekarang ia menimba ilmu di Jakarta. Asap mengepul dari Pawon (kompor berbahan tanah liat) memenuhi ruangan dapur. Api perlahan membakar kayu yang diumpankan. Bunyi air mendidih terdengar di telingannya tanda Sayur Asem siap dihidangkan untuknya. Sehari berlalu. Kehangatan keluarga tampaknya mulai terbiasa dengan kehadirannya. Maka kini giliran Amir untuk memikirkan tujuan selanjutnya, yaitu datang menjenguk Lala. “Waalaikum salam,” Ibunya Lala tampak sumringah melihat kedatangan Amir. Amir bersama Farikha mengunjungi Lala di rumah sakit. Tubuh terbaring lemas langsung bisa ia saksikan. Dadanya mendadak nyeri kembali. Padahal sejak perjalanan ke rumah sakit, Fariha sudah mengingatkan kalau dirinya harus siap melihat kondisi Lala yang memprihatinkan. Wajah cantik yang dulu dikenalnya berubah total. Sekarang pucat dan pipinya tirus, lebih tepatnya kempot. Ia memandang ibunya Lala untuk mendengar penjelasan lebih banyak. Bude widya, sapaan akrab ibunya Lala, mengajak Amir duduk di kursi depan ruangan. Selama seminggu di rawat, Lala selalu menyebut namanya. Terakhir, tepatnya tiga hari lalu ia menemukan sebuah foto hitam putih yang biasa digunakan untuk ijazah di balik kasur di kamar Lala. Ia kemudian menghubungi Fariha untuk mendengarkan lebih jelas siapa sosok di balik foto itu. Sebenarnya, Bude Widya kerap mendengar sindiran dari teman sekampung Lala soal Amir, tetapi ia tak menghiraukan. Baginya, anaknya sudah memasuki usia remaja, pantas saja kalau ia memiliki pacar. Ya, meskipun ia belum tentu setuju dan lebih memilih lelaki yang sudah mapan untuk dinikahkan dengan putrinya kelak pasca lulus SMA. Sayang, waktu itu Lala mendesak Bude Widya untuk mengizinkan kuliah terlebih dahulu. Lelaki yang dijodohkan juga masih merantau ke Malaysia. Kondisi itu membuat Bude Widya akhirnya mengizinkan Lala kuliah terlebih dahulu. Ia senang, ketika kuliah tak mendengar anaknya memiliki tambatan hati. Entah karena setuju dengan perjodohan yang dirancangnya atau memang tidak ada lelaki yang menarik hatinya. “Bude berfikir, Lala baik-baik saja,” suaranya lemah. Amir yang menyimak cerita tersebut baru tahu bahwa proses perjalanan Lala sedemikian cantik dirancangkan oleh ibunya. Setelah lulus SMA, dirinya memang tak lagi berhubungan dengan Lala. Kerikil tajam yang pernah menghampiri hidupnya waktu SMA juga merenggangkan persahabatannya dengan Fariha dan yang lain. kepergiannya ke Jakarta seperti ia lahir kembali ke dunia sebagai jiwa yang baru. Tapi hari itu tidak, ia dipaksa mengenang semua kisah asmara dan kepahitan masa lalunya. “Bude, Amir, Lala bangun,” Fariha menginterupsi obrolan dua orang berbeda generasi tersebut. Suara lemah terdengar dari bibirnya. Amir tak bisa menahan iba dengan apa yang dilihatnya. Namun meskipun demikian, ia masih menahan butiran bening di pupil matanya untuk tidak jatuh. Amir menggenggam erat jemari Lala yang lemas. “Mir, ma.. maaf..in ak..aku” suaranya benar-benar lemah. Amir hanya mampu mengangguk, ia takut kalau berbicara malah terdengar ingin menangis. Segala upaya ditahan demi menjaga perasaan Lala dan mamanya bahwa dia tegar menghadapi kenyataan ini. Lala kembali tak sadarkan diri, tetapi kali ini tubuhnya semakin tidak berdaya. Tekanan darahnya semakin rendah. Hal yang sangat dikhawatirkan itu pun terjadi. Genggaman tangan Lala lepas di jemari Amir. Nafasnya terhenti. “Lalaaa... bangun!!!” teriaknya kini tak lagi mampu membendung deru air mata. Ia lupa kalau tadi berjanji akan berlaku tegar. Perempuan yang amat dicintainya benar-benar telah pergi untuk selamanya. Dokter sudah tidak bisa membantu banyak. Keberangkatan Amir ke Lamongan dari Jakarta sebenarnya sudah menjadi masa kritis bagi Lala. Bahkan ketika Fariha mengirimkan pesan itu, dokter sudah putus asa dengan kesempatan hidup Lala. Tetapi, entah keajaiban apa yang datang, Lala paginya kondisinya membaik. Sayang, kondisi itu hanya sementara untuk menunggu seseorang yang selama ini juga sangat dicintainya. Bude Widya dan Fariha juga turut larut dalam kesedihan yang sama. kehilangan orang yang sangat mereka sayangi. Waktu memang tidak bisa diulang, aturan main waktu adalah sedetik saja melewatkan masa itu, maka kamu tidak akan mampu kembali ke masa sebelumnya. Berbagai penyesalan menjadi tiada arti. Kenapa cinta begitu menyakitkan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waalaikum Salam New Normal

Pandemi Selimuti Janji Suci

Caraku Melepasmu